Home / Inspiratif

Selasa, 9 Juni 2015 - 16:38 WIB

Ekspor Buah Manggis Ke China Kembali Menggeliat

Seorang Pedagang Buah Manggis Mengumpulkan Dagangannya Di Atas Pick-Up

MediaTani – Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Diperta) Jawa Barat menyatakan ekspor manggis ke China kembali menggeliat.
Kondisi ini dipacu para eksportir yang sudah mengikuti aturan distribusi produk ekspor hortikultura bebas pestisida ke China yang diberlakukan akhir 2013 lalu.

Kabid Produksi Hortikultura Diperta Jabar Obas Firmansyah menjamin petani manggis di kawasan ini tidak memproduksi manggis menggunakan pestisida.

“Biasanya eksportir yang menyemprot pestisida untuk menghindari semut saat dalam perjalanan,” kata Obas kepada Bisnis, Selasa (2/6/2014).

Obas mengatakan mulai Maret 2014 setidaknya setiap bulan 2-3 ton manggis sudah mulai dikirim kembali ke China setelah Diperta mensosialisasikan kepada para petani dan eksportir untuk tidak menggunakan pestisida.

Baca Juga :   Proses Tender Di Kementerian Pertanian Bakal Berubah

Obas mengatakan sekitar 80% produk manggis yang diekspor dari Indonesia berasal dari Jabar, yang dihasilkan dari beberapa wilayah antara lain Sukabumi, Tasikmalaya, dan Purwakarta.

“Manggis Sukabumi misalnya, sudah banyak diekspor ke negara-negara Asia Timur terutama China untuk diolah menjadi obat, sirup, dan bahan kosmetik,” kata Obas.

Dia menyebutkan harga ekspor manggis bisa mencapai di atasRp20.000/kg, sementara untuk pasar lokal Rp15.000/kg.

Selain manggis, Jabar pun mengekspor buah mangga seperti jenis arum manis serta sayuran. Total ekspor produk hortikultura asal Jabar rata rata 30-35 ton/bulan.

Sementara pada tahun ini, Disperta menargetkan kenaikan sekitar 12% dibanding periode sebelumnya.

Baca Juga :   Pemkot Riau Akan Bangun SMA Pertanian

Secara terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat nilai tukar petani (NTP) subsektor hortikultura naik sebesar 1,28% dari 106,63 menjadi 108,00.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar Dody Gunawan Yusuf mengatakan kenaikan tersebut dipacu indeks diterima petani (IT) yang naik 1,46% lebih tinggi dibandingkan indeks dibaya petani (IB) sebesar 0,17%.

“Naiknya pendapatan petani hortikultura dipacu kenaikan IT subkelompok tanaman obar sebesar 2,49%, IT subkelompok buah-buahan 1,68%, serta subsektor sayuran 1,16%,” ujarnya.

Dari sisi pengeluaran, katanya, pada IB juga terjadi kenaikan sebesar 0,17% dipacu indeks konsumsi rumah tangga naik 0,16% serta indeks biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,12%.
(BISNIS)

Share :

Baca Juga:

Inspiratif

Macam-macam Media Tanam Hidroponik

Inspiratif

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian UGM Raih Adhikarya Pangan Nusantara 2014

Inspiratif

Klarifikasi Menteri Pertanian Terkait Penarikan Traktor di Ponorogo

Inspiratif

Mentan Ajak Bank BUMN Untuk Kerjasama Bantu Kredit Petani

Inspiratif

Abu Raung Rusak Tanaman, Petani Bersedih Saat Lebaran

Inspiratif

Cara Menanam Hidroponik Sederhana di Pekarangan

Inspiratif

Bermodalkan Rp 1000, Kakek Ini Jadi Jutawan

Inspiratif

Kekurangan SDM Penyuluh Bukanlah Hambatan di Balangan