Mengharukan, Kisah Petani Jual Kambing Demi Anak Bisa Ikut Belajar Online

  • Bagikan
Karlik, Petani Jual Kambing Demi Anak Bisa Belajar
Karlik (41), saat menemani anaknya mengikuti pembelajaran daring di salah satu rumah yang menyediakan akses internet melalui WiFi, di Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.(Foto Sumber: KOMPAS COM/MOH. SYAFIÍ)

Mediatani – Pandemi Covid-19 banyak mengubah aktifitas manusia menjadi serba online. Begitu juga dengan dunia pendidikan. Proses belajar-mengajar pun turut dilakukan secara daring atau kelas online.

Kondisi ini memaksa Karlik (41 tahun), seorang ibu rumah tangga keluarga petani Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Jombang, Jawa Timur ini berusaha sekuat tenaga agar anaknya tetap dapat mengikuti pembelajaran yang dilakukan secara online. Dia dan Suami berusaha dengan cara menjual seekor kambing miliknya.

Setelah menjual seekor kambing miliknya, Karlik membeli smartphone seharga Rp 1.500.000. Smartphone itu akan dipakai bergantian antara anak sulung dan bungsu.

“Sejak ada corona, pelajaran dilakukan online. Akhirnya ya jual kambing untuk beli HP (handphone), ditambah tabungan anaknya,” kata Karlik sebagaimana dilansir dari Kompas com, Rabu (22/7/2020).

Setelah membeli smartphone, ternyata permasalahan yang dihadapi belum elesai. alat komunikasi berbasis android yang dibeli dari uang hasil penjualan kambing tersebut tidak bisa digunakan untuk mengakses internet dari rumahnya.

Hingga Rabu (23/7) Pagi tadi, Ibu Karlik harus menemani anak keduanya mengikuti pembelajaran daring di salah satu rumah warga yang menyediakan akses internet melalui WiFi.

Pasalnya, Desa Marmoyo, permukiman penduduk yang menjadi tempat tinggal keluarga Karlik, merupakan salah satu desa pelosok bagian utara Kabupaten Jombang. Sebagian wilayahnya berupa hutan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro.

Karlik mengungkapkan, selama ini dia dan suaminya tidak pernah berpikir untuk memiliki smartphone. Baginya, smartphone tak begitu berguna dalam kehidupannya. Sebab, akses telekomunikasi dan internet sangat terbatas di Desa Marmoyo.

“Di desa ini kan tidak ada sinyal, kalau mau belajar online ya harus ke sini. Kalau di rumah (smartphonenya) enggak bisa dipakai,” tutur Karlik.

Karlik berharap, pemerintah segera memberikan izin untuk pelaksanaan belajar mengajar dengan metode tatap muka di sekolah.

“Harapan kami agar sekolah kembali masuk. Kalau belajar online terus ya susah. Di sini sinyalnya juga enggak ada,” Karlik Berharap.

Sementara itu, Sekretaris Desa Marmoyo Sumandi menilai bahwa metode pembelajaran daring (online) kurang efektif dilakukan di desanya. Dia mengungkapkan, keberadaan jaringan internet masih langkah di desa yang dihuni 1.100 jiwa penduduk ini.

Desa yang berada di wilayah perbukitan kapur itu hanya ada 12 titik yang terjangkau akses internet. Lokasi akses jaringan internet, antara lain ada di Kantor Desa Marmoyo, SDN Marmoyo, serta 10 rumah penduduk, dengan transmisi utama ada di kantor desa.

Kendala utama untuk pembelajaran daring di Desa Marmoyo, soal jaringan. “Di sini jaringan internet hanya bisa lewat WiFi. Seluler tidak bisa,” terang Sumandi.

Sumandi menuturkan bahwa sebelum pembelajaran daring diterapkan, masih sedikit warga desa yang memiliki smartphone. “Ramainya handphone ya baru-baru ini, sejak ada Covid-19. Itu karena sekolah menerapkan belajar secara daring,” kata Sumandi.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version