Hampir Sebulan Kebun Warga di Aceh Tergenang, Warga: Ini Air Buangan Kebun Sawit Perusahaan

  • Bagikan
Air buangan perkebunan kelapa sawit yang menggenangi jembatan (Foto: Aceh Kini)

Mediatani – Dalam sebulan ini ratusan hektare perkebunan warga Desa Cot Mee, Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, digenangi air.

Warga menduga jika sumber genangan itu berasal dari air buangan kebun kelapa sawit PT Fajar Baizury & Brother’s yang jaraknya sekitar 800 meter dari desa mereka.

Dilansir dari Aceh Kini – Kepala Desa Cot Mee, Abdul Manan mengatakan bahwa air buangan dari perusahaan tersebut seharusnya mengalir ke tiga desa, yaitu Desa Kuala Tadu, Rambung, dan Cot Mee.

Namun, karena dua desa lain telah menutup saluran air maka air buangan itu akhirnya hanya mengalir ke Desa Cot Mee.

“Maka timbul banjir karena di Cot Mee tidak bisa menampung air dengan volume yang besar,” kata Abdul Manan (27/3/2021).

Abdul Manan menuturkan bahwa genangan air tersebut mengakibatkan terendamnya sekitar 200 hektare kebun masyarakat. Kebun yang terendam mulai dari kebun cabai, terong, hingga kelapa sawit.

Genangan air yang paling tinggi mencapai satu meter. Dengan adanya genangan ini sering membuat petani gagal panen atau bahkan tidak bisa bercocok tanam karena kebun mereka terendam air.

Bahkan, puluhan hektar bibit sawit yang baru ditanam kini terancam gagal tumbuh, begitu pula puluhan sawit warga lainnya yang mengalami gagal panen. Kerugian tersebut selalu dirasakan oleh masyarakat Desa Cot Mee setiap tahunnya.

“Akibat tersebut masyarakat disini selalu merasa rugi karena sawit yang siap panen tidak bisa di evaluasi disebabkan genangan air yang tinggih serta jalan yang terancam putus,” ujarnya.

Selain itu, kata Abdul Manan, air buangan tersebut juga menimbulkan gatal-gatal pada kulit dan merusak jalanan desa yang dibangun untuk mengangkut hasil panen kelapa sawit masyarakat, bahkan genangan air juga ikut merusak jembatan yang dibangun menggunakan dana desa.

Air buangan tersebut merendam jalan hingga terkikis dan membentuk aliran parit di badan jalan. Sehingga warga saling gotong royong untuk membuat jembatan agar akses jalan tak terputus. Namun, usaha itu gagal karena luapan air yang belum bisa diatasi.

Genangan air yang meluap hingga ke perkebunan warga dan sejumlah ruas jalan ini sudah terjadi sejak dua puluh hari yang lalu. Jika dampak tersebut tidak segera diselesaikan maka yang dikhawatirkan air luapan itu akan semakin tinggi dan merendam permukiman warga.

Warga Cot Mee telah beberapa kali meminta agar perusahaan bertanggung jawab dan mengatasi masalah tersebut. Namun, hingga saat ini antara masyarakat dan perusahaan belum mendapatkan titik temu. Masyarakat juga mengadu masalah itu ke Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Nagan Raya.

Abdul Manan mengungkapkan bahwa sudah berulang kali warga meminta agar perusahaan memindahkan saluran buangan, namun pihak perusahaan tetap tidak mau memindahkannya.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT Fajar Baizury & Brother’s, Maijuni, membantah bahwa air yang menggenangi kebun warga Desa Cot Mee adalah air buangan perusahaannya.

Maijuni mengatakan bahwa air itu bersumber dari Krueng Tadu yang mengalir ke kebun kelapa sawit perusahaan dan akhirnya menuju Desa Cot Mee.

Dia mengatakan bahwa air buangan tersebut bahkan sudah ada sebelum pihaknya membuka perusahaan, air itu masuk dari Krueng Tadu dan melalui kebun perusahaannya lalu ke Desa Cot Mee.

Dia juga mengatakan bahwa pihaknya termasuk menjadi korban dari air buangan tersebut, sebab air dari mana-mana masuk ke kebun perusahaannya sehingga salurannya pun keluar dari kebun tersebut.

 

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version