Kisah Yulianti dan Wajah Masa Depan Pertanian Jawa Barat

  • Bagikan
1249 petani milenial jabar diwisuda
Petani Milenial Jawa Barat diwisuda di Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, Kamis (24/3/2022). Tahun ini, ada 1.249 petani yang diwisuda dan diharapkan menjadi wajah baru pertanian di Jabar. (Foto: Arsip Pemprov Jabar)

Mediatani – Sebanyak 1.249 warga Jawa Barat yang berusia di bawah 40 tahun diwisuda sebagai Petani Milenial di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Kamis, (24/03/2022).

Ketekunan mereka saat berkecimpung di bidang pertanian, perkebunan hingga perikanan diharapkan mampu untuk meredakan stigma petani yang tidak lagi berkubang dalam lingkaran kemiskinan, namun menjadi inspirasi.

Tahun 2019 menjadi titik perjalanan terendah dalam hidup Yulianti (26), petani sekaligus pengusaha gula aren dari Cililin, Bandung Barat.

Saat itu, Yuli harus mengalami kerugian hingga mencapai Rp 80 juta karena tidak mampu memenuhi janji pengiriman komoditas akibat petani mitra yang dipercayanya lebih memilih menjual gula aren kepada pihak lain.

Karena kejadian tersebut, dia merasa terpukul dan sempat tidak ingin melanjutkan usaha yang dirintisnya. Namun, setelah berpikir panjang, dia mengurungkan niat tersebut, sebab ada banyak petani yang tidak boleh ditinggalkannya begitu saja.

Yuli merupakan perintis kelompok tani gula aren di Desa Batulayang, Cililin yang diberi nama Gandrung Alam. Kelompok tani tersebut beranggotakan ratusan petani aren yang bekerja di lahan seluas 36 hektar.

Misinya lebih dari hanya sekadar mencari penghasilan semata. Dia sangat ingin membantu para petani gula aren agar dapat hidup layak.

”Kebetulan petani gula aren masih minim pilihan menjual produk. Mereka terbelit tengkulak nakal,” kata lulusan D-3 Manajemen Komunikasi ini.

Model bisnis yang dia kembangkan yaitu pola perusahaan sosial. Setelah mengembangkan hasil panen dengan pengolahan yang baik, dia mengajak kelompok tani untuk mencari tengkulak yang bersedia membeli panen mereka dengan harga yang ideal. Sekitar 5 persen dari pendapatannya dan kelompoknya disisihkan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan bersama-sama.

”Kini, kemampuan kelompok kami beragam. Kami menjual gula semut dan gula aren cair,” ungkap anak buruh lepas ini.

Kini, hasil dari ketekunannya terus berbuah manis. Penghasilan dari petani aren yang ada di kampung setara dengan penghasilan dari pekerjaan orang kota. Yuli membeberkan bahwa sebelum pandemi penghasilannya mencapai sekitar Rp 25 juta per bulan.

Pada tahun ini, saat pandemi Covid-19, dia tetap bersyukur karena masih memperoleh penghasilan Rp 10 juta per bulan. Tidak sampai di situ, dia juga terus mengembangkan usahanya hingga ke Tasikmalaya, memberi pendampingan ke petani gula aren yang ada di kaki Gunung Galunggung.

Saat ini ia juga menyasar pasar luar negeri. Dia menyadari bahwa pencapaian yang diimpikannya itu membutuhkan peningkatan keahlian hingga memiliki sertifikat.

Hal itulah yang juga menjadi alasan dirinya untuk ikut dalam program Petani Milenial. Dia sangat berharap mendapat banyak masukan dan pendampingan dari program tersebut, khususnya untuk bisa melakukan ekspor.

”Terakhir, ada sekitar 50 kilogram sudah kami kirim ke Mesir. Sampel gula aren juga sudah kami kirimkan ke Turki dan Dubai. Harapannya, semakin banyak gula aren dari kampung di Jabar bisa menembus pasar dunia,” katanya.

Kisah Yuli yang tinggal di desa namun punya rezeki kota dan bisnis mendunia, sejauh ini sesuai dengan tujuan Petani Milenial yang digalakkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar. Dimulai pada Maret 2021, sebanyak 8.996 orang dalam kurun usia 19-39 tahun telah mendaftarkan diri.

Sebanyak 2.240 yang diterima pada gelombang pertama. Mereka kemudian didampingi oleh Pemprov Jabar hingga Bank BJB.

Setahun kemudian, sebanyak 1.249 orang di antaranya diwisuda oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Bogor pada Kamis. Yuli mejadi salah satu lulusan diantaranya yang kemudian menerima rompi berwarna coklat serta topi lapangan berwarna senada.

Gubernur yang umum disapa Emil ini menuturkan, Petani Milenial muncul melihat tingginya kekuatan komoditas pangan. Saat pandemi, misalnya, sektor pertanian tetap melejit.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, geliat dari sektor pertanian tetap melejit di saat komoditas unggulan lain cenderung negatif. Tahun 2020, pertanian tangguh bertahan.

Sementara itu, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di sektor pertanian hingga triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 7,6 persen dibandingkan pada triwulan II-2019.

Nilai produksinya telah mencapai Rp 60,83 triliun. Bahkan, jika dibandingkan dengan triwulan I-2020, pertumbuhannya meningkat sebesar 45,8 persen.

Namun, fakta bahwa masih rendahnya tingkat kesejahteraan petani juga tidak bisa dipungkiri. Sejumlah petani masih sulit untuk dapat hidup sejahtera.

Data BPS Jabar pada tahun 2020 emnunjukkan persentase penduduk miskin tinggi berada di Indramayu dengan total 12,70 persen, disusul Cirebon (11,24 persen), Cianjur (10,36 persen), Tasikmalaya (10,34 persen), dan Garut (9,98 persen).

Hal tersebut kian menjadi memprihatinkan dikala banyak petani, termasuk yang ada di Jabar, memiliki usia yang tidak muda. Hasil dari Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) pada tahun 2018 yang dilakukan BPS, jumlah petani di Jabar mencapai sebanyak 3.250.825 orang.

Akan tetapi, dari jumlah petani tersebut, hanya sekitar 945.574 orang (29 persen) yang berusia antara 25-44 tahun. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa tidak hanya produk akhirnya saja yang memerlukan pembenahan, regenerasi petani juga membutuhkan perhatian yang serius.

”Dengan kondisi itu, kami kira butuh petani berusia muda jika ingin menjamin ketahanan pangan tetap terjaga,” katanya.

Emil menelaskan, perjuangan para petani milenial yang telah diwisuda jelas tidak mudah. Ada begitu banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi saat tengah menjalankan program ini bersama.

Emil mengibaratkan program ini seperti hiking ke puncak gunung. Ada peserta yang kelelahan dan kemudian mundur untuk melanjutkan perjalanan. Ada juga yang salah rute hingga pingsan saat di jalan. Namun, dia bersyukur karena sebagian besar dari peserta berhasil mendekati puncak gunung yang dituju.

Emil mengakui setahun belum bisa menggambarkan hasil akhir. Dia memerkirakan jika hasilnya baru bisa dinikmati pada 2045. Saat itu, sudah ada banyak anak muda yang kembali bertani dengan tentu saja memanfaatkan perkembangan zaman.

”Sekarang, kami masih terus berusaha mencarikan lahan untuk petani yang tidak punya tanah, fasilitasi permodalan, hingga bantuan peralatan. Selain itu, sangat penting mempromosikan penerapan aplikasi teknologi untuk menghasilkan produk berkualitas dan terukur,” kata Gubernur yang biasa disapa Emil.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version