Kepala Dusun Mapur Panen Jagung Pakan Ternak, Dihargai Rp5.000 per Kg

Busrah Ardan - Mediatani.co
  • Bagikan
bahan pakan ternak/ist

Mediatani – Kepala Dusun (Kadus) Mapur Desa Mapur Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka, Naga Videra alias Oga melaksanakan panen perdana jagung hibrida B54 di areal kebun seluas 3 hektare di Dusun Mapur Desa Mapur Kecamatan Riau Silip, Minggu (07/02/2021).

“Kita sudah selama sekitar satu minggu terakhir ini memanen jagung hibrida B54 untuk kebutuhan pakan atau makanan ternak di kebun yang luas sekitar 3 hektare. Dengan perkiraan hasil sekitar 5 ton, penanaman ini memang baru pertama kali dilakukan atau baru ujicoba di sini,” kata Oga sapaan akrabnya dikutip Selasa (9/2/2021) dari situs berita Bangkapos.com.

Dia mengungkap bahwa usia tanaman jagung itu sekitar 90 hari atau tiga bulan sekali untuk bisa panen dan pula mudah dalam perawatannya, murah di biaya produksinya yang cukup dua kali pemupukan.

“Prospek bisnis jagung untuk pakan  ternak ini cukup bagus ke depannya, sebab berapapun banyak hasil produksi ada pengepul di Pangkalpinang dan Sungailiat yang bersedia membelinya pada kisaran harga Rp 4.500-Rp 5.000 per kg. Sedangkan, untuk harga jual di toko berkisar antara Rp 7.000-8.000 per kg,” kata Oga.

Dia mengakui tertarik untuk mengembangkan bisnis pertanian jagung pakan ternak itu dikarenakan cukup mudah dan tidak rewel dalam pemeliharaannya.

Usia jagung pun cepat panen, batangnya pendek, sedangkan buah tongkol jagungnya juga rapat atau penuh.

“Setiap batang jagung pun memang hanya ada satu buah atau satu tongkolan jagung akan tetapi hampir semuanya berisi. Satu tongkolan jagung bisa mendapatkan 1,5 hingga 3 ons jagung pipil kering,” ucap Oga.

Baca Juga :   Rektor IPB Ajak Akademisi Inovasikan Pakan Ternak dari Rumput Laut dan Limbah Sawit

Dia menambahkan bahwa jagung itu bisa ditanam 3-4 kali panen dalam satu tahun atau paling tidak bisa sedikitnya 3 kali panen saja dalam satu tahun.

“Satu ton jagung pipil kering Kuta bisa dapat Rp 5 juta, kalau dapat 4-5 ton menghasilkan Rp 20-25 juta per 3 bulan, dan satu tahun bisa Rp 60-75 jutaan. Coba dibandingkan dengan ubi kasesa baru bisa panen satu tahun setelah penanaman dan biaya produksi, biaya panen, biaya angkut mahal. Maka dari itu kita petani hanya sedikit dapat hasilnya,” jelas Oga.

Ditegaskannya bahwa hal itu karena itu dirinya bertekad untuk mengembangkan tanaman jagung pakan ternak itu untuk salah satu alternatif penghasilan bagi warga dusunnya.

“Mudah-mudahan ke depannya, semakin banyak warga lainnya yang tertarik untuk menanam jagung pakan ternak itu. Karena prospeknya ke depan juga semakin bagus,” harap dia.

Sementara itu, di berita yang lain, sebelumnya, seperti yang diberitakan mediatani.co, kelompok Tani Ternak Kandang Bolang Jatisura Kecamatan Cikedung Indramayu mengeluhkan krisis pakan ternak sapi dan kambing yang terjadi pada musim hujan ini.

Mereka pun mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Peternakan untuk turun tangan mencari solusi terbaik bagi mereka.

Baca Juga :   Panen Raya Food Estate Kalteng, Hanya Penurunan Produksi dan Bukan Gagal Panen

“Kelompok Tani Ternak Kandang Bolang Jatisura Kecamatan Cikedung ini telah berlangsung puluhan tahun. Kami bisa menghasilkan jumlah sapi 3000 sampai 7000 ekor, dan kambing 4000 sampai 8000 ekor dengan kualitas yang terbaik. Adapun tenaga kerja, kami mampu menyerap hingga 400 orang dengan jumlah kepala keluarga sekitar 112 orang,” kata Ketua Tani Ternak Kandang Bolang H Nardiyah (47) kepada Radar saat ditemui di lokasi kandang sapi, Rabu  (27/1/2021) yang dikutip Kamis (28/1/2021) dari situs berita Radarindramayu.id

Diutarakannya bahwa selama bertahun-tahun ini tak ada masalah pakan ternak. Bahkan, prestasi Kelompok Ternak Kandang Bolang itu menjadi pemasok utama daging sapi dan kambing terbesar di wilayah Kabupaten Indramayu, termasuk yang di luar Indramayu. Pasarnya pun meliputi pasar tradisional maupun pasar moderen di mal-mal besar.

Tetapi, tambah dia, justru di awal tahun ini para petani ternak kesulitan dalam mencari pakan ternaknya.

“Saya sangat khawatir, jika kondisi ini terus berlangsung. Maka potensi kawasan sumber daging sapi dan kambing terbesar di Indramayu ini akan punah. Jangan sampai sumber penghasilan dan pendapatan utama masyarakat sekitar hanya tinggal nama. Maka dari itu, kami mohon kepada seluruh stakeholder terkait termasuk Pemkab Indramayu melalui Dinas Peternakan agar bisa membantu menyelesaikan persoalan ini,” jelasnya. (*)

  • Bagikan