Proses Tender Di Kementerian Pertanian Bakal Berubah

“Proses tender tidak mengenal kapan akan hujan, kapan akan kekeringan,
dan tidak mengenal yang namanya tikus. Akibatnya, jika ada situasi
darurat, akan sulit mencari penggantinya”

MediaTani.com – Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. mengatakan proses tender terhadap pengadaan benih, pupuk, dan mesin pertanian sangat menghambat pertumbuhan sektor pertanian. Karena itu, Kementerian telah meminta agar proses pengadaan tersebut bisa diubah menjadi penunjukan langsung dan telah mendapat persetujuan dari Presiden.
“Misalnya mau tender pupuk, traktor, benih, harus tender tiga bulan. Itu sih keburu panen. Ini perlu perbaikan,” katanya saat memberi sambutan dalam acara “Rapat Upaya Khusus Peningkatan Industri Perberasan”, yang digelar Kementerian Pertanian di lapangan Gedung Utama Kementerian Pertanian, Jakarta, 26 Agustus 2015.
Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa pengadaan benih, pupuk, dan traktor sebelumnya harus melalui tender berdasarkan peraturan presiden dan regulasi. Namun, menurut dia, regulasi tersebut malah menghambat pembangunan pertanian.
“Proses tender tidak mengenal kapan akan hujan, kapan akan kekeringan, dan tidak mengenal yang namanya tikus. Akibatnya, jika ada situasi darurat, akan sulit mencari penggantinya,” ucapnya.
Menteri Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. menambahkan, hambatan proses tender ini kemudian diusulkan ke Presiden Joko Widodo untuk diubah menjadi pembelian secara langsung.
Usul tersebut kemudian disetujui hanya dalam tempo dua hari setelah diajukan. “Saat ini proses itu (tender) bisa bergerak cepat. Alhamdulillah hasilnya sampai hari ini, produksi padi kita terbesar sepanjang sejarah,” ujarnya.
Andi Amran Sulaiman mengklaim perubahan proses tender menjadi penunjukan langsung membuat pengadaan pupuk, benih, dan alat pertanian menjadi lebih cepat dan lebih tepat sasaran. Penunjukan langsung mulai dijalankan sejak terbitnya perpres pada Desember lalu.
“Hasilnya sekarang membangun infrastruktur pertanian terbesar sepanjang sejarah. Irigasi tersier fisik mencapai 1,5 juta hektare, padahal target 1 juta hektare. Kemudian alat dan mesin pertanian yang dibagi mencapai 40 ribu unit, sebelumnya hanya mampu 3.000-4.000 unit,” tuturnya.