Mari Sontek Keunggulan Sektor Pertanian di Negeri Sakura

3500
views
Pertanian Di Jepang - Salah satu aktivitas petani di jepang yang memanfaatkan tekhnologi.

Mediatani.co – Jepang adalah salah satu negara Asia Timur yang terkenal maju di berbagai bidang. Negara berpenduduk lebih dari 127 juta jiwa ini memiliki beberapa komoditas utama yang diekspor ke Indonesia, yaitu kendaraan bermotor, produk elektronik, semikonduktor, dan bahan-bahan kimia. Secara geografis, Jepang tak jauh berbeda dengan Indonesia.

Jepang berada di urutan ketiga sebagai negara kepulauan terbesar di dunia setelah Indonesia dan Filipina. Pertanian di Indonesia dinilai berpeluang untuk pengembangan food estate, perkebunan jagung, dan peternakan sapi oleh investor Jepang.

Apabila Jepang terkenal dengan inovasi teknologinya yang mumpuni, berbeda dengan Indonesia. Negeri ini dikenal dengan negara agraris serta besarnya potensi sumberdaya yang dapat mencukupi kebutuhan pangan nasional. Namun kebijakan pemerintah beberapa kali melakukan impor bahan pangan yang dapat melemahkan kaum petani.

Selain impor pangan, masih banyak permasalahan yang kita hadapi dalam mengembangkan sektor pertanian. Beberapa diantaranya adalah masifnya konversi lahan pertanian, belum meratanya akses petani terhadap informasi dan teknologi, budaya pertanian dan pangan yang luntur karena tingkat konsumsi produk lokal menurun, dan sedikit penduduk Indonesia berusia produktif yang mau berkontribusi di bidang pertanian.

Lalu apa saja nilai plus dari sektor pertanian di Jepang yang bisa kita pelajari?

1. Petani mempunyai lahan pertanian yang luas

Hampir seluruh lahan pertanian di Jepang adalah skala kecil dan kepemilikan keluarga. Setiap keluarga mempunyai lahan sawah yang disebut tabno. Berbeda dengan di Indonesia, sebagian besar petani kita tergolong petani gurem dengan kepemilikan lahan tidak lebih dari 0,8 hektar atau 800 m persegi.

Sedangkan di Jepang, setiap keluarga petani bisa menguasai hampir 10 hektar lahan pertanian. Kuncinya adalah pewarisan pemilikan tanah yang konsisten yang berbeda dengan kita. Di Indonesia umumnya pewarisan lahan sawah dibagi sesuai jumlah anak dan ada kebebasan untuk mengkonversi lahan warisan tersebut, baik dijual atau dijadikan bangunan. Kalau di Jepang sudah lazim bagi keluarga petani konsisten untuk mengembangkan lahan pertaniannya.

Lanskap teras sawah di Jepang (Foto: JAPAN Monthly Web Magazine – Japan National Tourism Organization)

2. Urban agriculture

Hal unik yang terjadi di negara yang pangan pokoknya nasi ini adalah lahan sawah yang berdampingan dengan suasana perkotaan. Apabila di Indonesia lahan sawah identik dengan pedesaan, maka beda dengan di Jepang. Ada istilah urban agriculture (pertanian perkotaan) di negara ini.

Pemerintah juga mendukung sektor pertanian untuk tidak tergerus dengan pembangunan kota yang masif, salah satunya dengan mempertahankan lahan sawah. Pembangunan jaringan telepon, jalan, bahkan perumahan yang berpotensi menggusur lahan sawah bisa diakali dengan membangunnya di atasnya.

Menurut data dari United Nations University, sebanyak 25% petani merupakan petani kota (urban farmers) dari total petani di Jepang. Keuntungan yang didapat dari urban agriculture adalah akses terhadap produk pertanian yang lebih aman dan segar, termasuk yang organik atau rendah residu kimia.

Masyarakat Jepang semakin sadar terhadap pentingnya konsumsi pangan yang sehat sehingga menstimulasi mereka untuk secara mandiri melakukan urban farming. Di Jepang juga terdapat seni menanam padi sehingga saat memasuki musim panen akan muncul gambar tertentu yang terlihat dari atas udara.

Secara estetika, pertanian perkotaan juga bernilai positif dengan memberikan pemandangan yang asri dan ruang hijau yang lebih luas untuk kenyamanan mereka. Masyarakat Jepang secara langsung terlibat dalam kegiatan bertani sehingga memunculkan kepedulian bagi anak-anak untuk menjaga warisan lahan pertanian yang tersisa. Apabila Indonesia mau menerapkan sistem ini, bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan sektor pertanian kita akan semakin membaik dan berkelanjutan.

Pola yang tergambar secara alami di lahan sawah Jepang (Foto: Amusing Planet)

3. Penggunaan teknologi canggih

Apabila sistem pembajakan sawah di Indonesia masih menggunakan tenaga hewan, maka berbeda dengan Jepang. Akses terhadap mesin pertanian yang mudah dapat mempersingkat waktu pengerjaan disana. Bioteknologi di Jepang juga tergolong maju.

Mereka menanam berbagai macam varietas padi dengan alat, termasuk transplanter dan pemanen padi (harvester), hingga penggunaan helikopter untuk menyiram pupuk. Salah satu teknologi yang dikenal adalah kemampuan petani Jepang dalam menciptakan semangka berbentuk kotak yang dimulai dari tahun 1980-an.

Penggunaan traktor di Jepang (Foto: Tozai Boeki Kaisha, Ltd.)

Bagaimana menurut kawan-kawan sekalian, mungkin gak pertanian indonesia bisa semaju pertanian di jepang?

(Nurul Iswari)