Pemuda di Yogyakarta Buat Produk Fashion Ramah Lingkungan dengan Teknik Ecoprint

  • Bagikan
Memberikan motif pada kain dengan teknik ecoprint yang ramah lingkungan (foto: dream.co.id)
Memberikan motif pada kain dengan teknik ecoprint yang ramah lingkungan (foto: dream.co.id)

Mediatani – Produksi mode atau fashion dengan teknik ”ecoprint” belakangan ini mulai dikembangkan banyak pelaku usaha kain. Teknik ini memanfaatan bahan-bahan alami yang menghasilkan produk berbasis kain ramah lingkungan.

Secara umum, ecoprint merupakan suatu cara sederhana atau teknik memberi motif dan warna pada kain dengan menggunakan bahan alami. Adapun bahan yang dimanfaatkan adalah bagian tanaman, seperti daun, bunga, kayu, atau bagian lainnya.

Beberapa tahun terakhir, produksi fashion dengan teknik ecoprint telah banyak dipraktikkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain menghasilkan produk berbasis kain ramah lingkungan, cara ini juga telah menjadi sarana untuk pemberdayaan warga.

Di salah satu daerah Kampung Karangkajen, Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, terdapat suatu kelompok usaha Eco.J atau Ecoprint Jogja yang memproduksi karya mode dengan menerapkan teknik ecoprint.

Indra, pemuda di Yogyakarta telah menekuni usaha ecoprint sejak September 2017 lalu. Ia membentuk  kelompok usaha Eco.J atau Ecoprint Jogja berawal ketika melihat salah seorang temannya memamerkan karya ecoprint di media sosial dan dia pun tertarik untuk mempelajarinya.

Bermodal bantuan dari Rumah Zakat, ia kemudian mengajak sejumlah ibu rumah tangga di kampungnya untuk mengikuti pelatihan membuat ecoprint. Ia berharap setelah mendapat keterampilan itu, para ibu rumah tangga  mendapat penghasilan tambahan.

“Karya fashion dengan teknik ecoprint ini ramah lingkungan, sebab tidak menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan. Berbeda jika kita pakai pewarna sintetis yang nantinya akan menghasilkan limbah yang merusak, dan tidak bisa kami olah. Makanya, kami pakai pewarna alam,” tutur Indra, dilansir dari laman kompas.id, Minggu (29 /8/2021).

Lingkungan sekitar

Sesuai prinsip ecoprint yang mendorong pemanfaatan bahan alami di lingkungan terdekat, kain-kain ecoprint Eco.J juga memanfaatkan bahan alami yaitu berupa daun-daun yang tumbuh di sekitar Kampung Karangkajen, seperti daun pohon lanang, matoa, belimbing, jambu, dan teh-tehan.

Dengan bahan alami tersebut, mereka membuat produk berupa pakaian, syal, kain untuk dekorasi rumah, dan pakaian jadi. Mereka menjual  produk tersebut dengan kisaran harga Rp 350.000 hingga Rp 500.000.

Berkat usaha tersebut, sebelum pandemi Covid-19 melanda, pendapatan kelompok usaha itu bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Namun, meski pandemi menyusutkan pendapatan, Eco.J tetap mampu bertahan.

Eco.J sejak awal didirikan lebih berfokus pada pemberdayaan ibu rumah tangga dan tidak semata berorientasi pada bisnis. Prinsip inilah yang membuat usaha ini bertahan di tengah pandemi melanda Indonesia.

Penjualan ecoprint ini telah menjangkau berbagai negara lain seperti Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, Singapura, India, Australia dan Irlandia. Para konsumen juga langsung berkunjung ke Sekretariat Eco.J di Karangkajen.  

Perkembangan Ecoprint

Berdasarkan sejumlah referensi, teknik ecoprint yang ramah lingkungan pertama kali dikembangkan seniman Australia, India Flint, pada 2001. Sejak saat itu, ecoprint terus menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hingga beberapa tahun terakhir ini, usaha ecoprint terus bermunculan di berbagai daerah, termasuk di Yogyakarta. Bahkan, pada November 2020, yang dideklarasikan oleh Asosiasi Eco-Printer Indonesia (AEPI).

Ketua AEPI Puthut mengatakan, pengembangan ecoprint di Indonesia bisa dibilang dimulai di Yogyakarta. Hal ini karena generasi awal pembuat ecoprint berkarya di kota ini sejak 2015.

Baginya, potensi ecoprint di Indonesia sangat besar karena dilimpahi ragam tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk pewarna alam.

Peminat ecoprint yang terus bertambah, ada sekitar 1.000 pembuat ecoprint menjadi anggota AEPI. Adapun pembuat ecoprint di DIY yang bergabung ke AEPI sekitar 190 usaha.

Seiring semangat back to nature atau kembali ke alam, ecoprint tak hanya menjadi produk ramah lingkungan yang kian dilirik kaum urban. Di balik prosesnya, ada nafas pemberdayaan kaum ibu rumah tangga demi perbaikan kesejahteraan.

  • Bagikan