Bedah buku “Dibalik Krisis Ekosistem” terselenggara di IPB

463
views
Prof Hariadi -sedang memegang micropohone- tengah menjelaskan terkait isi buku yang ditulisnya foto: mediatani.co

Mediatani – Bogor, Isu ekosistem merupakan salah satu isu yang dewasa ini sering diperbincangkan. Tidak hanya di kalangan akademisi dan praktisi, tetapi di tingkat masyarakat secara luas pun isu ini sudah menjadi barang konsumsi yang tidak langka lagi.

Pasang iklan

Bedah buku berjudul “Dibalik Krisis Ekosistem” merupakan salah satu bentuk pembahasan secara holistik mengenai isi buku tersebut. Adapun buku ini merupakah buah karya yang ditulis oleh Prof Hariadi Kartodihardjo selaku Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB.

Penyelenggara kegiatan merupakan para mahasiswa dari Forum Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pengelolaan Hutan (Forma IPH), Forum Mahasiswa Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan “Ecologica”, dan Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan IPB / Forest Management Student Club (FMSC). Nur Suhada selaku ketua panitia menyatakan sangat bersyukur kegiatan ini bisa terselenggara berkat dukungan dari berbagai pihak ungkapnya pada pembukaan acara ini yang dilakukan pada Sabtu 11 November 2017 yang dimulai pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB di Auditorium Sylva Pertamina IPB.

“Pada bedah buku kali ini, akan dibedah oleh empat orang pemapar yang terdiri dari mahasiswa S1, S2, S3, dan juga praktisi kehutanan” ungkap Suhada saat memberikan laporan ketua pelaksana.

Kemudian Wakil Dekan Fakultas Kehutanan IPB Dr Naresworo Nugroho mengatakan dalam sambutannya terkait cara berpikir dan bertindak rimbawan (orang yang bekerja di bidang kehutanan – red) haruslah mampu kritis dan mengkritisi diri sendiri.

“Buku yang ditulis oleh Prof Hariadi atau Mas Hariadi ini merupakan cerminan dari cara berpikir dan bertindak kita selaku rimbawan” Ungkap Dr Naresworo dalam sambutannya.

Kemudian ia melanjutkan sambutannya dan sebelum ia membuka acara secara resmi ia berpesan bahwasanya kajian ekosistem tidak semata-mata hanya ada pada satu bidang ilmu saja, tetapi dari semua aspek keilmuan mesti bisa bahu-membahu saling melengkapi”.

Kegiatan yang dihadiri langsung oleh Prof Hariadi Kartodihardjo ini dimoderatori oleh Oding Affandy yang merupakan mahasiswa S3 IPH.

Pada pembahasan pertama oleh Budi yang merupakan mahasiswa pascasarjana strata 3 ini membedah mengenai kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Ia membahas mengenai akar masalah pengelolaan Sumberdaya Alam ialah tidak terurusnya permasalahan secara baik dan benar.

“Sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia semakin hari semakin berkurang, tetapi arus kepentingan semakin hari semakin meningkat” jelasnya.

Pada akhir pembahasannya Budi menjelaskan perlunya pergerakan cara berpikir dari yang monodisiplin ke arah multidisiplin yang kemudian dikembangkan menjadi interdisiplin dan dikembangkan lagi pada transdisiplin ilmu.

Pembahasan kedua dipaparkan oleh Hengki Simanjuntak selaku mahasiswa Pascasarjana strata 2 yang menjelaskan mengenai tata kelola lanskap. Ia memandang pentingnya tata kelola lanskap dengan dasar Ekoregion yang melibatkan berbagai komponen yaitu pendekatan perilaku melalui kelembagaan, birokrasi, dan politik.

Pembahasan ketiga Rio Firmansyah sebagai mahasiswa strata 1 membahas mengenai hutan adat dan hutan negara. Ia kemudian memaparkan juga mengenai pergerakan arus kewenangan dan pembagian kewenangan atas pengelolaan ekosistem antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Dr Nurtjajawilasa selaku praktisi kehutanan memaparkan pada pemaparan ke empat. Ia membahas mengenai bad governance yang akhir-akhir ini sering disoroti oleh publik. Pembahasannya menyinggung mengenai perubahan memang perlu terjadi pada tingkat kebijakan, karena perubahan tidak terjadi tanpa ketidaknyamanan walau perubahan itu akan mengubah kondisi menjadi lebih baik.

Prof Hariadi sendiri pun tampil untuk memberikan tanggapannya di depan forum. Berbagai macam pertanyaan di 2 sesi pertanyaan yang dibuka oleh moderator, Prof Hariadi pun menjawabnya dengan tenang dan mengacu pada buku yang telah ditulisnya ini.

Pada akhir acara masing-masing pembahas memberikan closing statement. Prof Hariadi menyatakan perlunya memperluas wawasan karena pengelolaan ekosistem tidak akan berhasil jika hanya ditangani satu bidang saja. ia menceritakan terkait pengalamannya yang dituntut untuk bisa memahami persoalan hukum dan juga mengenai persoalan data faktual di lapangan seperti laporan-laporan dan buku-buku yang dikeluarkan oleh LSM dan bidang keilmuan lainnya.

Pada sesi ini Hengki menekankan pentingnya kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan ekosistem. Kemudian Dr Nurtjajawilasa memandang bahwasanya di masyarakat pun sebenarnya sudah banyak pemikiran-pemikiran dan nilai-nilai yang sesungguhnya mampu mempertahankan ekosistem di tingkat lokal atau kecil.

“Nah apakah perlu kiranya mengawinkan pengetahuan lokal tersebut dengan saintifik forestry yang tentunya masih banyak diperdebatkan, tetapi yang utamanya ialah belajar untuk bisa memahami nilai-nilai tersebut” pungkasnya.

Budi di sesi ini mengajak kepada para hadirin untuk selalu bisa menjadi individu-individu pembelajar yang harus bisa selesai dengan diri sendiri dan mau memperluas wawasan dan pengetahuan kita selaku orang muda. Sedikit menyinggung persoalan yang dihadapi di kaum muda mahasiswa, Rio dalam akhir sesi ini menyatakan persoalan yang terjadi belakangan ini memang kurangnya wawasan padahal pengetahuan sudah sangat mudah diakses tetapi hanya

saja kita sendiri yang terlalu enggan untuk mau menjadi pembelajar.
/MAK