Aktivitas Merapi Meningkat, Ternak-ternak Warga pun Mulai Didata

  • Bagikan
Ilustrasi ternak sapi/ist

Mediatani – Aktivitas gunung Merapi yang cenderung meningkat akhir-akhir ini membuat warga di sekitar Kawasan Rawan Bencana (KRB) III bersiap mengevakuasi diri dan barang berharga mereka.

Dibantu Tim Siaga desa Selo, Boyolali juga para relawan, hewan-hewan ternak milik warga pun mulai didata, Minggu (10/1/2021).

Sebagaimana dilaporkan Solopos.com, Senin, (11/1/2021), Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Selo, Mujianto, menuturkan pada hari kemarin, pihaknya mengawali kegiatan dengan apel siaga di Dusun Bakalan dan Sumber Desa Klakah.

“Berkaitan dengan rekomendasi hasil evaluasi kemarin, hari ini (Minggu) kami melakukan apel bersama tim siaga desa dan para sukarelawan yang ada di Kecamatan Selo. Selain apel siaga Merapi, kami juga cek jalur evakuasi serta pendataan ternak di Bakalan dan Sumber, Desa Klakah,” kata dia kepada Solopos, Minggu, (10/1/2021).

Pada kesempatan itu, dia mengatakan, timnya juga melakukan pengecekan jalur evakuasi yang pas bagi warga sekitar.

Ada sejumlah 210 personel yang dikatakannya, terlibat dalam acara tersebut. Di antaranya, terdiri atas sembilan tim siaga desa dan enam komunitas sukarelawan.

Dia menambahkan, nantinya para relawan itu memberi hasil evaluasi mengenai kendala apa saja yang mungkin ada dan menentukan langkah apa yang perlu diambil selanjutnya.

Dia melanjutkan pihak FPRB pula mulai mengaktifkan para sukarelawan lokal yang bertugas mendampingi warga di Kawasan Rawan Bencana. Tiap-tiap relawan bakal mendampingi 10 keluarga.

“Melalui personel yang ada, kami sosialisasikan ke warga kondisi Merapi saat ini dan aktivitasnya beberap hari ini. Terlebih mulai tanggal 4 Januari kemarin, waktu di mana Merapi mulai erupsi. Maka kami mengimbau warga agar kelompok rentan dipindahkan sementara, nanti dalam tahap evakuasi, untuk kelompok rentan sudah di TPPS (tempat penampungan pengungsi sementara),” kata dia.

Perihal kondisi terkini di Selo, dia mengungkapkan pada dua hari sebelumnya hujan sempat mengguyur disertai abu tipis.

Hujan abu itu, sebutnya terjadi, Jumat, (8/1/2021) sekira pukul 17.00 WIB hingga Sabtu (9/1/2021) sekira pukul 12.00 WIB. Dia menambahkan, hujan abu tipis sempat mengguyur beberapa wilayah di antaranya, Suroteleng, Samiran, Lencoh dan Jrakah.

Berdasarkan informasi akun Instagram BPPTKG, menyebut pada hari Sabtu sekira pukul 06.00-12.00 WIB terdapat guguran lava tujuh kali dengan jarak luncur maksimal 500 meter ke arah hulu Kali Krasak. Juga awan panas yang berguguran pada pukul 08.45 WIB yang arahnya luncurnya ke hulu Klali Krasak.

Sementara itu. warga-warga di kawasan rawan bencana (KRB) III, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, sampai kini masih enggan mengevakuasi diri. Walau Gunung Merapi telah memasuki fase erupsi, sebagaimana disebutkan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, beberapa waktu lalu.

Tokoh masyarakat Desa Sidorejo Sukiman, dilansir dari Merdeka.com, Senin, (11/1/2021), menjelaskan, bahwa alasan warga di desanya belum mau mengungsi dari lokasi berbahaya tersebut dikarenakan warga lebih takut dengan penyebaran covid-19.

“Warga itu bukan ngeyel (bandel). Kata warga, mereka lebih takut Covid-19 daripada Merapi,” ujar Sukiman, Senin (11/1/2021).

Walaupun begitu, disebutkannya, warga yang diketahuinya rentan, sudah siap sewaktu-waktu jika harus dievakuasi, termasuk kendaraannya.

Alasan lainnya, kata Sukiman yakni saat ini warga sudah merasa lega karena setelah menunggu dengan waktu yang lama, diketahui kubah titik api Merapi berada di sebelah barat. Padahal, posisi Desa Sidorejo berada di tenggara Gunung Merapi.

Meski demikian, warga siap diungkapkannya, siap kapan saja untuk mengungsi jika memang Merapi mengalami erupsi.

Pihaknya sendiri berujar, lebih memilih konsep ‘sister family’ dibandingkan paseduluran desa (sister village). Hal itu ditambahkannya, hanya untuk menghindari penularan Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan.

“Dulu memang konsepnya paseduluran desa (sister village). Seperti dari dukuh di sini menuju desa yang ada di bawah. Tapi kan ini Covid-19 naik terus, jadi kita memilih konsep yang lain, paseduluran keluarga atau sister family,” jelasnya.

Pemilihan dan penentuan konsep ‘sister family’ ini, menurutnya, bukan tanpa risiko.

Para pengungsi sendiri dikhawatirkan tak akan mendapatkan hak-haknya sebagaimana pengungsi lainnya. Namun warga di situ lebih memilih untuk tidak memperoleh bantuan sebagai pengungsi, asal selamat.

“Kata warga, lebih baik ora etuk (tidak dapat bantuan) tapi selamat. Daripada dapat bantuan, tapi mengungsi bareng-bareng dan bahaya Covid-19 mengancam,” katanya. (*)

  • Bagikan