Petani Temanggung Tetap Bisa Panen Meski La Nina Melanda

  • Bagikan
Petani cabai sedang memanen. (IDN Times)

Mediatani – Fenomena La Nina yang membuat terjadinya hujan ektrim di berbagai wilayah di negeri ini ternyata tidak berdampak pada petani cabai di Temanggung, Jawa Barat. Para petani di wilayah tersebut tetap bisa memanen cabai hasil bertaninya.

Bahkan, hasil panen cabai di wilayah Temanggung saat ini justru mengalami peningkatan. Yaitu sebanyak 0,4 – 0,7 kilogram per pohon, dengan harga cabai mencapai Rp27.000 per kilogram.

Komoditas lainnya seperti tomat juga mengalami hal yang sama. Produksi tomat di wilayah Desa Jogoyasan mengalami peningkatan rata-rata produksi 4 kilogram per pohon dengan harga Rp4.000 per kiligram. Sedangkan hasil panen non SLI hanya 2-3 kilogram per pohon.

Fakta tersebut disampaikan oleh Koordinator kegiatan SLI Jawa Tengah sekaligus Kepala Stasiun BMKG Klimatologi Kelas I Semarang, Tuban Wiyoso, dalam keterangan resminya dilansir dari IDN Times.

Keberhasilan petani Temanggung itu tidak lepas dari adanya sekolah lapang iklim yang digelar tim BMKG Semarang. Dari kegiatan tersebut, para petani mendapat pengetahuan mengenai budidaya cabai di luar musim dengan kajian agroekosistem lokal, memperoleh pengetahuan mengenai informasi iklim dan cuaca, sehingga dapat melakukan mitigasi iklim.

“Setiap petani nantinya dapat memanen yang tepat dengan memperhitungkan pola tanam dan umur tanaman, serta dapat menentukan waktu panen,” kata Tuban.

Seorang petani cabai di Temanggung, Masdik menyatakan ditengah curah hujan yang ekstrem pada bulan ini, saluran irigasi sawahnya justru tidak terganggu. Sehingga tanaman cabai yang ditanamnya tidak terganggu bahkan produksinya meningkat.

“Saya bisa panen cabai enam sampai tujuh kilogram. Hasil panennya memang sangat banyak walaupun di desa saya sering hujan lebat,” kata Masdik.

Ia mengaku saat ini terbantu dengan adanya sekolah lapang iklim tersebut. Proses pengenalan iklim pada kegiatan itu, katanya cukup efektif menambah pengetahuannya. Nantinya ia ingin mencoba menanam asparagus dan vanili dengan melihat perubahan cuaca yang sedang terjadi di Temanggung.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengingatkan kepada para petani cabai untuk mewaspadai fenomena La Nina yang sedang melanda saat ini. La Nina muncul seiring adanya perbedaan suhu muka air laut lebih dari -1,1 derajat celcius antara Samudra Pasifik dan perairan Indonesia. Kondisi itu dinamakan fenomena La Nina level Moderat.

Akibat anomali tersebut terjadi aliran massa udara basah yg lebih kuat dari Samudra Pasifik menuju ke Kepulauan Indonesia, yang menyebabkan naiknya akumulasi curah hujan yang diprediksi hingga mencapai 20 persen sampai 40 persen dari kondisi normal.

“Di Temanggung akan mengalami peningkatan curah hujan 10-40 persen per bulan atau sekitar 60 milimeter per bulan. Oleh karena itu perlu diwaspadai potensi terjadinya longsor,” bebernya.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version