Musim Kemarau Bawa Berkah, Kualitas Ikan Asin Nelayan Membaik

  • Bagikan
Ilustrasi: ikan teri yang telah dikeringkan

Mediatani – Para nelayan di Dusun Tawangrejo, Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kembali beramai-ramai mengeringkan ikan di bawah terik matahari.

Proses pengeringan ikan yang mereka lakukan memang masih tradisional karena bergantung pada terik matahari. Karena itu, musim kemarau yang berlangsung saat ini membuat produksi ikan asin menjadi semakin banyak dan memiliki kualitas yang cukup baik.

Sebelum pengeringan dilakukan, ikan terlebih dahulu dicuci dan diberi garam. Proses penggaramannya terdiri atas 3 cara, yaitu penggaraman kering, penggaraman basah, atau dengan mengkombinasi kedua cara tersebut.

Berdasarkan data KKP pada tahun 2010, jumlah produksi perikanan tangkap di Kabupaten Tuban ada sebanyak 10.070,4 ton. Jumlah tersebut membuat Tuban menjadi daerah yang berkontribusi cukup besar dari 21 wilayah di Jawa Timur dengan potensi perikanan lautnya.

Ketika memasuki Dusun Tawangrejo, bau amis dari ikan yang dikeringkan para nelayan akan sangat menyengat. Hal itu terjadi karena di tempat tersebut memang tampak hamparan ikan yang dikeringkan dengan menggunakan alat tradisional, yang biasa disebut para-para oleh nelayan setempat.

Pengeringan ikan dengan cara menggantungkannya di terik matahari itu merupakan salah satu cara pengawetan untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada ikan sehingga aktifitas mikroorganisme bisa dikurangi.

Sesekali nelayan itu membolak-balikkan ikan yang dijemur supaya lebih cepat kering dan merata. Setelah ikan telah kering sempurna, ikan kering tersebut dikemas dan sudah siap untuk dijual ke pengepul.

Hal itulah yang juga dilakukan Hally Makruf, salah seorang nelayan berusia 38 tahun. Menurutnya, musim kemarau telah membawa keberkahan tersendiri bagi para nelayan setempat. Sebab, ikan asin yang diproduksi selama musim kemarau memiliki hasil yang lebih banyak dibanding saat musim hujan datang.

“Hasilnya jelas berbeda antara musim kemarau dan musim hujan, bahkan berlipat. Bagi kami penjemuran ikan ini lebih enak musim panas. Kalau musim hujan itu ikan yang dijemur sering buka tutup, kadang itu 3-5 hari baru kering. Sekarang ini pagi dijemur sorenya sudah kering,” kata Hally, dilansir dari Mongabay, Sabtu (22/05).

Pengaruh Cuaca

Selain jumlah produksi yang besar, Hally juga mengaku kualitas ikan asin yang dibuatnya di musim kemarau menjadi lebih baik. Hal itu disebabkan karena ikan asin yang dijemur tersebut mendapat sinar matahari yang jauh lebih panas. Proses pengeringan ikan ini memang sangat tergantung pada kondisi cuaca.

Sumadi (65), nelayan lainnya juga mengaku saat ini cuaca sangat membantu usahanya, sehingga hasil tangkapan ikan para nelayan menjadi lebih bagus dan pasokan ikan asin dari berbagai jenis ikan saat ini cukup melimpah.

Lebih lanjut Sumadi menjelaskan bahwa rata-rata ikan hasil tangkapan yang bisa dibawa pulang oleh nelayan sebanyak 2 kwintal. Menurutnya, musim hujan yang menyebabkan proses pengeringan menjadi lama membuat warna ikan menjadi kekuning-kuningan. Kondisi ikan seperti itu berpengaruh ke harga jualnya.

“Misalnya ikan teri, kalau pengeringannya lama harganya bisa turun menjadi Rp30 ribu per kilo,” ujarnya.

Padahal, lanjut Sumadi, harga ikan teri ketika musim bagus seperti ini bisa mencapai Rp50-60 per kilonya. Selain teri, ikan lain yang juga biasa dikeringkan, yakni ikan layang (Decapterus), ikan bulu ayam (Thryssa mystax), dan ikan tenggiri (Scomberomorini).

Ada banyak variasi yang bisa dilakukan dalam proses pengeringan ikan asin ini. Selain bergantung pada jenis dan ukuran ikan, variasi proses pengeringan itu juga bergantung pada hasil yang diinginkan, dan daerah produksinya.

Untuk mengeringkan ikan yang berukuran besar, ikan tersebut terlebih dahulu dibelah dan disiangi. Sementara untuk ikan yang berukuran kecil seperti teri terlebih dahulu diasinkan dalam keadaan utuh.

Pada dasarnya, lanjut Sumadi, proses penggaraman dalam pembuatan ikan asin terdiri dari 3 cara, pertama yaitu penggaraman kering, penggaraman basah atau mengkombinasi keduanya.

Proses penggaraman dilakukan dengan cara menaburkan atau melumurkan kristal garam pada seluruh bagian luar dan dalam ikan. Cara seperti ini biasanya dilakukan pada ikan berukuran besar setelah dibersihkan dan dibelah perutnya.

Sementara proses penggaraman yang dilakukan pada ikan basah, yaitu dengan cara merendam ikan di dalam larutan garam jenuh, kemudian ditiriskan dan dikeringkan.

“Penggaraman basah ini seringkali diterapkan untuk menggarami ikan-ikan yang berukuran kecil,” jelasnya.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version