Opini  

Agroforestri Solusi Pengembangan Pertanian di Kawasan Rawan Bencana

agroforestry pada aktifitas reforestasi wilayah Lembah Kerio
ilustrasi: Desain agroforestry pada aktifitas reforestasi wilayah Lembah Kerio (sumber: restorationafrica.org)

Penulis: Muhammad Isbahuddin, S.P., M.Sc.
Dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Sulawesi Barat

Indonesia merupakan negara yang begitu rentan terhadap bencana. Banjir, longsor, erosi dan kekeringan adalah bencana yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia. Ironisnya, wilayah yang paling rentan terhadap bencana adalah wilayah yang juga merupakan penyangga sektor pertanian, sehingga ketika terjadi bencana, masyarakat mengalami dampak kerugian yang besar. Kondisi ini, memerlukan pendekatan sistem pertanian baru dalam upaya mitigasi di kawasan rawan bencana.

Salah satu solusi upaya mitigasi bencana adalah dengan menerapkan sistem agroforestri. Agroforestri merupakan sistem budidaya yang mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dan/atau peternakan. Sistem agroforestri ini sangat relevan dikembang di Indonesia yang memiliki topografi yang relatif rentan terhadap bencana.

Kawasan rawan bencana ditandai dengan kondisi lahan yang rentan terhadap banjir, longsor, erosi, dan kekeringan. Terjadinya degradasi lahan juga sangat beririsan dengan sistem ekonomi yang eksploitatif yang mengejar keuntungan ekonomi dan abai pada aspek sosial dan lingkungan. Dimana degradasi lahan kerap dipicu oleh aktivitas pertambangan dan perusahaan perkebunan. Sektor perkebunan dapat memicu degradasa lahan melalui alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian serta sistem budidaya secara monokultur yaitu sistem budidaya yang menggunakan satu jenis tanaman secara intensif.

Tingginya laju pembukaan lahan untuk komoditas pertanian secara jangka pendek memang membawa keuntungan ekonomi, namun di sisi lain membawa dampak buruk bagi lingkungan yang sangat mengkhawatirkan di antaranya tanah menjadi rawan longsor dan risiko banjir meningkat akibat tingginya aliran permukaan air (run off), serta menurunkan keanekaragamana hayati.

Kerap kali pengembangan sektor pertanian dihadapkan pada pilihan antara mengejar keuntungan ekonomi atau keberlanjutan lingkungan, inilah tantangan pertanian modern saat ini. Pertanian modern ditandai dengan sistem budidaya monokultur. Sistem monokultur ini umumnya digunakan pada perusahaan perkebunanan yang tidak jarang mengorbankan hutan. Di sumatera misalnya, baru-baru ini mengahadapi bencana banjir bandang dan longsor yang memakan ribuan korban dan menyisakan duka mendalam bagi Indonesia. Pemicu bencana ini tidak terlepas dari deforestasi yang kian meningkat pada daerah aliran sungai.

Agroforestri, Upaya Mitigasi di Kawasan Rawan Bencana

Agroforestri membawa banyak solusi bagi rehabilitasi lingkungan. Agroforestri berperan dalam mitigasi perubahan iklim, dimana pohon mampu menyerap karbon dioksida yang terlepas di atmosfir, menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati, menjaga siklus hara dan hidrologi, serta membawa keuntungan ekonomi bagi petani. Kondisi topografi Indonesia yang rentan terhadap bencana, memerlukan teknik budidaya yang tepat dalam pengemabangan sektor pertanian agar tidak berujung pada bencana.

Secara umum agroforestri sangat solutif dikembangkan untuk mencegah dan mengatasi degradasi lahan. Dimana agoforestri memiliki fungsi ekonomi dan konservasi yang sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan yaitu konsep pertanian yang tidak hanya membawa dampak positif bagi ekonomi tetapi juga dampak sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

Meski demikian, agroforestri belum sepenuhnya dijadikan arus utama dalam konsep pembangunan pertanian di Indonesia. Masih banyak yang menganggap pohon menjadi pesaing bagi tanaman pangan, padahal dengan memahami karakteristik jenis tanaman kita akan mampu memilih jenis tanaman yang cocok untuk diintegrasikan dalam satu lahan. Di sisi lain, kebijakan publik pada sektor pertanian saat ini masih lebih berfokus pada budidaya pangan jangka pendek dengan satu jenis komoditas. Padahal dengan sistem agroforestri selain memperoleh hasil pangan juga menghasilkan kayu yang bernilai ekonomi.

Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma dalam kebijakan publik. Perubahan dari pertanian modern yang bersifat monokultur dan intensif menuju sistem pertanian yang lebih beragam dan berkelanjutan. Sistem agroforestri adalah solusi yang perlu dimasukkan dalam strategi pengembangan sektor pertanian nasional, serta menjadi bagian dari program mitigasi pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim.

Sudah seharusnya kita banyak belajar dari kenyataan pahit dari bencana yang telah banyak terjadi di negeri ini. Indonesia harus merubah kebiasaan lama. Indonesia harus merombak pola pertanian lama yang dapat memicu bencana. Agroforestri menawarkan jalan tengah yaitu membawa keuntungan ekonomi sekaligus membawa fungsi ekologis. Sebuah solusi untuk pertanian Indonesia yang berkelanjutan dan lebih tangguh terhadap bencana.

Salurkan Donasi

Exit mobile version