4 Langkah Mudah Membuat Pupuk dengan Memanfaatkan Sampah Dapur

  • Bagikan
ILUSTRASI. Sampah organik/IST

Mediatani – Limbah atau sampah rumah tangga digadang-gadang sebagai limbah terbanyak yang dihasilkan dan diprediksi akan terus meningkat. Daripada membiarkannya terus menjadi limbah. Ada baiknya limbah rumah tangga itu diolah. Pengolahan yang tepat dan berkelanjutan.

Hasil pengolahan yang dimaksud yakni kembali menuju alam untuk penguraian alami namun tetap memberi nila tambah dan keuntungan bagi manusia.

Olehnya itu, limbah tersebut dibuatkan saja pupuk organik sebagai penyelesaian atas dampak negatif limbah rumah tangga seperti bau busuk, pencemaran lingkungan, hingga masalah kesehatan.

Bagaimana cara membuat pupuk organik dari limbah sampah rumah tangga? Untuk lebih mengetahui detail langkahnya, silakan ikuti tahap-tahap berikut sebagaimana dikutip mediatani.co dari situs ilmubudaya.com Minggu (28/2/2021).

Pada faktanya, limbah sampah rumah tangga tak bisa langsung dijadikan pupuk organik. Yup! Kamu memerlukan berbagai alat dan bahan pendukung untuk melakukan tahap pembuatan pupuk organik yang baik bagi tanaman sebagai berikut:

  • Wadah yang tertutup
  • Sebuah Kardus bekas
  • Sampah organic (limbah dapurmu)
  • Bantalan sekam atau tanah biasa
  • Alat pengaduk
  • Kantong plastik
  • 4 kg Starter pupuk kompos (untuk pupuk organik padat) atau cairan EM-4 aktif (untuk pupuk organik cair).

Limbah sampah rumah tangga cukup fleksibel dalam membuat jenis pupuk organik yang diharapkan. Beginilah cara membuat pupuk organik dari limbah sampah rumah tangga, baik pupuk padat dan cair;

1. Memilah Limbah Sampah Rumah Tangga

Pada kenyataannya tidak semua jenis sampah rumah tangga bisa diolah menjadi pupuk organik. Maka dari itu kamu perlu memilah-milah mana sampah rumah tangga yang cocok. Misalnya sisa sayuran, sisa buah, sisa ikan, daging, dan sisa bumbu dapur.

Jika jumlahnya relatif sedikit, maka boleh meminta limbah dari tempat pemotongan hewan, seperti industri pembuatan tahu, tempe, dan lain-lain.

Jenis makanan yang mengandung minyak atau santan sebaiknya kamu cuci ulang atau tidak digunakan dalam membuat pupuk organik. Sementara jenis sampah berupa kulit kacang maupun barang yang sulit terurai seperti logam, karet, kaca, dan plastik yang akan lebih baik jika tidak dimanfaatkan.

2. Mengolah Limbah

Bertujuan untuk memudahkan proses pengomposan, pencacahan atau perajangan limbah rumah tangga, ini sangat dibutuhkan. Setelah keseluruhan limbah berukuran menjadi lebih kecil, kamu pun bisa menempatkannya pada wadah. Namun ada aturan dalam penempatan limbah yang juga melibatkan bahan lainnya.

Pada bagian dalam wadah, kamu ada baiknya menempatkan kardus supaya nantinya pupuk tidak bersentuhan langsung dengan wadah. Bagian paling dasar ialah untuk penempatan sekam atau boleh diganti dengan tanah biasa.

Perlu diingat! Bahwa pemilihan ketinggian tiap lapisan adalah menyesuaikan dengan tinggi wadah dan jumlah limbah sampah rumah tangga.

Di atas lapisan dasar, kamu bisa meletakkan starter kompos yang telah matang lalu dilanjutkan dengan limbah rumah tangga di atasnya.

Pada bagian paling atas, letakkan lah sekam yang bermanfaat untuk mengurangi bau busuk serta menambah wewangian dengan kulit jeruk jika tersedia.

Kamu juga dapat menyampurkan hasil cincangan limbah dengan EM-4 aktif. Senyawa ini memerlukan pengadukan sehingga campuran pupuk dapat merata. Setelah itu, pupuk diberi air dan disimpan dalam kantong plastik yang diletakkan dalam wadah.

3. Proses Menyimpan Pupuk

Limbah rumah tangga yang sudah diolah dapat dimasukkan ke dalam wadah secara tertutup. Hal itu dimaksudkan agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung dan terlindung dari air hujan.

Namun, pupuk masih membutuhkan sirkulasi udara sehingga wadah dapat ditempatkan di atas batu bata. Kamu bisa menambahkan sampah baru dengan tetap melakukan pengadukan setelahnya. Usai dua hingga tiga bulan, pemanenan pupuk organik padat bisa dilakukan.

Untuk pupuk organik cair, kamu harus mengikat plastik dan menutup tong hingga rapat terlebih dahulu sampai menjadi tidak berbau busuk yaitu kurang lebih selama tiga minggu. Perlu juga diingat bahwa pupuk masih membutuhkan pengadukan setiap tiga hari sekali.

Pada bagian akhir, kamu bisa menyaring pupuk menjadi bagian kasar dan cairan. Dalam hal ini, kamu tentu bisa memeroleh pupuk organik padat dari bagian kasar dan pupuk organik cair dari cairan hasil saringan. Setiap kali menambah limbah baru, EM-4 tetap perlu ditambahkan ke dalam wadah untuk memperlancar proses composting.

4. Pemanfaatan Pupuk

Sebelum mengaplikasikan pupuk organik padat pada tanaman, kamu perlu mengeringkannya dengan cara dianginkan. Saat sebagian pupuk telah bisa dipakai, kamu harus mengayak pupuk yang masih belum terpakai secara terpisah dari wadah.

Bagian kasar dari sisa ayakan bisa dimanfaatkan sebagai starter pupuk, sementara kamu dapat mengganti kardus pelindung dalam wadah.

Untuk memanfaatkan pupuk cair, kamu perlu mengencerkannya dengan air dengan perbandingan 10 liter air per liter pupuk cair. Lalu kemudian, dapat menempatkan pupuk cair dalam wadah sehingga bisa disemprotkan pada media tanam maupun bagian tanaman seperti daun dan batang.

Dengan memanfaatkan pupuk organik, kamu memperoleh berbagai keuntungan. Selain mengandung hormon pertumbuhan tanaman secara alami yang disebut giberalin, pupuk organik bersifat lebih baik dari pupuk kimia untuk produktivitas tanah dalam jangka panjang.

Dan cara membuat pupuk organik dari limbah sampah rumah tangga menjadi langkah tepat bagi pebudidaya tanaman untuk memanfaatkan waktu luang sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen Anda. Selamat mencoba ya, semoga berhasil! (*)

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version