Inovasi Baru, Pemerintah Luncurkan Aplikasi Peternakan dan Kesehatan Hewan

  • Bagikan

Mediatani – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan aplikasi bidang peternakan dan kesehatan hewan berbasis online yang dinamakan UPT Online.

Aplikasi UPT Online ini juga merupakan salah satu terobosan dalam mempermudah  pemantauan perkembangan, pemeliharaan atau pembibitan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH.

Dirjen  Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, Jumat (11/6/) dalam keterangannya menjelaskan bahwa melalui aplikasi ini penghasil bibit dapat dipantau dan dikontrol populasinya, kelahiran, distribusi serta beberapa kendala reproduksi ternaknya.

“Intinya aplikasi ini akan memudahkan, seperti mempermudah untuk mengotrol perkembangan UPT di Indonesia,” katanya, melansir, Minggu (13/6/2021) dari situs kominfo.jatimprov.go.id.

Ditjen PKH sendiri memiliki 10 Unit Pelaksana Teknis (UPT) perbibitan yang dalam tugas dan fungsinya menghasilkan bibit dan benih ternak.

UPT tersebut juga meliputi BBPTU HPT Baturraden, BPTU HPT Denpasar, BPTU HPT Padang Mengatas, BPTU HPT Sembawa, BPTU HPT Indrapuri, BPTU HPT Pelaihari, BPTU HPT Siborong Borong, BBIB Singosari, BIB Lembang dan BET Cipelang.

Aplikasi ini merupakan aplikasi berbasis website yang mampu menggambarkan periihal dinamika populasi masing-masing UPT, khususnya UPT penghasil bibit.

Menu yang ditampilkan berupa dinamika populasi seperti jumlah populasi ternak, kelahiran, distribusi, dan reproduksi ternak.

Baca Juga :   Pisang Mas Kirana, Berpotensi Ekspor Namun Ketersediaan Minim

Dalam tampilannya, aplikasi ini pula bisa memperlihatkan struktur populasi ternak berdasarkan umur yaitu anak (0-6 bulan), muda (6-18 bulan) serta ternak  dewasa/produktif (diatas 18 bulan).

“Yang menarik lagi dari aplikasi ini disediakan menu Alert System yaitu berupa menu untuk memonitor kinerja teknis reproduksi ternak khususnya sapi,” jelas Nasrullah.

Beberapa menu lain yang juga sudah dikembangkan yakni jumlah dan identitas dara yang belum/sudah dikawinkan yang muncul jika ternak betina sudah masuk dewasa kelamin.

Selain itu, jumlah dan identitas betina yang sudah dilakukan pemeriksaan kebuntingan (PKB) yang muncul jika sudah dikawinkan minimal 1,5 bulan sebelumnya.

Kemudian, menu persiapan beranak yang muncul mulai bulan ke 8 kebuntingan, induk siap kawin (post partus dan PKB tidak bunting) yang muncul 2 bulan setelah betina beranak atau di kawinkan namun belum bunting, dan ternak dengan potensi gangguan reproduksi (gangrep ),untuk  memonitor ternak yang belum bunting karena sakit atau mengalami gangrep.

Aplikasi ini diyakini sangat memudahkan bagi pimpinan, baik di pusat maupun di masing-masing UPT untuk memantau kinerja reproduksi ternak, khususnya sapi pada UPT perbibitan.

Baca Juga :   Kades Beri Contoh Beternak Ayam KUB, Bangkitkan Ekonomi Warganya

Nantinya para pimpinan bisa segera mengambil langkah-langkah teknis dan kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi.

Umtuk menjaga aplikasi ini berjalan secara berkelanjutan, koordinasi yang baik dengan UPT terkait akan terus dilakukan. Hal ini mengingat data-data  bersumber dari masing-masing UPT.

“Pihak  UPT  harus secara berkala menginput data di aplikasi ini sehingga data yang ditampilkan atau disajikan bisa real time,” tutur Nasrullah.

Terapkan Teknologi, Smart Farming Dorong Efisiensi Pertanian hingga 90%

Dari sisi petanian, upaya Kementerian Pertanian RI untuk mengajak para petani muda dalam menerapkan teknologi smart farming berbuah hasil.

Syahrul Yasin Limpo selaku menteri pertanian menyampaikan bahwa dengan adanya teknologi, kegiatan budidaya akan semakin lebih mudah.

Melalui keterangan tertulisnya pada Jumat (11/6/2021), Mentan SYL juga mengatakan bahwa penerapan pertanian yang berbasis teknologi akan lebih efisien dan modern sehingga dinilai mampu mendorong akselerasi produksi petani.

Sebagai contoh yaitu Petani Bali dan Petani Muda Keren Bali. Keduanya sebagai suatu batu loncatan yang coba dilakukan agar pertanian tak berjalan apa adanya. Terutama dimasa pandemi ini, sektor pertanian harus bisa naik kelas…baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

  • Bagikan