Kisah Sumedi, Magister yang Sukses Raup Untung dengan Usaha Jamur Tiram

  • Bagikan
Sumedi, Megister yang Sukses Usaha Jamur Tiram

Mediatani – Dulunya banyak orang yang masih menganggap profesi petani tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Namun, saat ini pandangan tersebut semakin memudar secara perlahan.

Hal ini disebabkan karena keuntungan yang bisa didapatkan dalam sektor pertanian ternyata sangat menggiurkan dan membuat banyak orang dengan pendidikan tinggi ingin mengecap kesuksesan dari bidang ini.

Salah satunya dilakukan oleh Sumedi Purbo, pria asal Grogol, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DIY. Sosok yang satu ini merupakan seorang lulusan S2 yang memilih untuk menceburkan diri dalam usaha pertanian.

Namun, usaha pertanian yang dijalankannya ini tak berjalan mulus. Apa yang dilakukannya mendapatkan berbagai tantangan dan sering menjadi buah bibir di lingkungan sekitarnya.

Sumedi telah menggeluti bidang pertanian sejak tahun 1990-an. Awalnya, dia hanya mengikuti kegiatan budidaya yang dilakukan sebuah organisasi asal Taiwan di dekat rumahnya, dan akhirnya dia pun bertekad untuk mencoba melakukannya sendiri.

Melansir dari kanal youtube Cap Capung, usaha yang dilakukan Sumedi saat itu adalah budidaya jamur tiram. Meskipun dianggapnya menarik, namun usaha ini ternyata tidak mendapatkan perhatian dan dukungan masyarakat bahkan justru mendapatkan cibiran dari mereka.

“Ketika mulai usaha, kita dicibir sama masyarakat. Jamur kok ditanam, seperti gak ada pekerjaan lain. Sampai kita tahun 1999 buka warung makan khas jamur juga dicibir, jamur kok dimakan,” ungkapnya.

Tak patah semangat, hal itu hanya dianggapnya sebagai kerikil yang sama sekali tidak mempengaruhi niatnya. Sumedi melihatnya sebagai tantangan yang harus ditaklukkan.

“Itu tantangan ya. Pada saat itu jamur masih dianggap sebagai sebuah tumbuhan yang kelasnya paling rendah, jadi saya pribadi ya maklum, saya kira hal itu wajar,” ungkapnya.

Cibiran tersebut makin bertambah ketika dirinya menjalankan usaha jamur tiram sambil menimba ilmu magister. Banyak orang yang mencibirnya dengan alasan bahwa pertanian tidak sejalan dengan latar belakang pendidikannya.

Program sarjana yang ditempuh Sumedi adalah filsafat, kemudian dilanjutkan dengan program magister manajemen agrobisnis.

“Saya S1 nya dari filsafat, kemudian S2 nya dari manajemen agrobisnis. Banyak yang tanya kok saya milih menjadi petani begitu ya,” ujar Sumedi.

Semua asumsi yang ia dengarkan mengenai pertanian dan pendidikannya justru membuat Sumedi semakin semangat. Menurutnya, pekerjaan di bidang pertanian tidak kalah menarik dan mulianya dengan pekerjaan yang lain.

Sumedi bahkan mengungkapkan bahwa dirinya akan terus menularkan semangat bertani kepada banyak orang terutama pada generasi muda.

“Ini salah satu motivasi saya untuk memberikan inspirasi bagi teman-teman di desa ya khususnya kawula muda bahwa bertani itu sesuatu yang mulia,” paparnya.

Sumedi menjadi bukti nyata bahwa bergelut di usaha pertanian bisa membuatnya berhasil meraup untung hingga ratusan juta setiap bulannya.

“Mari kita bersama-sama menjadikan diri ini bisa menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi diri kita, lingkungan kita, bagi sesama kita. Sebab nilai kita itu ketika kita bisa memberi manfaat bagi orang lain,” pungkasnya.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version