Petani dan Periode Transisi

  • Bagikan
ilustrasi: petani memanfaatkan tekhnologi dalam bertani

“Dulu dan hingga saat ini, banyak pemikir cerdas percaya bahwa hanya ada satu jalan menuju mode masyarakat industri, jalan itu adalah kapitalisme dan demokrasi politik”…
Barrington Moore, JR.

Tulisan ini mengambil pokok-pokok penelitian Barrington More Jr. Ia menjelaskan bahwa ada tiga rute menuju dunia dan masyarakat modern. Paling awal adalah gabungan kapitalisme dan demokrasi parlementer setelah melalui serangkaian revolusi. Revolusi Puritan, Revolusi Perancis, dan Perang Saudara Amerika. Rute ini disebutnya sebagai rute revolusi borjuis, rute Inggris, Perancis dan Amerika Serikat, meskipun berangkat dari titik awal struktur masyarakat yang sangat berbeda. Jalan kedua adalah juga jalan kapitalis, tetapi tidak melalui letupan revolusioner yang kuat, melainkan melewati bentuk-bentuk politik yang berujung pada fasisme.

Melalui revolusi ini, industri berhasil tumbuh dan berkembang di Jerman dan Jepang. Rute ketiga tentunya adalah komunis. Di Rusia dan Cina, revolusi tidak murni berasal dari dorongan kalangan petani, hal ini dimungkinkan karena adanya varian komunis dikedua Negara ini. Akhirnya, pertengahan I960an, India terbata-bata masuk pada proses menuju masyarakat industri modern. India tidak mengalami sebuah revolusi borjuis, atau revolusi konservatif juga dorongan komunisme. Sehingga mengalami fase stagnasi dibawah kepemimpinan Nehru.

Proses modernisasi dimulai dengan revolusi petani yang gagal. Lalu memuncak pada abad ke-20 dengan revolusi petani yang berhasil. Petani menjadi agen revolusi sebagai mesin, mereka menjadi aktor sejarah efektif melalui penaklukan mesin. Namun demikian kontribusi revolusioner ini tidak sama dibeberapa negara. Di Cina dan Rusia, revolusi cukup penting, di Perancis konstribusinya sangat kecil, di Jepang tidak signifikan, di India sampai saat ini dianggap sepele, di Jerman dan Inggris setelah ledakan awal langsung dikalahkan.

Tiga Lintasan untuk Dunia Modern

Dalam tulisan Barrington Moore JR. ia bermaksud menjelaskan peran politik bervariasi yang dimainkan oleh kelas atas dan kaum tani dalam transformasi masyarakat agraris. Untuk industri modern, hadirnya kaum borjuis yang kuat pada akhirnya menciptakan kondisi yang diperlukan dalam menentukan lintasan perkembangan masyarakat tertentu. Kelas kuat dan independen dari penduduk kota telah menjadi elemen dalam pertumbuhan demokrasi parlementer.

Pandangan ini menjelaskan bahwa tidak ada borjuis, tidak ada demokrasi. Untuk meneruskan argumen ini. Dari studi kasus ini, dapat dilihat bahwa ada tiga lintasan perkembangan transisi petani; Pertama, rute demokrasi kapitalis, menimbulkan demokrasi parlementer; Kedua, rute kapitalis-reaksioner, yang memunculkan kediktatoran fasis; dan ketiga, rute komunis, yang akhirnya menimbulkan kediktatoran komunis.

Rute Kapitalis-Demokratis

Dalam rute demokrasi kapitalis, dicontohkan oleh Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. Borjuis perkotaan muncul sebagai aktor ekonomi dan politik yang kuat dan aristokrasi tidak menentang upaya demokratisasi atau dihancurkan dalam revolusi borjuis. Sebagai contoh ilustrasi, jalan Inggris menuju demokrasi melalui perdamaian antara kerajaan & aristokrasi, pertanian kapitalis, pemusnahan kaum tani, munculnya kaum borjuis yang kuat, konvergensi kepentingan antara aristokrasi dan borjuis, aliansi borjuis-aristokrat, dan demokrasi parlementer.

Secara khusus, perdamaian kerajaan melemah kekuasaan raja berhadap-hadapan dengan aristokrasi. Semangat aristokrasi untuk pertanian mendukung lahirnya petani komersial dan memacu munculnya borjuis perkotaan yang kuat. Pertanian komersial dicapai melalui pengambilalihan tanah secara paksa oleh aristokrasi.

Rute kapitalis-reaksioner

Dalam rute reaksioner kapitalis, dicontohkan oleh Jerman dan Jepang, posisi aristokrasi lemah daripada rute kapitalis-demokrasi, dan kaum tani menjadi ancaman yang sah untuk kepentingan mereka. Akibatnya, aristokrasi dan kaum borjuis kerajaan, bertukar hak untuk memerintah. koalisi borjuis-aristokrat ini membantu perkembangan negara otoriter yang relatif otonom dalam periode singkat pemerintahan kuasi-demokratis. Yang membawa fasisme totaliter ke negara-negara tersebut adalah keengganan mereka untuk memberlakukan perubahan struktural dalam menghadapi krisis politik atau ekonomi, ini memungkinkan para pemimpin reaksioner untuk menciptakan sebuah revolusi fasis dari elit.

Sebagai contoh ilustrasi, jalan Jerman untuk fasisme dapat dilihat pada bagaimana kaum tani menimbulkan ancaman bagi aristokrat dan kepentingan borjuis. Borjuis dan aristokrasi yang independen terlalu lemah untuk menekan, aliansi aristokrat-borjuis melindungi kepentingan ekonomi mereka sehingga muncul otonomi, negara menjadi agak otoriter. Krisis ekonomi pemogokan dan rezim tidak mampu mereformasi diri dan pemimpin fasis membawa revolusi dari atas sehingga tidak tercegah lagi kediktatoran fasisme.

Rute Komunis

Dalam rute komunis, dicontohkan oleh Rusia dan Cina, kaum tani muncul sebagai agen sejarah perubahan sosial. Apa yang terbukti penting adalah kehadiran masyarakat yang menyatukan kekuatan, sehingga kaum tani mampu sebagai aktor kolektif tunggal dalam masyarakat yang sangat tersegmentasi. Seperti India, sektor petani besar dibagi oleh kasta dan dengan demikian terbukti tidak relevan. Dalam kasus ini, aristokrasi pada posisi yang lebih lemah. Sebagai hasilnya mampu melahirkan transisi ke pertanian komersial, menghancurkan struktur sosial yang berlaku dari kelas petani, dan rendering kaum tani tergantung secara ekonomi pada elit. industri, borjuasi perkotaan gagal muncul.

Selain itu, birokrasi agraria terpusat dioperasikan oleh negara monarki, akibatnya kaum tani menjadi tergantung pada negara untuk perlindungan. Sebagai contoh ilustrasi, jalan Cina untuk komunisme dapat dilihat dengan melemahnya sistem perdagangan, kaum borjuis tidak muncul, kaum tani begitu powerfull, kuatnya negara birokratis agraria, petani menjadi tergantung pada negara bukan aristokrasi, gerakan revolusi dari bawah dan akhirnya menciptakan kediktatoran komunis.

Transisi Petani di Indonesia

Lantas bagaimana transisi petani di Indonesia? Kembali pada sejarah perjalanan bangsa, pasca penguasaan komoditi dan rempah-rempah yang tumbuh di Negara yang alamnya menyediakan sedemikian banyak, petani kita tidak pernah mengalami tahapan revolusi atau trasformasi yang berarti. Petani kemudian digiring oleh kepentingan komoditas berskala besar seperti perkebunan-perkebunan besar karet, sawit, tebu, dan komoditas lain yang sesungguhnya dibawah kepentingan industri pertanian yang bukan milik kita sendiri.

Kemudian petani (terpaksa) memilih menjadi buruh tani, selain karena lahan semakin besar dikuasai oleh koorporasi, kenyataan ini menghambat tumbuhnya inovasi sebagai adaptasi atas kebutuhan pangan baik domestik maupun pasar dunia. Petani gagal melakukan transformasi sebagai petani komersil yang seharusnya menumbuhkan peluang-peluang baru bagi banyak kesejahteraan dan tumbuhnya kelompok borjuis baru dari sektor pertanian. Petani adalah masyarakat yang terus-menerus miskin.

Perkembangan selanjutnya, kepentingan modal mendorong penguasaan berlanjut melalui bisnis properti yang juga menjadi kebutuhan dasar, lahan yang semakin sempit. Kemiskinan petani terus berlanjut hingga tidak ada lagi pola pertanian yang benar-benar memberikan kesejahteraan. Munculnya komoditas pertanian baru sebagai respon dan kepentingan pasar memang terjadi dalam skala-skala kecil untuk memenuhi industri pangan Negara maju, dengan tetap mengatur mekanisme pasar. Sebagaian petani melakukan produksi tanaman pangan dengan kontrol penuh sistem pasar kapitalis sehingga ketergantungan harga petani membuat petani akan terus menderita kemiskinan.

Petani yang gagal menjadi petani komersil dan diperhadapkan dengan sistem ekonomi pasar yang asimetri ini diperparah oleh tidak tumbuhnya industri pertanian yang baik dan tepat menjadi kebutuhan petani itu sendiri. Untuk tumbuh menjadi petani komersil, inovasi dan penemuan baru dalam mendorong intensifikasi pertanian harus tetap berlanjut. Jauh lebih penting lagi bahwa memahami soal pertanian ini tidak hanya pada soal teknis pengembangan pembangunan pertanian, tetapi seperti apa institusi-institusi pemerintah terkait pertanian berpihak pada jalan penguatan posisi petani sebelum berbicara lebih jauh terkait landreform untuk kedaulatan pangan.

*) penulis adalah mahasiswa program doktor Sosiologi pedesaan pada institut pertanian bogor (IPB)

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version