Pemkab Sumedang Bersama Fapet Unpad Bangun Peternakan Modern Melalui Digitalisasi Pasar Ternak

  • Bagikan
Ilustrasi. Peternak sedang beraktivitas di Peternakan Sapi/Paksi Sandang Prabowo/Kaltim Post/IST

Mediatani – Pemerintah Kabupaten Sumedang bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad) membangun peternakan modern yang nantinya melalui digitalisasi pusat informasi pasar ternak.

Dekan Fakultas Peternakan Unpad Rahmat Hidayat dikutip mediatani.co Senin (22/2/2021) dari situs bandung.bisnis.com, mengatakan bahwa dengan aplikasi itu nantinya bisa menghimpun berapa jumlah ternak yang akan dipasarkan, juga lokasi, nomor kontak, jumlah, dan bobot badan.

“Pembeli nantinya tinggal membuka aplikasi. Tentu ini akan memudahkan bagi pembeli,” kata dia, di Gedung Negara, Kabupaten Sumedang, Jumat (19/2/2021) yang dikutip Senin (22/2/2021).

Rahmat menuturkan bahwa pihaknya pun telah menawarkan bantuan dan kerjasama dalam bidang sumber daya manusia (SDM), sehingga mampu mengembangkan peternakan di Kabupaten Sumedang.

Selain itu, kata Rahmat, Fakultas Peternakan Unpad siap membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas produk ternak kota tahu itu.

“Diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar di Kabupaten Sumedang,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengungkapkan, bantuan dan tawaran tersebut akan ditindaklanjuti oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang.

Dalam waktu dekat Pemerintah Kabupaten Sumedang akan membuat percontohan dan rencana aksinya, baik produksi ternak langsung maupun pengolahan kotoran hewan (kohe).

“Kami minta beberapa percontohan dan rencana aksi antara Unpad dengan Pemda. Bisa untuk produksi ternak langsung, bahkan akan ada pengolahan untuk limbah kotoran ternak yang akan dijadikan biogas, nanti akan kita follow up,” jelasnya.

Sementara itu, di berita yang lain, sebagaimana diberitakan mediatani.co sebelumnya kabar gembira bagi peternak di Nusa Tenggara Timur (NTT) ialah mereka kini tak perlu khawatir akan pakan ternak. Hal itu lantaran UPT Pembibitan Ternak dan Pakan Ternak Provinsi NTT melakukan pengembangan rumput Odot sebagai pakan.

Kesulitan mendapatkan pakan ternak di NTT terjadi terutama pada musim kemarau, mengingat kondisi panas di NTT pada saat musim kemarau, akan menyulitkan peternakan mendapat pakan bagi ternak miliknya. Bisa dikatakan para peternak pun lega karena mereka tidak perlu lagi khawatir perihal musim kemarau nantinya.

Hal ini kemudian memantik inisiatif kepala UPT Pembibitan ternak dan pakan ternak provinsi NTT, Bambang Permana, untuk melakukan pengembangan rumput odot dalam upaya membantu masyarakat, terutama peternak.

Dikutip Minggu (21/2/2021) dari situs berita pos-kupang.com, Bambang menjelaskan bahwa dalam musim hujan seperti saat ini dimanfaatkan oleh peternak untuk melakukan penanaman rumput odot sebagai persiapan pakan ternak di musim kemarau mendatang.

“Rumput odot dari masa tanam hingga masa panen membutuhkan waktu sekitar 3 bulan” ujarnya, Jumat (19/2/2021) di lokasi pembibitan Oelamasi, kabupaten Kupang, dikutip Minggu (21/2/2021).

Bambang menuturkan bahwa pihaknya telah melakukan pembibitan rumput odot sejak bulan November 2020 lalu, dan kini telah memasuki dalam masa panen. Selain untuk memenuhi ketersediaan pakan ternak bagi masyarakat, Bambang juga mengatakan pengembangan bibit pakan tersebut juga untuk menekan pengeluaran anggaran dari pemerintah dalam pengadaan bibit.

“Salah satu cara untuk menambah pendapatan daerah melalui penjualan rumput odot, misalnya kita jual dengan Rp.200/stek. Tentu dapat menggenjot pemasukan daerah,” sambung dia.

Bambang pula mengaku, pengembangan bibit rumput odot dan lamtoro teramba nyatanya tak terlalu sulit karena kedua tanaman ini cocok dengan kondisi iklim yang ada di NTT dan tidak memerlukan banyak air.

Rumput odot mempunyai kelebihan menyediakan lebih banyak pakan dalam sekali tanam sehingga akan sangat memudahkan peternak jika menggunakan rumput ini sebagai pakan bagi ternaknya.

“Satu rumpun rumput odot memiliki berat sekitar 10-15 kilogram. Untuk kebutuhan airnya juga tak terlalu banyak bila sudah tumbuh. Dalam 1 stek juga dapat menghasilkan 10-15 kilogram pakan.  Dalam sehari, jika berat sapi 300 kilogram, 10% berat badan hanya membutuhkan 3 stek rumput odot,” tutupnya. (*)

  • Bagikan
Exit mobile version