Banner Iklan @a2tani.id

Sejarah Beras dan Eksistensinya di Indonesia

  • Bagikan
Sumber foto: hariangadis.com

Mediatani – Beras, merupakan makanan pokok warga Indonesia. Tahukah Kamu bagaimana sejarahnya sehingga beras ini menjadi makanan pokok oleh sebagian masyarakat Indonesia?

Bukan hanya dicap sebagai bahan makanan saja, tetapi ternyata beras ini sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Salah seorang dosen dari Departemen Sejarah Universitas Padjajaran, Fadly Rahman menjelaskan terkait bagaimana sejarah beras di Indonesia.

Banner Iklan @a2tani.id

Menurutnya, beras telah ada sejak di zaman kerajaan Hindu-Budha. Bahkan tanaman yang memiliki nama latin Oryza sativa ini telah menjadi makanan pokok sebelum nama Indonesia itu terbentuk.

Berdasarkan dari hasil penelitian para arkeologi yang bergerak di bidang pangan, telah ditemukan sebanyak dua peninggalan sejarah terkait padi. Peninggalan yang pertama ada ahli mengungkapkan bahwa padi merupakan tanaman endemik nusantara sedangkan yang kedua padi ini dibawa oleh orang India dan China.

Melalui keterangannya kepada kompas.com, Fadly Rahman yang juga dikenal sebagai sejarawan kuliner ini menjelaskan bahwa makanan pokok masyarakat nusantara sebelum padi adalah umbi-umbian.

“Lalu dimasa Hindu-Budha pedagang Tionghoa dan India membawa padi, lalu oleh masyarakat lokal dibudidayakan dan menjadi makanan pokok,” jelas Fadly.

Baca Juga :   Fokus Sejahterakan Petani, Kementan-IFAD Dukung Transformasi Pedesaan yang Inklusif

Bukti lainnya tentang kehadiran padi di Indonesia yaitu adanya pahatan dalam relief Candi Borobudur yang berada di Magelang. Disana terukir tentang bagaimana nenek moyang Indonesia terlihat handal sebagai petani padi. Selain itu, budidaya padi pun tertulis dalam naskah kuno nusantara.

“Salah satu naskah kuno yaitu Negarakertagama yang ditulis di masa kerajaan Majapahit bahwa padi telah dibudidayakan secara luas,” jelas Fadly.

Meskipun begitu, ahli sejarah menjelaskan bahwa beras yang Kita konsumsi saat ini berbeda dengan beras di zaman kerajaan dulu. Fadly menuturkan bahwa beras dahulu yang dikonsumsi bersumber dari Afrika sedangkan yang sekarang Kita konsumsi adalah bersumber dari padi yang dibawa orang China dan India.

Beberapa ahli pangan menjelaskan bahwa perbedaan beras dahulu dengan sekarang bisa dilihat dari teknik pembudidayaannya, jenis padinya serta pemupukannya. Untuk beras zaman dulu namanya Oryza glaberrima dengan warna hitamnya yang pekat sedangkan beras sekarang Oryza sativa dengan warnanya yang putih.

Beras dan budaya Indonesia

Hasil komoditi pada suatu daerah pun bisa menentukan makanan khas dari daerah tersebut. Seperti contoh, Tanah Sunda yang dikenal sebagai Lumbung Nasional. Sebab, Jawa Barat sejak dulu merupakan salah satu daerah yang penduduknya bermatapencaharian sebagai pertani termasuk bertani padi.

Baca Juga :   Terapkan 6 Langkah Penanganan Pasca Panen Ini untuk Minimalisir Resiko Kerugian Besar

“Masyarakat Sunda merupakan masyarakat agraris. Bisa dilihat dari catatan sejarahnya, pada umumnya mereka bekerja disektor pertanian,” ungkap Fadly

Fadly juga menambahkan bahwa sejak dahulu Jawa Barat telah menjual beras mereka ke berbagai daerah di Indonesia.

Selain menjadi nilai budaya dari segi kuliner, rupanya beras juga memiliki nilai filosofi, salah satunya nasi tumpeng. Menurut Fadly, nasi tumpeng ini sebagai transformasi budaya Hindu-Budha

Nasi tumpeng yang disimbolkan sebagai miniatur gunung ini, menurut Fadly, merupakan transformasi budaya Hindu-Buddha yang mengkultuskan gunung sebagai simbol dari alam raya.  Bahkan hingga saat ini dalam acara syukuran, masyarakat Indonesia masih menggunakan nasi tumpeng sebagai sajiannya karena dianggap sakral.

Beras telah menjadi warisan tradisi Indonesia dari masa Hindu-Buddha yang pernah hidup di tanah Jawa bukan hanya makanan semata.

“Masyarakat sekarang tidak melihat jika masih ada sejarah yang masih hidup, jika Kita dalami dari sejarahnya bahwa nasi ini bagi masyarakat khususnya di Jawa memi nilai tradisi dan kesakralan,” tutup Fadly.

Banner Iklan Mediatani
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani