Petani NTT Sesalkan Anjloknya Harga Hasil Panen

Tanaman Padi Yang Sudah Mulai Menguning
MediaTani – Saat musim panen seperti sekarang, harga beras di tingkat
petani anjlok. Di Desa Lairina, Kecamatan Lewa, Sumba Timur, harga beras Rp
7.000/kg. Kondisi semakin parah karena petani masih terjebak sistem ijon.


“Bulan lalu masih satu dua petani yang panen padi, jadi harga beras masih
Rp 7.500 per kilogram. Sekarang sudah banyak yang panen, harga beras menjadi Rp
7.000 per kilogram. Lama-lama bisa turun sampai Rp 6.000 per kilogram,”
ujar Katoci Papu Abu, seusai panen padinya, Minggu (28/6/2015).

Menurutnya, setelah pengusaha beli beras petani dengan harga rendah, nanti
dijual kembali dengan harga Rp 15.000-Rp 17.500 per kilogram. “Kalau sudah
bulan Agustus harga beras petani bisa turun sampai Rp 6.000 kilogram. Kadang
sampai Rp 5.500 per kilogram,” ujarnya.

Menurut Katoci, mestinya pemerintah daerah memberi patok harga beras ditingkat
petani. Kalau dibiarkan sesuai mekanisme pasar, pasti harga beras anjlok.

“Sekarang ini, bukan petani yang kasih harga, tapi pengusaha. Mau tidak
mau ya ikut,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Oktapianus Ndena Ngaba (petani dari Kampung Katikuloku,
Desa Tanarara), Petrus Pati Ndamung (dari Kampung Pahura) dan Markus Dendu
Ngara. Ketiganya ikut terlibat memanen padi milik Katoci Papu Abu. Markus Dendu
Ngara mengatakan, setiap musim panen tiba harga beras anjlok. Hal itu sudah
menjadi kebiasaan. “Petani jadi korban. Sementara hasil tetap ditekan
harga. Siapa yang berkompeten melindungi petani. Pemerintah jangan menutup mata
terhadap kondisi seperti ini?” kata Markus.

Dia mengusulkan agar ada peraturan daerah yang mengatur harga beras supaya
hasil usaha tani lebih dihargai dan bernilai.


“Harus ada kebijakan pemerintah daerah. Hal ini yang menjadi pergumulan
petani dan belum terjawab. Kalau ada aturan yang mengatur harga beras petani,
mungkin sangat menolong petani. Dampaknya kesejahteraan petani masih jauh dari
harapan bisa segera terwujud,” katanya.

Selain masalah harga beras, persoalan lain yang senantiasa membelit petani
yaitu ijon. Katoci, Markus, Oktapianus Ndena Ngaba dan Petrus Pati Ndamung
mengatakan, umumnya petani Lewa terperangkap ijon.

“Di sini sering ijon. Musim ijon biasanya bulan Desember. Mulai dari
bibit. Kalau pinjam bibit 100 kilogram, nanti saat panen dikembalikan 200
kilogram gabah,” jelas Katoci.

Selain ijon bibit, juga ijon uang. Kalau pinjam Rp 100 ribu, nanti kembalikan
Rp 200 ribu. Pinjam Rp 1 juta kembalinya Rp 2 juta. Pinjamnya ke beberapa
pengusaha keturunan cina.

“Saat panen baru kasih. Mereka (pengusaha) datang ambil sendiri,”
tambah Oktapianus. Mereka berharap pemerintah mengatasi persoalan yang
senantiasa membelit petani. “Sekarang sejak mendapat bimbingan, kami sudah
tidak mau ijon,” ujar Katoci. (aca)