Peduli Kesuburan Tanah, Perempuan Ini Lebih Untung Bertani Organik

Foto: Juwariyah, Petani Organik dari Kota Lumajang

Mediatani – Di Kota Lumajang, kita akan melihat sawah berwarna hijau yang masih terhampar luas. Segar, alami, diapit dengan berbagai bangunan megah di sampingnya.

Jika terus melaju ke Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono, berhektare sawah dengan tanaman padi juga masih bisa dijumpai. Bahkan, sebagian dari hasil pertaniannya pun organik.

Dari sekian petakan sawah tersebut, salah satunya milik Juwariyah. Petani organik yang masuk dalam kelompok tani Alam Subur di Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono.

Juwariyah menceritakan bahwa dirinya sejak tahun 2015 sudah berkecimpung di tanaman organik, terutama tanaman padi.

Juwariyah tetap memilih bertani organik, meskipun saat ini petani lainnya masih bertahan bercocok tanam dengan menggunakan zat kimia atau non organik, Juwariyah pun mengungkapkan berbagai alasan memilih pertanian yang mulai tak diminati itu.

IKLAN

“Yang pertama pastinya lebih sehat, bagi kita yang mengkonsumsinya. Yang kedua, lebih murah dibanding kalau kita harus membeli pupuk-pupuk kimia,” terang Juwariyah.

Di saat petani bingung karena pupuk kimia yang sulit didapatkan, Juwariyah tak punya keluhan sedikit pun. Sebab mendapatkan pupuk organik jelas jauh lebih mudah.

Meski demikian, peralihan dari non-organik ke organik juga tak sepenuhnya mudah bagi perempuan yang murah senyum ini. Salah satunya dalam hal profit atau hasil pertanian. 

Katanya, keuntungan awal yang dihasilkan tak begitu signifikan. Namun setelah terus menerus, hasil panen yang didapatkan ternyata jauh lebih tinggi.

“Kalau kimia tok, itu 1 hektare hanya 4,5-5 ton. Namun kalau kita organik, lama kelamaan kan meningkatkan kesuburan tanah, hasilnya bertambah sekitar 1-2 ton per hektare (total hasil panen 1 hektare sawah menjadi sekitar 7 ton, red),” tambahnya.

Wanita berhijab ini kemudian mengungkapkan kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki pertanian organik. Seperti beras menjadi lebih pulen jika ditanak, kemudian bobot beras lebih berat.

Perempuan yang juga merupakan koordinator penyuluh petani ini berharap, petani-petani di Lumajang beralih ke pertanian organik. Sebab, lahan pertanian saat ini sudah mulai rusak, karena kebanyakan bahan kimia.

“Alam kita sudah terkontaminasi banyak dengan bahan-bahan kimia. Akhirnya nanti tanah kita jadi tidak subur lagi. Tapi dengan menjadi petani organik, kita juga sebagai pahlawan mengembalikan kesuburan tanah yang ada di alam kita,” tutupnya.