Dorong Pemuda Jadi Petani, Mbah Kaum Perkenalkan Model Pertanian Tanpa Harus Kotor

  • Bagikan
Salah Satu Pengunjung Green House Mbah Kaum yang Tengah Asik Menjajaki Kebun Tersebut

Mediatani – Zaman sekarang, anak muda kerap menyepelekan profesi petani. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa bertani adalah profesi yang harus siap berkotor-kotoran di sawah dan terbakar matahari, tak terkecuali para pemuda di Desa Pakem, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo.

Melihat hal tersebut, Misbahul Munir (42), Manajer Keuangan sekaligus “Mbah Kaum” di Desa Pakem, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, tergugah untuk memberdayakan pemuda melalui pertanian.

Ia ingin menunjukkan kepada anak muda bahwa seorang petani tidak harus jorok. Sebab, menurutnya ada cara bercocok tanam modern yang cocok untuk anak muda, yaitu hidroponik di rumah kaca (sampel tanaman dengan struktur atap dan dinding transparan).

“Awalnya saya ingin mengenalkan bahwa menjadi petani tidak harus kotor. Sekarang, ada metode pertanian menggunakan green house, sehingga bisa ditanami apa saja. Harapannya, agar ada regenerasi penerus sebagai petani,” ungkapnya dilansir dari Tribunjogja.com, Jumat (6/1/2023).

Menurutnya, regenerasi petani sudah sulit terjadi di Desa Pakem. Rata-rata yang menjadi petani di daerah tersebut berusia di atas 50 tahun.

Ia pun mulai merekrut pemuda-pemuda desa yang antusias dengan pertanian, hingga akhirnya berhasil mengumpulkan 7 (tujuh) orang berusia 22-27 tahun.

Pada saat yang sama, Pemerintah Desa (Pemdes) diberi kewenangan menggunakan 20 persen dana desa untuk program ketahanan pangan. Pemdes sepakat menggunakan dana desa senilai Rp 60 juta untuk menanam melon Golden Alisha F1 secara hidroponik menggunakan fasilitas rumah kaca.

“Greenhouse ini dikelola oleh 7 anak muda yang ingin menjadi petani dan saya penanggung jawabnya. Artinya, terhadap pengelolaan pupuk, kemudian penawaran pohon melon, mulai dari penanaman hingga penyerbukan tangan hingga pemasakan panen,” jelasnya.

Lebih lanjut Munir menjelaskan, tanaman ini dipilih karena memiliki masa panen yang relatif cepat dan teratur jika ditanam di rumah kaca, yaitu setiap 2 bulan sekali atau umur panen 60-70 hari tanpa mengenal musim.

Munir mengklaim melon yang ditanam di Desa Pakem memiliki rasa yang sangat manis dan dagingnya lebih tebal dan lebih renyah. Saat ini, rumah kaca yang dibangun di desanya memiliki luas 10 x 50 meter yang mampu menampung sekitar 1500 pohon Melon Emas Alisha F1.

Pohon melon jenis ini ditanam dalam polybag yang berisi media tanam kelapa atau serbuk tempurung kelapa dan arang tempurung. Setiap polybag berisi dua pohon melon Golden Alisha F1, di mana setiap pohon ditanami maksimal 2 buah melon. Upaya ini dilakukan agar buah melon yang dipanen menjadi lebih berat dan manis.

“Kemarin kita percobaan kalau satu pohon disisakan 2 buah itu jadinya kecil-kecil, sekitar 1 kilogram (kg) perbuahnya. Tapi kebanyakan kami sisakan satu buah per pohon, agar hasilnya lebih besar dan manis. Rata-rata besarnya antara 1,5 kg -1,8 kg. Tetapi pas panen pertama Rabu (3/1/2023) lalu, ada yang besarnya 2,5 kg,” ucapnya.

Pada panen pertama, Munir mengaku berhasil menjual melon Golden Alisha F1 senilai lebih dari 2,5 sen kepada masyarakat. Jumlah itu belum ditambah puluhan kilogram melon yang dibagikan kepada warga atau penguji.

“Kalau prediksinya setiap panen, kami bisa mendapatkan hasil 1,5-2 ton. Tetapi saat ini, kami masih buka untuk umum karena masih perdana (grand opening). Rencananya hanya sampai Minggu besok (8/1/2023) kami jual dengan harga Rp20 ribu per kg. Setelah itu, kami akan coba menyasar kelas menengah atas agar bisa masuk ke supermarket. Sementara ini sudah ada beberapa tengkulak yang menawarkan diri,” urainya.

Ia berharap hal ini dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan masyarakat. Karena potensi budidaya melon emas bisa dimanfaatkan dalam wisata panen buah segar atau wisata pertanian.

Sementara itu, Dwi Wijayanti, 55, warga Desa Bendosari, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo mengaku sangat tertarik dengan pengalaman baru memetik dan memanen melon Golden Alisha F1 di Desa Pakem sendiri.

“Saya tertarik sekali karena jarang-jarang di Purworejo ada petani yang membudidayakan melon ini. Saya suka melon ini karena rasanya seperti buah pir, dia berair terus kress (renyah) dan manis ketika digigit. Kemarin saya sudah makan, terus sekarang kesini lagi ajak teman,” ucapnya.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version