8 Tips Budidaya Cabai Rawit, Dijamin Hasil Melimpah

  • Bagikan
Ilustrasi: Tanaman Cabai Rawit

Mediatani – Cabai rawit menjadi salah satu dari komoditas pertanian yang terbilang paling aktraktif. Di saat tertentu, harga cabai dapat naik berkali-kali lipat dan pada momen lain dapat turun hingga tak berharga.

Hal ini menjadikan budidaya tanaman cabai rawit menjadi tantangan sendiri. Meskipun menanam serta merawat tanaman cabai terbilang gampang-gampang susah, namun tidak ada salah untuk dicoba.

Untuk kamu yang ingin mencoba menanam cabai, berikut tips-tipsnya yang dilansir dari Kompas.com. Tips ini bisa digunakan oleh para petani untuk meningkatkan hasil kebunnya.

1. Menyiapkan Media Semai

Sebelum melakukan penanaman, terlebih dahulu siapkan media untuk menyemai benih cabai. Media yang dianjurkan yaitu campuran tanah, pupuk kompos atau kandang dan sekam bakar dengan rasio perbandingan 3:2:1.

Untuk mencegah munculnya serangan penyakit, media semai terlebih dahulu disterilisasi. Proses sterilisasi dilakukan dengan mengukus media atau dengan menjemur media di bawah sinar matahari. Setelah itu didinginkan lalu dimasukkan ke dalam wadah penyemaian kemudian disiram.

Untuk wadahnya sendiri, kamu dapat menggunakan polybag berukuran kecil, gelas plastik yang telah diberi lubang atau membeli tray semai yang terdapat di pasaran atau bisa juga menggunakan kotak telur agar lebih ekonomis.

2. Menyiapkan Benih

Setelah penyiapan media semai, selanjutnya adalah penyiapan benih tanaman. Untuk benih tanaman, kamu dapat menggunakan benih cabai yang berkualitas baik dengan buah yang penuh padat serta matang. Sebelum benih disemai, rendam benih terlebih dahulu dalam air hangat sekitar 54-50 oC selama kurang lebih satu jam.

Setelah satu jam perendaman, pilih benih yang mengendap ke bawah untuk mempercepat proses pertumbuhan. Sementara itu, agar terhindar dari serangan cendawan, benih sebaiknya direndam dalam larutan fungisida Previcur N dengan dosis 1-2 cc/liter air. Setelah itu tiriskan benih dan dikering anginkan di atas kertas koran agar tidak lengket di tangan saat penyemaian.

3. Penyemaian

Proses penyemaian benih dilakukan dengan meletakkan benih satu per satu dalam wadah penyemaian yang telah disiapkan sebelumnya, kemudian ditutup dengan media semai halus dengan cara diayak. Untuk mempertahankan kelambaban, persemaian ditutup dengan karung plastik atau goni atau menggunakan daun pisang.

Baca Juga :   Mengenal Dataran Rendah dan Ciri - Cirinya

Selama proses penyemaian, lakukan penyiraman dengan sistem semprot agar benih tidak terlalu banyak terkena air. Setelah memasuki 5-7 hari, saat benih mulai tumbuh, bukalah penutup semai dan segera jemur di bawah sinar matahari dengan penghalang seperti paranet atau plastik anti UV.

Setelah memasuki umur 20-30 hari atau berdaun 4-5 helai, bibit tanah dapat dipindahkan ke dalam pot atau ke dalam polybag berukuran beasar.

4. Media Tanam dan Penanaman

Bagi yang menggunakan media pot atau polybag, kamu dapat mencampurkan tanah dan pupuk kandang atau kompos dengan rasio perbandingan 1:1. Jika tanah terlalu padat, kamu dapat menambahkan sekam bakar dengan rasio perbandingan antara tanah, pupuk kandang atau kompos dan sekam bakar yaitu, 3:2:1.

Untuk ukuran media tanam yang dianjurkan yaitu 40 X 50 cm. Pemindahan bibit tanaman dari media semai ke media tanam sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari agar bibit mempunyai waktu untuk beradaptasi pada malam hari.

Sebelum bibit dipindahkan, terlebih dahul media tanam disiram dengan air sampai medianya menjadi jenuh. Kemudian bibit dikeluarkan dari wadah penyemaian dengan hati-hati dan ditanam pada media tanam. Media tanam harus dijaga agar tidak pecah.

5. Pemeliharaan

Proses pemeliharaan menjadi salah satu kunci dari keberhasilan dalam menanam cabai. Pemeliharaan harus dilakukan secara disiplin. Adapun pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan dan pemupukan.

Proses penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari. Penyiangan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan cara mencabut rumput-rumput liar yang berada di dalam dan di sekitar media tanam. Jika tunas samping dan sebagian daun telah tumbuh sampai ketinggian 15-25 cm, segera dipangkas atau dirempel.

Pemangkasan dilakukan untuk mnghindari percikan air penyiraman yang menempel pada bagian tanaman, membuat batang menjadi kokoh dan kuat, pertumbuhan bagian atas tanaman lebih sempurna dan mebuat sirkulasi udara menjadi lebih baik.

Baca Juga :   Bisa Dicoba di Rumah, Cara Menanam Alpukat Mentega dari Bibit hingga Perawatan Pohon

Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin menggunakan bahan yang kuat seperti bambu atau bahan kuat lainnya. Pemasangan ajir berfungsi sebagai penyanggah bagi tanaman.

6. Pemupukan

Pemberian pupuk kimia diberikan setelah tanaman berumur satu bulan. Pupuk yang diberikan yaitu pupuk NPK. Untuk membuat penyiraman, setiap media tanaman harus disiram dengan dengan larutan pupuk kurang lebih 200 ml setiap satu kali dalam 10 hari.

Sebagai pupuk tambahan, kamu juga dapat memberikan air cucian beras, air cucian daging atau ikan, pupuk cair (urine ternak) dan pupuk nabati seperti Titonia. Sebelum digunakan, terlebih dahulu saringlah air cucian beras atau air cucian daging/ikan Untuk urine ternak yang digunakan yaitu urine yang sudah difermentasi dan banyak dijual di pasaran.

7. Pengendalian Hama

Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan menerapkan prinsip pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu dengan melakukan budidaya tanaman secara sehat yang diawali dengan pemilihan varietas benih yang tahan, bebas serangan OPT, perlakuan benih, sterilisasi media semai, penyiraman, sanitasi lahan dan pemupukan secara tratur serta pengamatan secara rutin pada pagi dan sore hari.

Jika hama ditemukan, lakukan pengendalian secara mekanik, yaitu dengan mengambil hama tersebut kemudian menyingkirkannya. Selanjutnya disemprotkan pestisida nabati atau pestisida alami seperti minyak seraiwangi dengan dosis 1-3 cc/liter air dan ditambah dengan sedikit detergen.

Untuk pestisida nabati lainnya, umumnya dapat dibuat dari bunga kembang paku lempat, daun sirsak, bayam duri, daun mindi, daun bengkuang, tembakau dan lain-lain.

8. Panen

Proses pemanenan cabai dilakukan saat tanaman berumur sekitar 80-90 hari setelah tanam (HST), tergantung pada jenis varietas dan ketinggian tempat tumbuh.

Proses pemanenan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca sedang cerah. Cabai rawit dapat dipanen setiap seminggu sekali. Jika proses budidaya dilakukan secara benar, cabai rawit dapat berproduksi selama dua sampai tiga tahun.

***

Demikian 8 tips bagi kamu yang hendak membudidayakan tanaman cabai rawit. Semoga dapat bermanfaat dan dapat dipraktikkan secara langsung.

  • Bagikan