Ilustrasi: Eksperimen NASA

Mediatani – Badan Antariksa asal Amerika, NASA berencana membawa manusia kembali ke Bulan pada 2024. Rencana karya NASA Jet Propulsion Laboratory ini sebelumnya terkendala karena adanya pandemi Covid-19.

Tapi, baru-baru ini peneliti memulai eksperimen di rumah untuk mendapatkan ide tentang bagaimana tanaman atau lobak dapat tumbuh di tanah Bulan.

Dalam postingan blog Jet Propulsion Laboratory, ilmuwan Nasa, Coleman menjelaskan bekerja dari rumah bukan berarti menghambat upaya mereka untuk menguji pertumbuhan tanaman dalam kondisi tanah yang berbeda.

Ia juga menegaskan bahwa timnya tetap berusaha menunjukkan kepada para astronot bahwa mereka dapat menggunakan hortikultura untuk menanam makanan mereka sendiri di Bulan.

Menurutnya, eksperimen ini adalah langkah kecil untuk menunjukkan bahwa tanah Bulan mengandung hal-hal yang dapat diekstraksi sebagai nutrisi bagi tanaman, termasuk mendapatkan unsur kimia yang tepat memungkinkan tanaman membuat klorofil dan menumbuhkan dinding sel.

Air menjadi salah satu kunci penyempurnaan seni menanam tanaman di tanah Bulan. Karena itu mengetahui berapa banyak air yang dibutuhkan sangatlah penting mengingat air merupakan sumber daya berharga yang harus digunakan sehemat mungkin.

Ketika menguji tanaman lobak di bawah kondisi kelembaban tanah yang bervariasi, para peneliti menemukan sesuatu yang hebat. Ternyata tanaman tumbuh jauh cepat terhadap kelembapan tanah yang rendah, dengan sedikit air.

Itu berarti, menanam tanaman menggunakan tanah Bulan sepertinya akan menjadi hal yang mungkin terjadi karena ternyata sedikit lebih mudah daripada yang dipikirkan para ilmuwan.

Coleman mengatakan, mereka ingin melakukan pengujian sebaik mungkin selama di Bumi, agar bisa menunjukkan eksperimen tersebut benar-benar bekerja di Bulan.

Cina Pernah Bercocok Tanam di Bulan

Sebelumnya, China berhasil menumbuhkan tanaman kapas di Bulan. Eksperimen biologi ini dilakukan oleh ekspedisi Chang’e-4 dari China. Dalam eksperimen itu, ilmuwan China membawa sejumlah benih tanaman dan mencoba menumbuhkannya di Bulan.

Dilansir dari IEEE Spectrum, benih yang dibawa yaitu kentang, jamur, telur lalat buah, dan benih kapas. Namun, hanya kapas yang berhasil tumbuh. Sebuah gambar rekonstruksi 3D menunjukkan benih kapas berhasil menumbuhkan dua daun.

Gambar ini dirilis oleh tim peneliti berdasarkan hasil rekonstruksi gambar dari analisis data. Awalnya tumbuhan kapas tersebut dianggap hanya memiliki satu daun, namun ternyata dari gambar tersebut terlihat ada dua daun yang berhasil tumbuh.

Namun, tunas tanaman kapas itu lalu mati akibat cuaca malam yang sangat dingin di Bulan. Benih lainnya bahkan mati sebelum bertunas. Suhu pada siang hari mencapai hingga 127 derajat celcius. Kemudian akan turun drastis di malam hari hingga -170 derajat celcius.

Sebagai perbandingan, satu hari di Bulan sama dengan dua minggu di Bumi. Dilansir dari Mashable India, perubahan suhu di Bulan yang begitu ekstrem turut berpengaruh dalam pertumbuhan organisme.

Misi Chang’e-4 membawa tempat penyimpanan atau mini biosphere tidak dapat membawa beban terlalu berat dan hanya mampu mengangkut total 2,6 kilogram organisme terpilih.

Sebelumnya, tanaman lain sudah pernah tumbuh di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang berada di orbit rendah Bumi.

Setelah berhasil menumbuhkan tanaman, kini para ilmuwan China tersebut juga berencana untuk membawa kura-kura untuk diuji coba hidup di Bulan.

Pemimpin penelitian bernama Xie Gengxin dari Institut Penelitian Teknologi di Universitas Chongqing mengatakan bahwa rencananya tersebut masih terkendala dengan kapasitas dengan berat maksimum tiga kilogram. Selain itu, ketersediaan oksigen juga menjadi kendala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here