Terusan Suez Mengancam Kehidupan Ikan Asli Mediterania

  • Bagikan
Terusan Suez

Mediatani – Sejak selesainya pembangunan Terusan Suez pada November 1869, banyak spesies hewan dan tumbuhan air terancam. Pasalnya, terusan ini telah menciptakan jalur migrasi ikan invasif dari Laut Merah ke Laut Mediterania.

Terusan Suez pada abad-19 dibangun atas dasar pemikiran beberapa industri dunia yang menghindari pengiriman logistik dengan waktu yang lama dari negara Barat ke Timur atau sebaliknya. Namun, revolusi perjalanan maritim ini ternyata tidak memperhitungkan dampak lingkungan yang akan muncul.

Kanal yang memiliki panjang 162,5 km, dengan kedalaman 10–15 m dan lebar bervariasi antara 200 dan 300 m ini menjadi selat pasang surut tempat air Laut Merah mengalir ke Mediterania. Sebab, permukaan Laut Merah sedikit lebih tinggi dari Mediterania Timur.

Kondisi tersebut memungkinkan spesies ikan invasif dari Laut Merah bermigrasi ke Mediterania dan selama bertahun-tahun telah membawa habitat laut asli menuju kepunahan dan mengubah ekosistem Mediterania.

“Globalisasi perdagangan dan transportasi telah menciptakan jalur global transfer spesies,” ungkap ahli geologi akuatik Institut Ilmu Kelautan Kanada, Josephine Iacarella.

Mengutip dari Atlasobscura, spesies invasif adalah spesies yang bermigrasi dari wilayah asalnya ke lokasi baru di belahan dunia lain dan menjajahnya. Jika tempat bermigrasinya sesuai, maka mereka akan bertahan hidup dan berkembang biak, namun jika sebaliknya maka spesies tersebut akan punah.

Umumnya, Laut Merah, bagian dari Samudra Hindia memiliki air yang lebih asin dan kurang kaya nutrisi dibandingkan Mediterania yang merupakan bagian dari Samudera Atlantik.

Hal tersebut membuat spesies Laut Merah, lebih mampu mentolerir lingkungan yang keras dibandingkan spesies Atlantik dengan kondisi Mediterania Timur. Dengan demikian, migrasi spesies yang terjadi sebagian besar dilakukan oleh spesies Laut Merah ke Mediterania, dan relatif sedikit migrasi yang terjadi ke arah yang berlawanan.

Selama 151 tahun terakhir, Terusan Suez telah menjadi tempat melintas bagi spesies untuk masuk dan mengubah ekosistem laut Mediterania. Beberapa tahun terakhir, kanal ini menjadi masalah bagi lingkungan karena pemerintah Mesir dituding tidak bertanggung jawab dalam menghentikan migrasi hewan.

Bahkan, pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, pemerintah Mesir mengumumkan niatnya untuk memperdalam dan memperluas kanal terusan Suez. Para ahli biologi kelautan khawatir hal ini akan semakin menambah invasi spesies Laut Merah ke Mediterania.

“Ini tidak seperti menambahkan nilai [ekonomi ke Mediterania]. Mereka menggantikan spesies asli, dan banyak spesies asli memiliki nilai lebih tinggi. Para nelayan akhirnya menderita,” ujar Ahli biologi kelautan Israel, Bella Galil.

Fenomena migrasi hewan akuatik yang semakin banyak ini kemudian diberi nama migrasi Lessepsian. Ratusan spesies Laut Merah dan Indo-Pasifik yang telah menjajah dan menempatkan diri di ekosistem Mediterania Timur ini telah menyebabkan perubahan biogeografis yang sebanding dengan pergeseran benua.

Galil menyebutkan sudah sekitar 400 spesies invasif yang saat ini telah berinvasi di laut Mediterania. Jumlah yang telah berlipat ganda pada 30 tahun terakhir ini mungkin masih akan bertambah. Dia menyebut kejadian ini sebagai fenomena bersejarah yang tidak diinginkan.

Dampak Lingkungan

Salah satu negara yang merasakan dampak ekologis dari fenomena ini yaitu Israel. Negara tersebut telah menghadapi gelombang serangan ubur-ubur beracun yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini telah merusak pembangkit listrik pesisir dan menimbulkan ketakutan bagi pengunjung pantai.

Selain itu, beberapa spesies beracun lainnya, seperti ikan agresif lionfish juga telah berhasil membentuk koloni permanen, yang menciptakan potensi bahaya kesehatan ketika mereka telah disajikan di piring restoran tepi pantai.

Dikutip dari TimesofIsrael, kedatangan Lagocephalus Sceleratus atau biasa dikenal sebagai ikan toadfish pipi perak, ikan bertulang sangat beracun ini juga bisa menyebabkan ‘restrukturisasi dramatis’ ekosistem yang mengancam spesies lokal, dan dapat memusnahkan kerang, udang dan mullet merah asli.

  • Bagikan
Exit mobile version