Ini Penjelasan Kementan Kenapa Beras Petani Sulit Diserap Bulog

  • Bagikan
Ilustrasi: Gabah petani yang siap digiling

Mediatani – Kementerian Pertanian memberikan penjelasan terkait sulitnya Bulog menyerap beras langsung dari petani. Padahal, beras yang saat ini siap diserap ada 1,8 juta ton beras.

Direktur Serealia Kementerian Pertanian Ismail Wahab mengungkapkan, Bulog menawarkan harga yang cukup berbeda dengan harga pasar. Hal ini pun membuat sejumlah pengepul lebih memilih untuk menjual beras langsung pada konsumen.

“Jadi ada 1,8 juta ton yang masih bisa diserap oleh Bulog,” kata Ismail saat konferensi pers virtual, Jumat (18/11).

Ia menyebutkan harga beras yang diberikan oleh rata-rata penggilingan yaitu sebesar Rp10.300. Sementara Bulog menyampaikan kepada pihanya bahwa mereka hanya menerima dengan harga Rp9.700.

Ismail menjelaskan pasokan yang lebih rendah dari masa panen sebelumnya menjadi penyebab harga pada masa panen kali ini mengalami kenaikan. Menurutnya, selama periode Oktober-Desember, stok beras yang ada selalu lebih sedikit dari periode sebelumnya.

Hal ini pun kerap terjadi setiap tahun, padahal tidak terjadi kenaikan harga BBM dan pupuk. Hanya saja pasokannya senderung lebih rendah, sehingga petani menggunakan pupuk non-subsidi.

“(Harga tinggi) itu untuk mengkompensasi pupuk non-subsidi, jual beras lebih tinggi,” paparnya.

Terlebih setelah ada kenaikan harga BBM, tambah Ismail, para pekerja di sektor pertanian meminta penambahan upah hingga Rp20-25 ribu per hari. Karena itu, meski dari segi produksi cukup, ada beberapa komponen lain yang mengakibatkan biaya produksi itu naik.

Selain itu, factor lain yang mungkin menjadi penyebab yaitu timbulnya sentimen negatif di kalangan petani sebab Bulog tidak mampu menyerap beras dengan harga pasar.

“Mungkin petani mikir pemerintah tidak punya alat untuk memberikan sentimen positif,” tegasnya.

Sebelumnya, Kementan telah membantah pernyataan Bulog soal pasokan beras nasional yang menipis. Kementan menegaskan saat ini pasokan beras nasional masih relatif aman, bahkan mengalami surplus.

Statistisik Ahli Madya Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan Anna Astrid Susanti menyebutkan, berdasarkan data BPS, produksi beras per Desember 2022 akan mencapai 32 juta ton dengan surplus 1,8 juta ton.

“Menurut data BPS, hingga Desember 2022 produksi beras sekitar 32 juta ton, dan diperkirakan masih surplus 1,88 juta ton beras. (Sementara) konsumsinya 30,2 juta ton,” sebut Anna dilansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (17/11).

Hanya saja, surplus yang disebutkan itu tidak semua berada di gudang Bulog, melainkan hanya sekitar 11 persen. Sementara sisanya tersebar di rumah tangga produsen dan rumah tangga konsumen.

“Hasil survei cadangan beras nasional yang dilakukan bulan Juni 2022 oleh BPS, Kementan dan Bapanas menunjukkan kalau stok beras di Bulog hanya sekitar 11 persen. Dari sisi stok nasional sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan,” paparnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjelaskan, pihaknya sulit mendapat beras atau gabah di tingkat produsen karena pasokan di tingkat penggilingan maupun petani terbatas. Imbasnya, pasokan CBP saat ini di gudang Bulog hanya sebanyak 651 ribu ton jauh dari target 1,2 juta ton.

  • Bagikan
Exit mobile version