Mbah Lasiyo, Sang “Profesor Pisang” dari Bantul


Mediatani – Gelar satu ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata, karena tidak sembarang orang dapat memilikinya. Biasanya gelar profesor ini, dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidupnya dalam bidang riset dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Memang pada umumnya gelar yang satu ini adalah gelar yang identik dengan orang-orang akademis. Tapi pernah kah kalian mendengar gelar yang satu ini, “profesor pisang”. 

Mungkin sempat tidak terpikir bahwa gelar ini ada, tapi seorang pria bernama Lasiyo asal Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta adalah pemilik dari gelar ini, Lasiyo profesor pisang.

Kalau Sobat Mediatani berpikir gelar profesor pisang ini Lasiyo dapatkan secara akademis, jawabanya bukan. Gelar ini Lasiyo dapatkan karena pencapainya terhadap dunia pertanian khususnya tanaman pisang. Semua berawal ketika gempa 5,6 skala Richter melanda Yogyakarta pada tahun 2006 silam yang juga menghancurkan rumahnya.

Bangkit dari Keterpurukan

Mbah Lasiyo memilih budidaya pisang karena dianggap lebih mudah

Pada waktu itu, banyak orang menderita dan hidup dengan penuh ketidakpastian. Oleh karena itu tercetus idenya untuk melakukan budidaya tanaman pisang. Seiring waktu, dia akhirnya menemukan obat anti hama pisang dari bahan organik dan obat perangsang pisang agar cepat berbuah.

IKLAN

Alasan Lasiyo memilih pisang sebagai obyek budidaya sebenarnya cukup sederhana. Menurutnya, budidaya pisang itu cukup mudah, bibitnya murah, dan di mana-mana bisa ditanam.

Namun idenya itu baru bisa direalisasikan pada akhir 2007. Pada waktu itu, Lasiyo mendapat bantuan pembelajaran dari pemerintah.

Dari sanalah, ia mengajukan diri untuk mendapatkan pembelajaran tentang budidaya pisang mulai dari proses pembibitan, pemberantasan hama penyakit, pasca panen, pengolahan, dan pasca pemasaran. Dalam program itu, ia mengajak masyarakat untuk ikut serta.

“Semua ini dilakukan bukan untuk mencari ini dan itu. Namun sebagai usaha untuk kehidupan kita yang terus berlangsung. Jadi kita tidak keterlaluan menggantungkan bantuan pada siapapun andaikata kita punya tabungan tanaman yang hidup, bisa berbuah, dan bisa dimakan,” jelas Lasiyo.

Sering Bereksperimen

Berbagai eksperimen yang dilakukan Mbah Lasiyo

Dalam melakukan budidaya pisang, Lasiyo menggunakan bahan alami seperti pupuk organik, pestisida alami, dan agen hayati. Namun dalam menggunakan bahan alami itu, Lasiyo harus melakukan berkali-kali uji coba untuk mendapatkan komposisi bahan yang terbaik. Biasanya, ia melakukan uji coba sebanyak tujuh kali sampai kemudian mendapatkan hasil yang bagus.

“Saya sering mencoba inovasi dan kalau mencoba itu tak cukup satu sampai dua kali. Tapi kalau saya mencoba untuk membuat pestisida alami itu sampai tujuh kali. Percobaan pertama sampai keenam mungkin belum begitu pas. Tapi setelah ketujuh ke atas bagus. Karena kalau mencoba produk apapun, minimal tujuh kali. Setelah yang ketujuh itu lebih istimewa,” ujar Lasiyo.

Menggunakan Pestisida Alami

Mbah Lasiyo menggunakan pestisida alami untuk budidaya pisangnya

Lasiyo mengatakan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pestisida alami berasal dari tanaman yang ia tanam sendiri. Bahan-bahan itu di antaranya, umbi temu ireng, temulawak, daun misoni, daun sambiloto, dan daun pepaya.

Bahan-bahan itu kemudian dipotong kecil-kecil dan kemudian direbus. Air dari hasil rebusan itu kemudian difermentasi selama tiga bulan. Setelah itu air fermentasi itu disaring dan digunakan untuk proses pembibitan.

Dalam menemukan metode itu, Lasiyo mengaku tidak mendapatkan referensi dari buku manapun, melainkan murni berasal dari buah pikir Lasiyo sendiri.

“Pestisida alami itu lebih alami, ramah lingkungan, murah, dan hasil pisang yang diproduksi nantinya lebih menyehatkan,” terang Lasiyo dikutip dari YouTube Net Biro Yogyakarta.

Ke Negeri Pizza

Mbah Lasiyo diundang ke Italia untuk menghadiri Seminar Internasional

Atas jasanya dalam menemukan metode alami budidaya pisang itu, Lasiyo diundang ke Italia untuk menghadiri Seminar Internasional di sana. Lasiyo menjelaskan, ia bisa diundang ke sana untuk mewakili Indonesia karena memperlakukan tanaman pisang dengan metode yang berbeda dari pada yang lain.

“Saya itu tidak menyangka dan tidak mengira. Ternyata saya itu diteliti oleh orang-orang lain bahwa Mbah Lasiyo itu tukang uji coba. Jadi saya melakukan uji coba dengan tekun dan sabar. Maka dari itu saya dijuluki profesor pisang,” kata Lasiyo.

Penemuan pengolahan tanaman pisang secara alami itu kemudian ditularkan pada masyarakat setempat. Tak hanya itu, Lasiyo bersama warga mengolah pisang dari kebunnya itu menjadi makanan olahan yang lebih tahan lama.

Salah satunya, bonggol pisang yang biasanya dibuang, mereka manfaatkan menjadi makanan yang lezat dan bergizi. Selain itu, ada pula jenang pisang dan beragam produk olahan yang lain.