Hadapi El Nino Petani Dihimbau Menanam Tanaman Umur Pendek

55
views

MediaTani – Gelombang panas El Nino akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Para petani yang lahannya kemungkinan terkena El Nino diimbau untuk waspada dan menanam tanaman yang pendek umurnya.

Pasang iklan

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Yohanes Tay Ruba mengatakan, sebanyak 17 dari 22 kabupaten di daerah berbasis kepulauan itu setiap tahunnya dilanda gelombang panas El Nino sehingga harus selalu diwaspadai.

Kewaspadaan itu perlu diimplementasikan dengan solusi nyata yang telah ditawarkan para penyuluh pertanian lapangan di setiap daerah yang setiap tahunnya sering dilanda masalah kekeringan,” katanya kepada Antara, di Kupang, Senin (22/6/2015).

Ia menggatakan perihal tersebut terkait identifikasi Dinas Pertanian dan Perkebunan setempat terhadap daerah-daerah mana saja di NTT yang rawan diterpa gelombang panas El Nino. Gelombang panas itu diprediksi mulai mendera sejak Juni hingga mencapai puncaknya pada November 2015.

Ke-17 kabupaten itu antara lain, Kabupaten Ende, Lembata, Alor, Sumba Timur, Sumba Tengah, Kupang, Nagekeo, Flores Timur, Sabu Raijua, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Malaka, dan Sikka.

“Hanya lima kabupaten yang masih aman dari bencana kekeringan ini yakni Ngada, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur dan Kota Kupang. Semua kabupaten mengalami kekeringan dan yang paling parah adalah 17 kabupaten itu,” katanya.

Ia mengatakan, untuk mengatasi kekeringan ini, petani dianjurkan menyiapkan lahan untuk menanam tanaman umur pendek agar dapat cepat dipanen.

“Tanaman umur pendek ini wajib dilakukan petani setempat karena cepat dipanen dan tidak terdahului kemarau panjang yang berdampak kekeringan,” katanya.

Dia menyebutkan, jenis tanaman padi INPARI 19 yang jenjang umurnya 94 hari sangat dianjurkan kepada petani karena tergolong varietas yang umur jenjangnya pendek.

“Kalau perlu yang umurnya 90 hari sudah dapat dipanen, jangan yang umurnya empat bulan karena nanti kehabisan air dan gagal panen,” katanya.

Langkah lain yang harus diambil, katanya, yaitu dengan merancang dan melaksanakan program padat karya penghijauan sekaligus untuk membuka lapangan kerja bagi pekerja yang sedang menganggur, serta juga mencegah tindakan merusak hutan.

“Beberapa contoh jenis padat karya di sektor pertanian dan perkebunan, seperti pemeliharaan lahan, pembuatan teras, penanaman ulang, perluasan tanaman, pemadaman kebakaran, dan sebagainya,” katanya.

Kegaitan padat karya lain di sub sektor kehutanan dapat dilakukan kegiatan reboisasi, penghijauan, perhutanan sosial, pemadaman kebakaran hutan. Sementara upaya pemeliharaan lingkungan dapat dilakukan melalui kegiatan pemulihan hutan/perkebunan yang diakibatkan oleh lahan longsor, banjir dan kebakaran.

Selain program itu, untuk tanggap darurat maka petani di Nusa Tenggara Timur terus menyiapkan lahan agar pada waktunya dapat menanam tanaman yang umurnya pendek.

Selain itu, katanya, petani harus memanfaatkan embung, yakni cadangan air di pematang sawah untuk menampung air hujan. “Pemerintah setempat telah membangun sejumlah embung. Terutama embung yang sudah lima tahun ke atas dan telah menampung air, wajib dimanfaatkan untuk mengairi atau menyiram tanaman kalau terancaman kekeringan.

Selain embung, lanjut dia, solusi kekurangan air juga bisa dilakukan dengan pompanisasi, yakni mengalirkan air dari sungai ke sawah.

“Itu untuk menyelamatkan tanaman padi kita yang membutuhkan air itu, terus kalau sudah waktunya panen jangan ditunda lagi,” tandasnya. (RIMA)