Diserang Penyakit Blast, 500 Petani di Kaubun Gagal Panen

Kutai Timur mediatani.comHasil panen yang melimpah di awal tahun ini adalah impian semata bagi 20 kelompok tani di Desa Bumi Rapak Kecamatan Kaubun, Kutai Timur.

Gejala Penyakit Blas pada daun padi

Ini lantaran lahan sawah seluas 500 hektar yang telah ditanami padi sejak November lalu mendadak terserang penyakit blas (Pyricularia oryzae Cav). Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea Sacc yang merusak tidak hanya pada batang dan daun saja, namun juga hingga mencapai akar. Sehingga, perkembangan tanaman padi pun terganggu, bahkan ada yang mulai mati.

Salah seorang Ketua Kelompok Tani dari kelompok Tani Buana Sari, Kadek Gina mengatakan, seharusnya musim penghujan tanaman padi petani tumbuh subur dan berkembang semakin bagus.

Penyakit blas pada padi atau biasa disebut warga dengan penyakit merah secara perlahan dampak kerusakannya mulai terlihat pada tanaman. Dampak penyakit blas tersebut sangat jelas terlihat pada tanaman padi. Mulai dari akar sampai daun bisa terlihat merah seperti bercak atau sekalian panjang.

“Sedikitnya ada 20 kelompok tani yang merasakan hal yang sama yakni tanaman padi sawahnya terserang penyakit merah,” ujar Kadek, seperti diberitakan Bontang Post.

Dia menuturkan, dampak penyakit merah tersebut tidak hanya membuat padi kurus hijau kekuningan saja, namun juga berdampak pada pertumbuhan padi.

Pasalnya, padi yang seharusnya sudah mendekati masa panen, terlihat kerdil dan tidak subur. Parahnya, akar padi yang berada didalam tanah juga ikut membusuk karena pengaruh penyakit yang menyerang tersebut.
”Saat ini sudah ada sebagian padi yang mati. Kalau terus dibiarkan tanpa bantuan pemintah bisa saja semuanya mati. Kalau begitu, pasti rugi besar petani,” sebutnya.

Kadek mengakui, pada musim tanam tahun sebelumnya bantuan dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutim memang pernah ada. Yakni dengan memberikan pengobatan terhadap penyakit yang menyerang padi warga tersebut. Namun, kondisi serupa kembali menyerang tanaman petani.

“Kita harap pemerintah melihat lagi ke tempat kami untuk mencarikan solusi agar padi yang kita tanam dapat terselamatkan. Cuma itu harapan kita saat ini,”pintanya.(mediatani.com/dyj/jpnn)