Mengenal Teknik Carbon Farming yang Ramah Lingkungan

  • Bagikan
Sumber foto: agrozine.id

Mediatani – Saat ini berbagai sektor industri terus berupaya menerapkan metode yang ramah lingkungan dalam penerapan sistem pengoperasiannya untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Tidak terkecuali pada sektor pertanian yang mulai gencar membuat inovasi terkait pertanian ramah lingkungan, salah satu yang belakangan ini ramai adalah net zero karbon.

Unsur karbon adalah salah satu unsur terpenting yang ada di muka bumi. Segala hal yang berkaitan dengan hidup manusia merupakan unsur karbon. Namun, ketika unsur karbon berikatan dengan unsur lainnya maka akan muncul efek akhir yang beda. Seperti misalnya Karbon Monoksida, berikatan dengan satu unsur O. Senyawa Karbon Monoksida (CO) bersumber dari asap kendaraan yang diketahui berbahaya sebab bisa menipiskan lapisan ozon.

Apa yang dimaksud dengan Carbon Farming?

Dilansir dari kanal YouTube NHK World Japan, Carbon Farming atau pertanian karbon yaitu memanfaatkan dan mengikat unsur karbon kembali ke dalam tanah. Sistem pertanian seperti ini menyimpan karbon di dalam tanah sekaligus meminimalisir karbon yang lepas di atmosfer karena bisa menyebabkan efek rumah kaca.

Apa manfaat dari unsur karbon bagi sektor pertanian?

Melansir dari Carboncycle, unsur karbon memiliki banyak manfaat penting di sektor pertanian. Kehadiran karbon membuat agregat tanah bisa terbentuk lebih mantap, sehingga memiliki daya pegang air di tanah yang jauh lebih meningkat. Karena itu, unsur karbon ini bagus untuk konservasi tanah dan air.

Adanya unsur karbon dapat meningkatkan aktivitas dari mikroorganisme yang ada di tanah. Hal ini karena karbon menjadi sumber makanan utama dari mikroorganisme baik. Kemampuan tanah menyerap unsur hara yang dibutuhkan tanaman juga meningkat sehingga petani mencapai efisiensi dalam pemupukan.

Bagaimana penerapan Pertanian Karbon (Carbon Farming)?

Sebenarnya ada banyak teknik pertanian karbon yang bisa dipraktikkan. Beberapa di antaranya adalah sistem agroforesti yaitu menggabungkan pertanian dengan hutan, penanaman tanpa olah lahan, menanam tanaman penutup lahan, praktik pertanian tumpang sari, melakukan restorasi pada area kritis, memanfaatkan kolaborasi dari sektor peternakan dan pertanian dan masih banyak lagi contohnya.

Ada juga yang berasal dari berbagai sumber bahan yang bisa digunakan untuk dapat lebih menyerap karbon. Beberapa bahan tersebut diaplikasikan ke dalam tanah sehingga ketika bersimbiosis dengan akar tanaman maka bisa menyerap karbon dan membuatnya menjadi lebih berguna untuk tanaman. Hal ini tentu saja dinilai jauh lebih baik jika dibandingkan lepas ke atmosfer dan menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon.

Bahan yang bermanfaat tersebut di antaranya adalah sisa panen, kompos, serasah, kotoran ternak, dan biochar (arang aktif). Apabila bahan-bahan yang telah disebutkan tadi ditanam ke dalam tanah maka bisa menjadi sumber karbon bermanfaat untuk tanah yang juga dapat meningkatkan mikroorganisme bermanfaat, unsur karbon, dan nutrisi bagi tanah.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version