Pengendalian Produksi DOC oleh Kementan Berdampak pada Harga Ayam Hidup di Peternak

  • Bagikan
Ilustrasi. Peternakan ayam/IST

Mediatani – Kementerian Pertanian (Kementan) tengah berupaya melakukan stabilisasi perunggasan melalui sistem pengendalian produksi DOC final stock (FS) dengan Cutting Hatching Egg (HE) fertil dan afkir dini Parent Stock (PS).

Kasubdit Unggas dan Aneka Ternak, Kementan, Iqbal Alim, menuturkan bahwa pelaksanaan pengendalian produksi DOC FS yang dilakukan secara berseri ini berkorelasi positif dengan perkembangan harga ayam ras pedaging dalam bentuk hidup (livebird) di tingkat peternak.

“Pengendalian produksi melalui cutting HE fertil dan afkir dini PS sebagai upaya menjaga keseimbangan supply dan demand telah berdampak pada perbaikan harga livebird di tingkat peternak,” ujar Iqbal secara virtual, Kamis (25/3), melansir dari situs kontan.co.id, Minggu (28/3/2021).

Dia menjelaskan bahwa dengan adanya upaya itu maka neraca surplus ayam ras akan berhasil ditekan, yang mana sebelum cutting HE fertil dilakukan, diperkirakan produksi ayam ras sebesar 4 juta ton dengan kebutuhan 3,19 juta ton, sehingga neraca surplus mencapai 807.332 ton.

Sementara dengan cutting HE pada Desember 2020 hingga Maret 2021, maka potensi produksi ayam ras pedaging sekitar 3,76 juta ton, dengan kebutuhan sebesar 3,19 juta ton.

“Artinya neraca surplusnya kita turunkan menjadi 562.355 ton,” ujar dia.

Lebih lanjut, Iqbal membandingkan bahwa harga livebird dengan karkas di pulau Jawa dari periode Januari 2020 hingga Februari 2021. Menurutnya, pada bulan Januari 2020 harga livebird terkoreksi menjadi Rp 16.888, sementara harga karkas sebesar Rp 33.238.

Baca Juga :   Polman-Sulbar Kembangkan Produksi Kedelai dengan Kemitraan

Dengan upaya pengendalian DOC FS, harga tersebut berhasil meningkat menjadi Rp 19.374 di Desember 2020 sementara harga karkas sekitar Rp 35.000.

“Data terakhir, di Februari 2021, harga livebird Rp 18.205 dan karkas masih tetap Rp 34.525,” ujar Iqbal.

Adapun, Kementan memperkirakan produksi DOC FS pada Marte mencapai 305 juta ekor, sementara kebutuhan DOC FS sebesar 241,72 juta ekor. Dengan demikian masih terdapat surplus DOC FS sebesar 63 juta ekor.

Kementan pula menargetkan  akan ada cutting HE fertil umur 19 hari sebanyak 57,77 juta butir pada Maret 2021. Hingga 24 Maret, realisasinya mencapai 22 juta butir.

Sementara itu, Heri Mustari Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) Kalimantan Barat, sebelumnya mengeluhkan harga ayam hidup yang anjlok namun di sisi lain harga pakan melambung.

“Pakan ini komponen utama dalam peternakan dan menyerap biaya yang besar, kenaikan harga tentu akan sangat meresahkan,” kata Heri, Rabu 24 Maret 2021, yang dilansir meditani.co, Jumat (26/3/2021) lalu dari laman pontianak.tribunnews.com.

Menurut Heri, dalam dua bulan terakhir ini ada informasi kenaikan pakan yang cukup signifikan, padahal di sisi lain pandemi juga sangat berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.

Baca Juga :   Dekati Paus Saat Berselancar, Aksi Pria di Australia Ini Dianggap Melanggar Hukum

“Permintaan menurun, harga jual turun, eh harga pakannya naik, yang ada malah rugi,” ujar dia.

Along, begitu dia biasa disapa, juga menuturkan bahan baku untuk pengolahan pakan ini sebagian besar adalah impor. “Bisa sampai 75 persen komponen penyusun pakan itu impor,” tuturnya, lagi.

Padahal kata dia, Indonesia negeri yang kaya, tapi belum nampak riset dan upaya optimal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pakan dari dari dalam negeri. Dirinya pun mendorong pemerintah mengupayakan subtitusi pakan ternak.

Pemerintah ayo dong, masa sih kita tak punya barang substitusi bungkil kedelai atau tepung tulang yang selama ini impor. Kita harus yakin mampu memenuhi kebutuhan bahan pakan itu dari dalam negeri,” ucapnya, seraya mengajak.

Menurutnya, banyak bahan-bahan alami untuk pakan ternak yang bisa diperoleh dari dalam negeri, tinggal riset dan cara pengolahannya. Selain bermanfaat untuk jangka panjang, pakan ternak juga tidak perlu lagi tergantung impor.

“Kita punya potensi sampah untuk ternak ulat BSF, bungkil sawit, bungkil kelapa dan bahan kaya protein lainnya, bahkan dengan luas laut yg ada, kita bisa produksi tepung ikan,” ucapnya. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani