Atasi Kelangkaan Kebutuhaan Petani, LRPM Agri School Hadirkan Inovasi Pupuk Cair

  • Bagikan
Kepala Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tolitoli "Rustan Rewa, SP., MP bersama Penyuluh dan pendamping IPDMIP melakukan kunjungan ke Lahan Percontohan dalam pemanfaatan Inovasi LRPM Agri School.

Mediatani – Kebutuhan produksi usaha tani merupakan faktor yang mendapat perhatian penting dalam memajukan sektor pertanian dalam negeri. Pasalnya, tak jarang kebutuhan produksi pertanian seperti pupuk, mengalami kelangkaan atau menghabiskan biaya produksi yang tinggi.

Inovasi merupakan sebuah terobosan yang diperlukan untuk menjawab masalah kebutuhan petani tersebut. Inovasi yang diperlukan itu bisa berupa produk lokal yang dapat memaksimalkan budidaya tanaman petani.

Agri School sebagai Lembaga Riset & Pemberdayaan Masyarakat (LRPM) yang berbasis di Kabupaten Tolitoli menghadirkan produk berupa pupuk cair sebagai produk lokal yang dapat dijadikan solusi bagi petani dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman.

Melalui program Peningkatan Mutu & Produktivitas Pertanian, LRPM Agri School menghadirkan inovasi pupuk cair yang dapat dijangkau oleh kalangan petani, tanpa mengesampingkan mutu dan kualitas.

Beberapa produk inovasi itu, di antaranya yaitu Pupuk Cair AgroMAX (Pertumbuhan), NutriEL (Nutrisi Esensial), TaniVIT (Pupuk Buah), dan PROtani (Palawija & Hortikutura).

Direktur LRPM Agri School Marding, SP., MP menjelaskan bahwa semua produk tersebut dibuat dari bahan pilihan yang terjamin ketersediaannya dan diproses dengan mekanisme gradasi dan degradasi unsur, sehingga bisa langsung dikonsumsi oleh tanaman.

Pupuk cair AgroMAX (Pertumbuhan) dan nutrisi tanaman NutriEL (Nutrisi Esensial) untuk pertama kali telah diaplikasikan pada lahan percontohan tanaman padi sawah di Desa Tinigi Kec. Galang kab. Tolitoli setelah 7 hst.

Pupuk cair ini dapat membantu tanaman dalam proses pertumbuhan dan meningkatkan produktivitas buah dengan memperbanyak bunga, membantu mengurangi kerontokan buah/ bunga dan membantu meningkatkan kualitas buah (rasa, aroma dan warna) serta meningkatkan keawetan buah dari kerusakan setelah panen.

Baca Juga :   Gubernur Kalteng Tinjau Infrastruktur Pertanian Program Food Estate di Kapuas

Inovasi pupuk ini juga mengurangi kebutuhan pupuk NPK hingga 75% – 90%, sehingga mampu menekan biaya produksi. Dari hasil uji coba yang dilakukan 2 MT, proses budidaya mampu menekan biaya produksi mulai dari penggunaan tenaga kerja, penggunaan berbagai produk nutrisi yang mahal, hingga kebutuhan pupuk petani.

Cara aplikasinya pun sangat mudah. Pupuk cair disemprotkan melalui daun atau tanah agar tanaman dapat langsung mengkonsumsi unsur hara yang terkandung di dalamnya.

Dukungan Pemerintah untuk sektor pertanian di Kabupaten Tolitoli

Kepala Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura, Rustan Rewa, S.P., M.P telah melakukan kunjungan ke lahan percontohan dan meninjau langsung hasil dari pengaplikasian produk lokal hasil riset dan pengembangan LRPM Agri School, Selasa (21/6/2022).

Kunjungan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah melalui Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tolitoli untuk terus mendukung upaya pemuda tani milenial dalam memajukan pertanian di Indonesia terkhusus di daerah Kabupaten Tolitoli.

Dalam kunjungannya, Kadis TPH Rustan Rewa didampingi oleh Direktur LRPM Agri School Marding, SP., MP bersama dengan Ketua Kelompok Tani Irwan.

Sebelum meninjau hasil pengaplikasian pupuk cair ini, sebelumnya, Kadis Rustan juga telah menyempatkan untuk berdiskusi dan meyakinkan masyarakat tentang produk hasil riset dan pengembangan lembaga Agri School pada Minggu, 12 Juni 2022.

“Kami ingin mengkaji produk-produk lokal yang ada di daerah ini untuk membantu petani dan bisa menyelesaikan masalah, terutama untuk menekan biaya produksi, tetapi tetap bisa meningkatkan produksi,” ungkap Kadis Rustan dalam video yang diunggah di akun Facebook Agri School, Minggu (12/6/2022).

Baca Juga :   Ciptakan Produk Ramah Lingkungan, Talasi Berdayakan Masyarakat Lokal

Satu petak lahan dengan luas 20 are dijadikan sebagai lahan percontohan untuk menjawab kebutuhan petani di tengah kelangkaan yang dihadapi. Sehingga nantinya petani dapat memanfaatkannya untuk usaha taninya.

Usia tanaman kurang lebih 13 hari setelah pindah tanam dan dilakukan penyemprotan pupuk cair pertama yang dilakukan beberapa hari yang lalu untuk membantu tanaman tumbuh dengan maksimal.

Kadis Rustan berharap dengan adanya produk lokal ini, masalah kebutuhan pertanian yang dihadapi petani saat ini sudah dapat terjawab.

Agri School

Sebagai lembaga pemberdayaan, Agri School terus berupaya secara aktif terlibat dalam pengentasan kemiskinan yang dialami masyarakat petani. Lembaga ini melihat penyebab sektor pertanian di Indonesia cukup tertinggal karena pola pikir masyarakat yang salah, terutama pandangan terhadap pekerjaan pertanian.

Belum lagi kebijakan harga, terutama pada produk pangan dan masalah teknis seperti irigasi, benih, dan pupuk. Oleh karena itu, Agri School meningkatkan keterampilan masyarakat desa khususnya dalam bidang pertanian, sehingga dapat menjadikan petani mandiri dan sejahtera, serta menumbuhkan semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

Di Agri School, masyarakat dan generasi muda dilatih membudidaya tanaman, termasuk membuat pembibitan. Untuk usaha peternakan, generasi muda dilatih dalam pembibitan dan penggemukan, misalnya bagaimana memilih ternak yang terbaik untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi, serta meningkatkan hasil yang akan diterima oleh peternak.

Pola pemberdayaan ini diharapkan dapat meningkatkan softskill dan hardskill, sehingga masyarakat desa menjadi lebih produktif dan menarik mereka untuk menjadi petani yang profesional.

  • Bagikan