Menjadi Unggulan di Sultra, Komoditas Perkebunan Ini Diekspor ke Lima Negara

  • Bagikan

Mediatani – Kegiatan ekspor di Indonesia bukan lagi sesuatu yang baru. Salah satu produk yang sering diekspor adalah produk komoditas perkebunan yang memang ketersediaan dalam negeri cukup melimpah dan tingginya permintaan pasar internasional. Banyak daerah yang menjadi penyedia produk ekspor, termasuk Sulawesi Tenggara.

Sulawesi Tenggara adalah salah satu provinsi yang juga berperan besar dalam kegiatan ekspor produk komoditas perkebunan. Dapat dikatakan jika provinsi ini termasuk salah satu penopang ekspor Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil riset Regional Potential Research Sulawesi Island yang menunjukkan bahwa wilayah Sulawesi Tenggara terdiri dari daratan dan kepulauan yang cukup luas dan di dalamnya terdapat berbagai produk ekspor.  Salah satu produk ekspor andalan provinsi ini adalah produk dari sektor perkebunan

Berdasarkan data yang tercatat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tenggara, sepanjang tahun 2020 daerah ini memiliki empat komoditas perkebunan unggulan yang telah diekspor ke lima negara.

Sitti Saleha, Kepala Disperindag mengatakan bahwa empat komoditas perkebunan yang telah diekspor itu adalah kakao, mete, kelapa dan lada. Sedangkan lima negara yang menjadi tujuan ekspor antara lain Malaysia, Vietnam, Tiongkok, India dan Jerman.

Baca Juga :   Percepat Pemulihan Ekonomi, Kementan Akan Maksimalkan Food Estate

Komoditas perkebunan ini diekspor sesuai permintaan di negera tersebut. Seperti komoditas tanaman mete diekspor ke Negara India dan Vietnam dalam bentuk olahan kacang mete yang pada tahun 2020 berhasil diekspor sebanyak 103,4 ton dengan nilai Rp15,5 miliar.

Komoditas tanaman kelapa diekspor ke Negara Vietnam dan Malaysia dalam bentuk olahan serabut kelapa sebanyak 35,4 ton dengan nilai ekspor Rp2,1 miliar. Komoditas tanaman kakao diekspor ke Negara Jerman dalam bentuk kakao cair sebanyak 20 ton dengan nilai ekspor Rp1,6 miliar. Dan untuk komoditas tanaman lada diekspor ke Negara Tiongkok dalam bentuk lada biji sebanyak 27 ton dengan nilai ekspor Rp 425 juta.

Banyaknya komoditas unggulan yang diekspor tidak sejalan dengan nilai ekspor Sultra. Hal inilah yang ingin dibenahi Sitti Suleha dengan terus mengarahkan para pengusaha untuk langsung melakukan ekspor dari Kendari melalui Pelabuhan Kendari New Port. Jika para pengusaha mengekspor produknya langsung dari Kendari maka volume dan nilai ekspor Sultra bisa meningkat.

Sejauh ini banyak komoditas unggulan dari Sultra yang berhasil diekspor ke luar negeri namun tidak tercatat sebagai produk ekspor Sultra karena para pengusaha mengekspor komoditas itu melalui pelabuhan luar daerah seperti Jakarta, Surabaya dan Makassar.

Baca Juga :   Begini Cara Memasarkan Hasil Budidaya Porang

Suleha menganggap bahwa hal ini dapat terjadi akibat komoditas asal Sultra itu dibeli oleh pengusaha dari luar daerah dan diantar ke pulau lain di kota-kota besarnya dan akhirnya diekspor ke luar negeri. Jika suatu komoditas asal Sultra diekspor melalui pelabuhan Makassar, maka komoditas tersebut tercatat sebagai ekspor Sulsel. Begitu pula yang akan terjadi jika mengekspornya melalui kota lain.

Untuk meningkatkan nilai ekspor Sultra maka pemerintah daerah siap memberikan kemudahan dalam hal pengurusan administrasi atau dokumen ekspor untuk para pelaku usaha yang ingin mengekspor langsung dari Kendari .

Provinsi Sulawesi Tenggara sendiri memiliki beberapa komoditas perkebunan yang diekspor. Selain kelapa, lada, kakao dan mete, Sultra juga mengekspor cengkeh, enau, pinang, kapuk dan sagu. Sultra mengekspor komoditas perkebuanan pertama kali dengan tujuan negara Belanda melalui Pelabuhan New Port Bungkutoko Kendari. Komoditas perkebunan yang pertama kali diekspor adalah kakao sebanyak 80 ton.

Selain komoditas perkebunan, Sultra juga aktif dalam mengekspor produk dari bidang kelautan, industri dan manufaktur, serta pertambangan.

 

 

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani