30 Ton Cabai Petani Dibeli Bulog Sumut

81
views

MediaTani – Badan Urusan Logistik (Bulog) Sumatera Utara terus membeli cabai produksi kelompok tani di Kabupaten Batubara sebanyak 30 ton, untuk menekan anjloknya harga jual komoditas tersebut.

Ilustrasi: Cabai merah

“Pembelian dilakukan dengan menggunakan dana anggaran Komersil Bulog yang dikucurkan Pusat. Setelah Batubara, Bulog akan masuk membeli ke petani Simalungun dan Karo yang di¬informasikan harga cabainya juga anjlok,” kata Humas Bulog Sumut, Rudi Adlyn, di Medan, Kamis.

Pembelian dilakukan untuk menolong petani dari terus anjloknya harga cabai itu me¬nyusul lagi panen besar di sejumlah sentra.

“Aksi Bulog itu nyatanya sudah membuahkan hasil. Harga cabai sudah mulai begerak naik di pasar atau sekitar Rp18.000 – Rp20.000 per kg,” katanya.

Ia mengakui, pembelian di¬¬lakukan ke daerah yang sudah memiliki kelompok tani dengan perhitungan untuk me¬mudahkan transaksi jual-beli. Hasil pembelian Bulog itu sendiri dipasarkan ke konsumen langsung ke berbagai daerah seperti Gunung Sitoli, Nias, Sibolga, Jakarta dan bahkan akan dijual ke Pekanbaru dan Sumatera Barat. Pemasaran ke Jakarta misal¬nya sudah ada sebanyak 5 ton.

“Bulog akan terus melakukan pembelian cabai sampai harga komoditas itu normal di pasar maupun di petani,” katanya.

Untuk kepentingan bisnis itu sendiri, Bulog sudah me¬nyewa gudang pendingin.

“Se¬bagai perusahaan BUMN, Bulog tentunya juga mengambil margin, walau tidak besar. Bulog bisa ambil untung karena penjualannya bisa langsung ke pasar setelah membeli dari petani,” ujar Rudi.

Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sumut, Bondaharo Siregar menyebutkan langkah pembelian cabai petani itu atas instruksi Gubernur Sumut H Gatot Pujo Nugroho. Langkah membeli hasil panen Itu dengan meminta Bulog melakukannya, merupakan ke¬pedulian Pemprov Sumut kepada petani yang sedang panen, tetapi harga jual sebalik¬nya turun.

Pemprov Sumut melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), katanya, berusaha terus menekan angka inflasi. Pada 2015, angka inflasi Sumut diharapkan jauh di bawah 2014 yang sebesar 8,17 persen. (JA)