Menguak Fakta Dibalik Seaspiracy, Film Kontroversial Tentang Ekosistem Laut Saat Ini

  • Bagikan
seaspiracy

Mediatani – Seaspiracy, sebuah film dokumenter dari Netflix yang menayangkan tentang sisi lain dunia perikanan dan kelautan. Film berdurasi 90 menit ini menuai kontroversi di media sosial dan di kalangan kritikus.

Film yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Ali Tabrizi dan istrinya Lucy Tabrizi ini diawali dengan problem tentang pencemaran laut, menampilkan gambar-gambar aneh dari lumba-lumba dan paus yang dibantai dan spesies tangkapan sampingan berukuran besar yang dalam keadaan sekarat.

Film ini menuduh bahwa industri perikanan komersial tidak begitu memperhatikan kondisi hewan laut dan burung. Ali bahkan mengajak masyarakat untuk menolak akuakultur karena penggunaan bahan-bahan yang dikatakannya dapat mengakibatkan lingkungan yang buruk.

Mendapat dukungan finansial dari bintang Hollywood dan aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio, Seaspiracy mengikuti jejak film yang menceritakan tentang kejadian serupa Cowspiracy, yang dirilis pada tahun 2014.

Seperti film sebelumnya, film Seaspiracy ini juga bertujuan untuk mengimbau semua orang untuk berhenti mengonsumsi hewan laut. Bahkan makanan laut kaleng telah berlabel “aman” dan tidak melukai lumba-lumba dalam prosesnya dikatakan tidak dapat dipercaya.

Kesimpulan tersebut menuai kritik oleh berbagai pengamat dan netizen di media sosial. Berikut berbagai fakta dari film Seaspiracy yang diungkap oleh para ilmuwan dari berbagai organisasi perikanan :

Lautan akan kehabisan ikan 27 tahun ke depan

Informasi yang mengatakan bahwa lautan akan kehabisan ikan pada tahun 2048 adalah mitos, karena statistik yang ditunjukkan tidak dapat diterima secara ilmiah. Karena faktanya, populasi ikan yang diawasi selama ini rata-rata meningkat dalam jumlah yang berlimpah.

Hal itu sebenarnya berawal dari koran yang sebelumya terbit pada tahun 2006. Koran tersebut salah menafsirkan data yang diperoleh. Para jurnalis hanya menggunakan data yang sama, padahal terdapat puluhan makalah dan para penulis asli data tersebut yang telah melakukan memperbaharuan data.

Baca Juga :   5 Fakta Menarik Tentang Nelayan di Indonesia, Profesi yang Tidak Bisa Dianggap Remeh

Sekitar 40 persen ikan yang ditangkap akan dilemparkan kembali ke laut sebagai tangkapan yang tak disengaja. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena faktanya, selama 10 tahun terakhir, 10 persen ikan tangkapan yang tak disengaja telah dibuang di laut.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), tangkapan yang tak disengaja atau bycatch adalah “Jumlah total tangkapan hewan non-target”. Kemudian, berdasarkan penelitian terbaru, sekitar 10 persen ikan non-target tersebut telah dibuang ke laut selama sepuluh tahun terakhir.

AS membunuh 250.000 penyu laut setiap tahun

Angka statistik yang menyesatkan dari penelitian 17 tahun lalu kembali ditampilkan, penelitian tersebut menggunakan data dari tahun 2000. Karena penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa kematian penyu laut akibat penangkapan ikan telah membuatnya berkurang lebih dari 94 persen dari estimasi yang berlebihan.

Jaring nelayan menyumbang sebanyak 46 persen plastik di lautan

Plastik di laut memang masalah pencemaran yang mengerikan, akan tetapi penyajian informasi, dan kurangnya pemahaman ilmiah terhadap hal tersebut merupakan cacat yang signifikan. Karena berdasarkan berat, 46 persen plastik di penampungan sampah besar pasifik (GPGP), diperkirakan berasal dari jala ikan.

Berdasarkan data dari penampungan sampah besar pasifik (GPGP), dari triliunan potongan sampah yang mengapung di laut, megaplastik (berukuran lebih besar dari 50 cm) membentuk kurang dari 0,0002 persen potongan, dengan beberapa di antaranya merupakan jala ikan.

Akuakultur bukan bagian dari solusi makanan laut (seafood)

Seaspiracy yang membahas akuakultur dan menyimpulkan bahwa “semuanya buruk, dan bukan cara untuk makan seafood secara berkelanjutan”. Film ini menunjukkan bahwa faktanya pakan untuk ikan yang digunakan untuk budidaya sebenarnya berasal dari ikan yang ada di lautan bebas.

Katherine Bryar, Kepala Pemasaran dan Pencitraan Merek Global untuk produsen pakan akuakultur Denmark, BioMar, mengatakan selama beberapa dekade ini pihaknya telah meningkatkan dan mengoptimalkan bahan pakan kami untuk meminimalkan ketergantungan pada ikan dan mencari sumber bahan alternatif.

Baca Juga :   164 Organisasi Dunia Kampanyekan Lawan Industri Perikanan

“Kami dikenal di industri sebagai pemasok pakan yang berkelanjutan, dan kami perlu menceritakan kisah kami sehingga peternak tahu apa yang kami lakukan dan apa kebijakan kami seputar pengadaan. Mereka dapat yakin bahwa ketika mereka membeli pakan BioMar, kami menerapkan praktik keberlanjutan yang maksimal, ” terang Katherine.

Oleh karena itu, pembahasan akuakultur di film tersebut dikatakan tidak benar, karena akuakultur bertanggung jawab atas lebih dari setengah pangan laut yang dikonsumsi secara global. Sektor ini merupakan bagian penting untuk mencapai keamanan pangan global, untuk bumi yang sedang mengalami perkembangan.

Penangkapan ikan berkelanjutan itu tidak ada

Film Seaspiracy ini menyebutkan bahwa penangkapan ikan adalah hal yang buruk, dan di dalamnya terdapat konspirasi yang melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut adalah industri, Pemerintah, ilmuwan, LSM, dan pada dasarnya semua orang, kecuali orang-orang pelindung laut.

Seaspiracy menciptakan sebuah narasi bahwa pada setiap area penangkapan ikan selalu dilakukan aktivitas menangkap ikan secara berlebihan (overfished) dan tidak ada yang namanya berkelanjutan.

Hal tersebut dibantah oleh berbagai pihak, karena definisi dasar penangkapan ikan secara berkelanjutan adalah menangkap ikan sesuai jumlah yang tepat setiap tahunnya, secara terus-menerus.

Produksi ikan yang dikelola secara berkelanjutan akan lebih produktif, yang berarti semakin banyak pangan laut yang disediakan untuk memberi makan dunia. Terlebih, sektor ini memberikan pekerjaan untuk banyak orang, dan lebih banyak keuntungan.

Dengan populasi global yang akan mencapai 10 miliar pada tahun 2050, kebutuhan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab menjadi lebih mendesak dari yang sudah dilakukan sebelumnya. Untuk itu, penangkapan ikan yang berkelanjutan memiliki peran penting untuk dikelola dalam mengamankan sumberdaya tersebut.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani