Musim Vaksinasi, Hewan-hewan Ini juga Ternyata Divaksin Rutin

  • Bagikan
ilustrasi vaksin ternak/IST

Mediatani – Tidak hanya ‘musim’ vaksinasi terhadap manusia untuk mencegah penularan virus Corona atau Covid-19 yang baru dimulai Rabu, (13/1/2021), hari ini. Sebelumnya, vaksinasi terhadap hewan peliharaan dan hewan ternak pun rutin dilakukan.

Hal itu dilakukan demi mencegah timbulnya penyakit yang berbahaya pada ternak yang dapat menular ke manusia. Di antaranya, seperti penyakit rabies, antraks dan lainnya.

Seperti Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok yang secara rutin melakukannya. Kepala DKP3 Kota Depok, Diah Sadiah menuturkan pihaknya telah melakukan vaksinasi terhadap 150 hewan penular rabies (HPR), seperti anjing dan kucing selama tahun 2020 kemarin.

“Kami juga telah memberikan vaksinasi antraks pada hewan ternak sebanyak 1.510 ekor,” tuturnya sebagaimana dilansir dari Radar Depok, Jumat (8/1/2021).

Diah menjelaskan, penyakit rabies dan antraks merupakan penyakit hewan zoonosis atau penyakit yang menular ke manusia begitupun sebaliknya dari manusia ke hewan.

Oleh karena itu, untuk mencegah dan melindungi warga dari penularan penyakit itu makanya pihaknya melakukan vaksinasi.

“Vaksinisasi itu usaha kami untuk mencegah terjadinya kasus di hewan yang bertujuan akhir untuk menjaga kesehatan manusia,” jelasnya.

Lebih jauh, dia mengungkapkan, Kota Depok sendiri merupakan daerah yang bebas dari penyakit rabies. Namun, pelaksanaan vaksinasi terus dan harus tetap dilakukan untuk perlindungan dini kepada masyarakat.

Metode pemberian vaksinnya, lanjut dia, dilakukan dengan cara door to door. Sebelumnya, pun sudah dilakukan pemberitahuan dan informasi mengenai jadwal kepada kelurahan-kelurahan terdahulu.

“Jadi, untuk pelayanan vaksinasi diberikan secara gratis, kami lakukan secara aktif dengan pemberitahuan jadwal ke kelurahan terlebih dahulu,” pungkasnya.

Sementara itu, upaya pencegahan penularan Covid-19 melalui Penetapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di belasan daerah di Jawa Timur rupanya tidak berpengaruh signifikan. Termasuk upaya pembatasan dalam kegiatan Pasar Ternak di Jrebeng Kidul.

Dalam berita yang ditulis Radar Bromo, Rabu, (13/1/2021) menyebut warga dari Kabupaten Malang dan Sidoarjo misalnya, bisa melakukan mobilitas perdagangan ternak di pasar tersebut.

Seorang pedagang, Hasari (45) warga asal Lawang, Kabupaten Malang contohnya, dirinya bahkan bersama 3 orang warga dari Kabupaten Malang lalu datang ke Kota Probolinggo dan tidak ada perihal pemeriksaan identitas.

“Berangkat biasa saja naik truk ternak. Cuma kan kondisi kosong, karena mau ambil ternak di Probolinggo, tidak ada pemeriksaan sama sekali di jalan,” ujarnya.

Meski pada awal pandemi Covid-19, pada bulan Maret-April dirinya mengatakan pemeriksaannya ketat.

Begitu pula pada Junardi (48) seorang warga asal Desa Porong, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Dirinya mengaku tidak ada pemeriksaan saat keluar dari wilayahnya itu.

“Tidak ada pemeriksaan apapun meskipun Sidoarjo masuk daerah pembatasan. Di daerah saya ya biasa saja dari petugasnya,” ujarnya.

Dia bahkan bersama dua rekan lainnya yang juga merupakan sesama pedagang sapi membawa 4 ekor sapi untuk dijual di pasar Ternak Jrebeng Kidul. Dirinya juga mengatakan hanya mendapatkan peringatan penggunaan masker oleh polisi.

Di lain sisi, kinerja ekonomi subsektor Peternakan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif meski diterjang badai pandemic covid-19.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Pertanian RI (Mentan RI) Syahrul Yasin Limpo (SYL) ketika memberi arahan pada Rapat Evaluasi Program/Kegiatan 2020 dan Persiapan Pelaksanaan Kegiatan 2021 lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Senin (21/12/2020) di Bekasi, Jawa Barat.

Kata dia, laju pertumbuhan PDB Subsektor PKH sebesar 2,15% pada triwulan III tahun 2020 (q-to-q) yang banyak dipengaruhi meningkatnya jumlah pemotongan hewan pada Idul Kurban. NTP dan NTUP Peternakan juga tumbuh positif.

Pada bulan November 2020, NTP Peternakan mencapai 98,32 (tumbuh 0,58% dari NTP Peternakan bulan Oktober 2020 sebesar 97,75). Sedangkan, NTUP Peternakan mencapai 97,94 (tumbuh 0,66% dari NTUP Peternakan bulan Oktober 2020 sebesar 97,30).

Demikian pula dengan nilai ekspor Subsektor PKH yang secara kumulatif sejak Januari sampai dengan Oktober 2020 mencapai US$ 737.291.000, tumbuh 25,87% dibandingkan tahun 2019 (US$ 585.758.503).

Pada kesempatan yang sama, Mentan RI SYL juga memberikan arahan kepada jajarannya agar memberikan perhatian khusus ke depannya terhadap peningkatan produksi daging sapi/kerbau, kebijakan perunggasan, dan penurunan impor susu.

“Saya kira perlu upaya-upaya perbaikan secara komprehensif, dari aspek hulu sampai hilir, sehingga ketahanan pangan yang bersumber dari protein hewani dapat tercapai, untuk itu tahun 2021 akan saya jadikan sebagai Tahun Peternakan dan Kesehatan Hewan, agar pembangunan PKH lebih progresif lagi” kata dia dilansir dari Industry.co.id, Senin, (21/12/2021). (*)

  • Bagikan