Sebelum Diserang Tikus, Petani Sragen Menyerang Duluan

Mediatani – Di tengah sawah yang berada di wilayah Dukuh Randusari, Pengkok, Kedawung, Sragen, tampak puluhan warga sedang berkeruman. Mereka membawa tongkat dari kayu dan bambu serta membawa linggis. Ada pula yang membawa ember dan sak bekas wadah pupuk. Mereka tak melakukan aksi unjuk rasa tetapi aksi gropyokan tikus, Jumat (24/7/2020) pagi.

Aksi gropyokan tikus itu sudah berjalan tiga pekan terakhir dan dilakukan bersama-sama setiap Jumat pagi. Jumat pertama (10/7/2020) lalu tak dihitung hasil tikus yang tertangkap. Pada Jumat kedua (17/7/2020) lalu berhasil menangkap 3.500 ekor. Kemudian pada Jumat ketiga ini berhasil menangkap 5.755 ekor.

Serentak, dalam tiga kebayanan yang dibentuk di wilayah Pengkok itu untuk menangkap ribuan tikus. Satu kebayanan dipimpin seorang koordinator dengan lokus gropyokan yang sudah ditentukan. Sasaran gropyokan lahan pertanian seluas 350 hektare yang sudah terserang hama tikus. 

Selain petani, para remaja dan pemuda juga ikut berjibaku mencari lubang tikus. Pasalnya, mereka dihargai dengan uang Rp2.000/ekor.

Saat tikus keluar, mereka beramai-ramai memukul. Ada pula yang menubruk tikus itu dan setelah tertangkap kemudian dibanting. Hal itu sebagai wujud kekesan para petani terhadap hama tikus. Namun, ada pula yang sudah berhasil tertangkap lalu lepas lagi dan masuk ke sela-sela bongkahan tanah.

IKLAN

Salah seorang pemuda, Andi Pratama (18), bersama tiga orang pemuda lainnya bermodal tongkat dan sak bekas wadah pupuk ikut mencari tikus demi mendapatkan uang, “Jumat lalu hanya dihargai Rp1.000/ekor. Sekarang naik jadi Rp2.000/ekor. Kalau tahun lalu hanya dapat 13 ekor. Ini sekarang sudah dapat lebih dari 13 ekor. Uangnya nanti dibagi rata,” ujar Andi.

Bupati Ikut Berbaur

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati ikut berbaur dengan warga untuk bersama-sama membasmi tikus. Yuni, sapaan akrabnya, ikut membawa tongkat untuk memukul tikus. Awalnya stimulan yang diberikan hanya Rp1.000/ekor.

Untuk menambah semangat, Yuni menambah Rp1.000/ekor sehingga harga tikus hasil tangkapan dinilai Rp2.000/ekor. “Ini saya tambahi Rp1.000/ekor biar petani dan warga semangat. Kalau Jumat lalu dapat 3.000-an ekor maka pada Jumat ini mestinya bisa sampai 6.000-an ekor,” kata Yuni.

Petani asal Dukuh/Desa Pengkok RT 010, Sadi, 60, bersama keempat temannya sibuk mencari tikus dengan modal tongkat dan sak juga. Kendati ada kunjungan Bupati, mereka tak menggubris karena fokus mencari tikus sebanyak-banyaknya. 

“Jumat lalu dapat 200 ekor. Hari ini harus lebih dari 200 ekor karena nilainya lebih tinggi. Kalau Jumat pertama tak dihitung karena tak ada nilainya,” ujar Sadi.

Sekitar satu jam berjalan, tikus tangkapan Sadi dihitung Kepala Desa Pengko Sugimin Cokro bersama Bupati dan hasilnya mendapat 35 ekor. Beberapa petani lain memeriksa tikus-tikus untuk mencari tikus betina. 

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sragen Joko Sutejo mengambil satu ekor tikus yang mati dan memeriksa jenis kelamin tikus.

“Ini hlo Bu. Kalau perempuan ada putingnya dan jumlahnya enam. Jadi perkembangbiakan tikus itu sudah luar biasa,” ujar Joko saat menunjukkan tikus betina kepada Bupati.

sumber: solopos. com