Apa Saja Perbedaan Nasib Petani Indonesia Dan Di Negara Maju

miraimages.photoshelter.com

Mediatani.co – Indonesia merupakan Negara yang mendapat julukan Negara Agraris. Sebutan ini menunjukan bahwa indonesia memiliki lahan pertanian Indonesia yang sangat luas. Selain itu juga bertani adalah mata pencaharian penduduk kita sebgaian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran jika konsumsi nasi merupakan salah kebutuhan utama dari masyarakat.

Negara kita Republik Indonesia berada di posisi ketiga penghasil beras terbesar di Dunia dengan jumlah produksi yang mencapai hingga 75,6 juta ton. Namun, kondisi faktual tersebut tidak menjamin bahwa nasib petani juga sejalan dengan itu. Ada perbedaan mendasar nasib petani di Indonesia dengan petani di negara maju. Berikut penjelasannya.

1. Pendidikan

Petani di Indonesia dengan petani di Jepang sangat berbeda. Dari segi pendidikan petani di Indonesia tak jarang mereka hanya lulus di pendidikan sekolah dasar, bahkan ada yang sama sekali tak berpendidikan hingga kebanyakan mereka sekedar menjadi buruh tani.

Pendidikan (c) asiaexplorers
Pendidikan (c) asiaexplorers

Namun berbeda petani di negara Jepang. Pemeritah Jepang fokus untuk mengembangkan petaninya dari skill dan penghasilan, sehingga negara Jepang mempunyai standard pendidikan dalam keahlian bertani.

2. Gaya Hidup

Gaya hidup petani Indonesia terbilang terbatas, bahkan banyak yang kekurangan. Hal ini karena hasil tani mereka dibayar murah, padahal sampai ke konsumen harganya bisa melejit. Selain itu latar belakang pendidikan yang rendah juga menyebabkan banyak petani sulit bangkit dari keterpurukan ekonominya.

Gaya Hidup (c) fourwinds10
Gaya Hidup (c) fourwinds10

Di Thailand para petaninya rata-rata memiliki usaha sampingan dan membuka bisnis taninya, hingga para petani di Thailand dapat memenuhi segala kebutuhan mereka. Untuk membiayai sekolah anak hingga ke perguruan tinggi bisa, bahkan profesi petani di Thailand menjadi warisan anak cucu mereka.

3. Kualitas

Produk Tani di Indonesia tak kalah dengan luar negeri, kualitas hasil pertanian Indonesia cukup bagus dan petani Indonesia sendiri kompeten mengelola pertaniannya secara langsung. Hal ini berkat mengandalkan kemampuan peramalan yang turun langsung dari nenek moyang mereka.

Kualitas (c) honeyizza
Kualitas (c) honeyizza

Untuk sebuah kualitas produksi pertanian, para petani di negara maju membawa hasil panennya untuk melakukan tes uji kualitas, dan meminta informasi tentang mengoptimalkan penanaman berikutnya.

4. Teknologi

Negara Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa. Tetapi para petaninya masih menggunakan alat tradisonal untuk mengelola pertaniannya. Meskipun sudah memiliki teknologi termutakhir yang menggunakan traktor, tak jarang ada juga yang masih menggunakan kerbau untuk pengelolahan karena tebilang lebih ekonomis. Lagi-lagi, terkendala finansial.

Teknologi (c) hanialfarouqy
Teknologi (c) hanialfarouqy

Berbeda dengan di Jepang mereka sudah menggunakan teknologi yang sangat canggih. Pekerjaan petani di Jepang bukanlah pekerjaan dengan level ekonomi menengah ke bawah. Dalam keseharian para petani di Jepang mereka menggunakan teknologi modern seperti transplanter, sepeda listrik, dan rumah kaca. Sebenarnya teknologi tersebut para petani Indonesia ada yang sudah mengaplikasikannya. Namun bedanya, teknologi-teknologi tersebut sudah menjadi standar dalam bertani di Jepang.


5. Jaminan

Di Indonesia sendiri masih belum memiliki jaminan untuk para petani, karena pemerintah Indonesia sendiri belum memberikan subsidi yang optimal bagi perbaikan nasib dan kehidupan petani.

Jaminan (c) previews
Jaminan (c) previews

Berbeda halnya di luar negeri selain jaminan petani yang mengalami gagal panen, petani di Amerika juga mendapat bantuan pengetahuan dan teknologi dari berbagai pihak, terutama universitas. Mereka bisa dengan mudah mendapat informasi bibit unggul terbaru, kondisi cuaca harian, bahkan harga berbagai jenis panenan.




Perbedaan-perbedaan diatas menunjukan bahwa pemerintah Indonesia masih belum maksimal dalam mengembangkan sumber daya manusia dalam negeri. Padahal jika dibandingkan negara Jepang dan Thailand, Indonesia masih unggul sebagai negara penghasil beras.

Peningkatan SDM petani dan pertanian sangat erat kaitannya dengan upaya pemberdayaan masyarakat pedesaan/ community empowerment. Dalam pengertian luas pemberdayaan merupakan proses memfasilitasi dan mendorong masyarakat agar mampu menjadi pelaku utama dalam memanfaatkan lingkungan strategisnya untuk mencapai suatu keberlanjutan.

Keberhasilan penguatan aspek tersebut yang akan menentukan apakah kualitas SDM pertanian dan pedesaan akan meningkat nyata atau berjalan di tempat.