Peternak Madu Kelulut Sukses dengan Omset Miliaran, Ini Kisah Fauzi Rahman

  • Bagikan
rumah unik milik fauzi yang unik menjadi tempat menarik bagi warga/banjarmasinpost.co.id/ist

Mediatani – Madu Trigona atau yang biasa juga dalam bahasa Banjar Madu Kalulut telah banyak yang membudidayakannya.

Kegunaannya pun sangat baik untuk kesehatan. Baik untuk tujuan komersil, maupun sekedar memenuhi kebutuhan menjaga daya tahan tubuh.

Salah seorang pembudidaya madu kalulut yang sukses beternak lebah ini di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel adalah Fauzi Rahman (30).

Fauzi yang merupakan Warga Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan ini berhasil menjadi peternak madu sukses.

Dia awalnya mulai merintis usahanya sejak tahun 2010, lalu. Fauzi sendiri mengaku sudah malang melintang di bisnis madu kalulut ini.

Bahkan, dia memasarkannya ke tingkat lokal hingga ke luar provinsi Kalsel dan ke Malaysia.

Boleh dikata, Fauzi adalah perintis usaha madu trrigona di HST. Tempat usahanya pun menjadi demplot hasil hutan bukan kayu (HHBK), budidaya lebah kalulut HST.

Adalah, yang menarik dari usaha peternakan madu milik Fauzi ini adalah cara dia memasarkan di tingkat lokal.

Di kawasannya ada 40 sarang koloni lebah, Fauzi membangun rumah unik. Rumah panggung etnik campuran banjar, Sulawesi dan Dayak.

Selain itu ditamabah bangunan tempat bersantai, kolam ikan serta taman bunga serta spot foto sehingga lokasi peternakan yang instagramable.

Menurut Fauzi, rumah tempat tinggalnya bersama keluarga tersebut dia rancang sendiri. Ia menggabungkan tiga unsur rumah adat tadi.

“Saya menyukai seni, dan karya seni ini bertujuan untuk memasarkan dan mengenalkan peternakan madu kalulut yang saya geluti,” ungkapnya kepada banjarmasinpost.co.id, Rabu (19/5/2021) yang dilansir dari laman Banjarmasinpost.co.id.

Disebutkannya, banyak orang yang melewati desanya dan tertarik mampir lalu minta izin untuk berpose dan berfoto ria.

Akan tetapi, Fauzi mengizinkan jika mereka yang mampir tersebut membeli madu kalulutnya. Adapun harga eceran madu kelulut Rp50 ribu per 100 mililiter atau dengan harga per liter Rp500 ribu.

Dirinya juga memasang portal di depan rumah yang sekaligus menjadi kawasan peternakan madu itu.

Diakuinya bahwa jatuh bangun merintis usaha madu pernah dia alami.

Selama lima tahun pertama, dia bahkan mengakui belum bisa dibilang sukses.

Bahkan, banyak yang tak yakin dengan apa yang dia lakukan, termasuk istri dan keluarga besarnya.

Namun, salah satu kakaknya tetap menyemangati dan meminta jangan menyerah. “Selanjutnya saya berhasil bangkit pada 2015, hingga memiliki banyak mitra usaha,” ungkap Fauzi.

Sampai sekarang, Fauzi memiliki 200 sarang koloni lebah trigona. Panennya juga tergantung musim bunga.

Biasanya, antara Agustus, September, Oktober dan November, yang mana merupakan musim rambutan, durian, langsat dan pohon lainnya berbunga.

Karena itu, musim panen diasumsikan setahun sekali. Namun, antara bulan tersebut, panen tetap bisa dilakukan.

Sukses mengelola usaha madu kalulut lantas tidak membuatnya stagnan di situ, ia pun mengembangkan usaha lain, dengan membeli kebun karet dan jual beli barang antik.

Kini, Fauzi mengaku usahanya tersebut beromset dua miliaran.

Sebab, peternakan madu kalulut tak hanya di Desa Jatuh, tapi ada di beberapa lokasi.

Selain berhasil membangun rumah unik, Fauzi pun sudah memiliki mobil dan telah mendaftar haji melalui ONH bersama istrinya.

Baginya, sukses yang diraih, bukanlah tanpa ikhtiar maksimal. Kejujuran dan menjaga kepercayaan pelanggan, sangat penting dalam usaha atau bermuamalah, termasuk menjaga kualitas produk.

Fauzi yang mengaku hanya lulusan Kejar Paket C tersebut mengimbau pada masyarakat, jangan takut untuk memulai membangun usaha mandiri.

Asalkan digeluti secara serius, sabar dan tawakal, akan membuahkan hasil. (*)

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version