BATAN Kembangkan Tekhnologi Untuk Meningkatakan Mutu Bahan Pangan

Nuklir Untuk Tanaman Pangan
MediaTani – BATAN sedang membangun reaktor nuklir di Serpong. Reaktor
nuklir ini rencananya akan mulai beroperasi pada tahun 2019. Menteri Ristek dan
Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan iradiasi menjadi salah satu teknik
dari pemanfaatan teknologi nuklir yang sudah digunakan Batan untuk meningkatakan
mutu bahan pangan. Penerapan teknik ini mampu membuat makanan seperti rendang,
buah-buahan, dan makanan kering dapat lebih tahan lama dan lebih steril.

Manfaat dari teknologi nuklir seperti ini, kata Nasir,
kurang diketahui dan dipahami masyarakat. Proses fisika yakni dengan radiasi
berenergi tinggi mampu mengawetkan sekaligus meningkatkan keamanan bahan
pangan. Sumber radiasi yang dapat dimanfaatkan untuk proses pengawetan bahan
pangan yakni Co-60 dan Cs-137 yang masing-masing menghasilkan sinar gamma,
mesin berkas elektron, dan mesin generator sinar-X. Energi yang dihasilkan dari
keempat sumber radiasi tersebut mampu menghambat tunas dan pematangan serta
membasmi serangga (dosis rendah) dan membunuh mikroba patogen (dosis sedang),
serta membunuh seluruh jenis bakteri yang ada (dosis tinggi).
Untuk mendukung ketahanan dan kemandirian pangan, tidak
kurang dari 20 varietas padi unggul yang memiliki umur produksi lebih singkat
dan tidak mudah terserang hama telah dihasilkan oleh peneliti-peneliti dari
kelompok pemuliaan tanaman padi di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi
Batan. Menurut Menristek, 40 persen petani di Jawa Barat sebenarnya sudah
menggunakan bibit padi sidenuk dari Batan, namun memang mereka tidak menjual
hasilnya dengan nama yang sama. Mereka sengaja menggunakan nama berbeda untuk
meningkatkan nilai jual, karena itu terkesan varietas padi dari Batan ini tidak
berhasil.
Satu pekan lalu Batan juga meluncurkan dua varietas unggul
kedelai hitam hasil dari teknik radiasi, yakni Mutiara 2 dan Mutiara 3.
Keunggulan varietas ini berukuran dua kali lipat dari rata-rata kedelai unggul
nasional, selain itu mampu menghasilkan maksimal tiga hingga 3,2 ton per ha.
Namun demikian, saat ini reaktor serba guna di Puspiptek
Serpong hanya dipergunakan untuk menghasilkan radioisotop sehingga hanya
dimanfaatkan untuk menghasilkan daya 10 MW. Berkurangnya PT Industri Nuklir
Indonesia (Persero) memproduksi radioisotop untuk medis mempengaruhi
pemanfaatan kapasitas reaktor di Puspiptek Serpong.
“Batan harus bisa menaikkan kemampuan radioisotop untuk
riset pangan dan kesehatan supaya bisa menaikkan pemanfaatan kapasitas reaktor
menjadi 30 MW. Tapi semua memang tergantung permintaan, kalau memang permintaan
terbatas ya kapasitas reaktor tidak bisa dinaikkan, baik yang ada di Serpong
maupun di Bandung,” ujar dia.
Pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kesehatan cukup
krusial. Radioisotop selama ini digunakan untuk keperluan mendiagnosis dan
terapi penyakit seperti kanker, jantung, ginjal, dan tiroid. Sebagai lembaga
penelitian dan pengembangan, Nasir mengharapkan Batan terus melakukan berbagai
riset yang mampu menghasilkan inovasi-inovasi baru guna memaksimalkan manfaat
teknologi nuklir. Pemanfaatan radiasi guna mempercepat penuaan batu topaz
berwarna putih sehingga merubah warna menjadi biru untuk dimanfaatkan sebagai
perhiasan dianggap sebagai salah satu contoh pemberian nilai tambah positif
dari teknologi nuklir yang terus harus bisa dikembangkan.