Ratusan Babi di Flores Mati Mendadak, Diduga Terjangkit African Swine Fever

  • Bagikan
ilustrasi virus flu babi/ist

Mediatani – Diperkiran sekitar ratusan ekor ternak babi di Kecamatan Ile Boleng Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur mati mendadak. Otoritas setempat pun menduga kematian secara tiba-tiba babi-babi milik warga itu terjangkit virus African Swine Fever atau Virus Demam Babi Afrika.

“Benar, banyak ternak babi warga yang mati mendadak belakangan ini karena diserang penyakit yang gejalanya menyerupai serangan virus demam babi Afrika,” ungkap Camat Ile Boleng Yonas Sapakoly, dikutip dari situs berita Antaranews,com, Sabtu, (9/1/2021).

Dia menuturkan total ternak babi yang mati mendadak diperkirakan telah lebih dari 200 ekor. Kematian ternak tersebut pun tersebar di beberapa desa di Ile Boleng, yang mana lebih dominan terjadi di Desa Beda Lewun dan Desa Lewopao.

Yonas melanjutkan, matinya ternak babi milik warga itu sangat merugikan para peternak, apalagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada peternakan ini.

Disinggung mengenai upaya penanganannya, Yonas menjelaskan sejumlah petugas dari dinas terkait di kabupaten flores timur telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan langkah penanganan, satu di antaranya ialah dengan penyuntikan ternak.

“Penyakit yang menyerang babi ini memang diduga karena virus demam babi Afrika karena gejalanya mirip seperti tubuh ternak yang berwarna merah,” katanya.

Dirinya juga mengatakan, bahwa timnya sudah memberi imbauan kepada warga masyarakat setempat maupun peternak agar sekiranya jika ada ternaknya yang mati mendadak lagi maka langsung menghubungi pihak desa untuk diteruskan ke kabupaten.

“Kita juga meminta warga agar kalau ada ternaknya yang mati maka dikubur, jangan dibuang ke pantai atau laut,” katanya, menjelaskan.

Yonas pula mengimbau kepada warga juga peternak agar memperhatikan kondisi pakan maupun kandang agar tetap higienis sehingga tidak mudah terserang penyakit.

Sementara itu, di Klaten, beberapa waktu lalu juga ditemukan sejumlah bangkai babi yang dibuang ke sungai Klaten.

Menurut observasi dan temuan-temua tim Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, penyebab matinya babi-babi itu karena virus African Swine Fever (ASF)

Sekretaris DPKPP Kabupaten Klaten, Mursita, seperti diberitakan Timlo.net, Kamis, (7/1/2021) yang dikutip dari laman klatenkab.go.id, dengan tanggal yang sama, menuliskan, agar masyarakat tidak perlu khawatir karena virus tersebut tidak menular ke manusia.

“Warga masyarakat tak perlu khawatir, dikarenakan virus itu tak berbahaya bagi manusia. Faktanya sebenarnya ialah virus ASF bukan termasuk penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Salah satu ciri dari ternak yang tertular virus tersebut idalah hilangnya nafsu makan,” kata Mursita.

Dia menjelaskan, cara untuk menyetop penyebaran dan penularan virus itu yakni babi sehat harus dilakukan pemisahan dari babi yang terjangkit virus ASF. Lalu babi yang mati karena virus itu dilakukan pemusnahan dan dikubur agar virusnya tidak menular.

“Virus ASF bisa menyebar dan dengan melalui beberapa faktor di antaranya ialah kontak langsung, serangga, dan pakan yang terkontaminasi. Meski begitu virus ini tidak menular kepada manusia. Jadi istilahnya tidak zoonosis,” jelasnya.

Mursita melanjutkan, pihak dari petugas DPKPP Klaten juga sudah melakukan edukasi ke peternak-peternak babi agar virusnya tidak menyebar sehingga mampu mengurangi kerugian secara ekonomi.

Para peternak babi pun diimbau agar selalu menjaga kebersihan kandang ternak mereka.

Penemuan-penemuan pembuangan bangkai babi yang dibuang di sungai Klaten mencuat ke permukaan sekitar pertengahan Desember lalu. Lokasi penemuan bangkai babi diketemukan di aliran sungai di Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom dan Kali Lunyu Klaten Tengah. Saat ini kasus pembuangan itu pun diambil alih pihak berwenang untuk ditelusuri dan dipetanggung-jawabkan secara hukum.

  • Bagikan