Home / Berita / Nasional / Peternakan

Jumat, 22 Januari 2021 - 18:22 WIB

Banyuwangi Support Peternakan Ayam Ramah Lingkungan, Pakai Mesin dan Tak Berbau

ilustrasi peternakan ayam modern/ist

ilustrasi peternakan ayam modern/ist

Mediatani – Selama kita dilanda pandemi covid-19 beberapa kebutuhan bahan pokok pun mengalami peningkatan. Termasuk telur ayam, yang merupakan salah satu kebutuhan pokok asal protein. Kebutuhan telur ini pun sampai saat ini, hampir sebagian besar dipasok oleh peternakan setempat.

“Kebutuhan telur selama pandemi memang meningkat. Ya, karena berhubungan dengan daya imunitas, selain itu juga, kebijakan stay at home membuat banyak ibu-ibu memproduksi berbagai olahan telur. Alhamdulillah, ternyata kebutuhan telur daerah dipenuhi oleh peternak lokal,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, di sela-sela mengunjungi satu di antara peternakan ayam yang ramah lingkungan, Wijoyo Farm, di Desa Yosomulo, Kecamatan Gambiran, Senin (18/1/2021), dikutip Jumat, (22/1/2021) dari situs beritadaerah.co.id.

Wijoyo Farm diketahui merupakan salah satu peternakan ayam di Banyuwangi yang dikelola secara modern dan menggunakan mesin.

Tiap harinya, peternakan ayam yang memiliki 75.000 ekor ayam petelur itu bisa menghasilkan 20.000 butir telur, atau 2 ton telur.

“Dengan menggunakan sistem modern seperti saat ini, peternakan ayam yang biasanya dikenal bau, menjadi tidak berbau,” ujar Anas.

Peternakan ayam itu pula terdiri atas tiga lantai, yang mana lantai paling atas digunakan sebagai kandang ayam. Kandangnya pun nampak bersih dan terdapat pendingin udara yang kemudian disesuaikan dengan suhu ruangan sekitar.

Baca Juga :   Inilah Kebun ala Para Jendral Bintang Dua

Ayam-ayam itu juga dibersihkan tiap harinya. Demikian, untuk pakannya pada tiap hari dilakukan sterilisasi sehingga tidak terdapat lalat.

“Tiap hari kami melakukan sterilisasi terhadap ayam-ayam ini dan pakannya, agar ayam sehat dan tidak mudah terserang penyakit,” ucap Agus Wijaksono, Direktur Wijoyo Farm.

Kandang itu disebut menggunakan mesin yang kemudian mampu langsung mengambil telur lalu mengirimkan ke lantai dua.

Pada lantai dua, dilakukan sortirisasi memilih dan meletakkan telur yang telah disterilisasi sebelumnya.

Sementara untuk limbah kotoran ayamnya pun langsung diturunkan ke lantai dasar kemudian dikeringkan jadi tidak berbau. Tahap berikutnya limbah tersebut dikirim ke pengepul pupuk yang menginginkan produksi pupuk.

“Semuanya sudah pakai mesin, modern. Hanya pengolahan pakannya saja yang masih pakai cara manual,” terang Agus.

Agus menuturkan, peternakannya itu, sejauh ini baru berjalan selama 6 tahun belakangan. Dan kini baru memenuhi kebutuhan pasar di Banyuwangi saja.

“Untuk distribusinya masih di seputar Kota Banyuwangi dan Banyuwangi wilayah selatan,” tutur Agus.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, Arief Setiawan, mengungkapkan keberadaan peternakan itu pun kian menambah produksi dan jumlah telur di Banyuwangi.

Baca Juga :   Panen Perdana Telur Ayam BUMG Usaha Bersama, Bupati Aceh Selatan Harap Kecamatan Lain Meniru

“Di Banyuwangi kebutuhan akan konsumsi telur mencapai 193 ton per pekan. Sedangkan produksi telurnya mencapai 218 ton per pekannya atau setara dengan 872 ton perbulan. Maka, untuk stok kebutuhan telur masih relatif aman di Banyuwangi,” kata Arief.

Selain di Banyuwangi, di Kota Palopo Sulsel, Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (Dispertanakbun) Kota Palopo juga mensupport dan mendukung peternak di sana.

Rabu lalu, Dispertanakbun bersama kelompok ternak melakukan upaya Inseminasi Buatan (IB) ternak sapi di Kelompok Ternak Belimbing Mekar, Kelurahan Pentojangan, Kecamatan Telluwanua, Rabu (20/01/21).

Kepala Dinas Pertanakbun Kota Palopo Ibnu Hasyim, S.STP menuturkan ada beberapa poin dan tujuan penting dalam pelaksanaan inseminasi buatan itu. Di antaranya, tuturnya, ialah dalam rangka mengoptimalkan dan memaksimalisasi penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama.

IB juga kata dia, bertujuan untuk meningkatkan angka kelahiran ternak dengan cepat dan teratur.

”Tujuan perkawinan sapi dengan sistem inseminasi buatan ini ialah untuk meningkatkan mutu dan kualitas ternak lokal. Mempercepat peningkatan populasi ternak dan menghemat penggunaan pejantan,” terang Ibnu didampingi Kabid Peternakan dilansir dari situs berita linisiar.id, Rabu, (20/1/2021). (*)

Share :

Baca Juga:

Berita

Simak ! Tahap-tahap Memulai Ternak Ayam Bekisar, Sederhana dan Mudah

Nasional

Garam Mahal, Ikan Asin Tidak Lagi Asing

Berita

Cara Warga Pulau Rupat Mendulang Fulus dari Ikan Salai

Berita

BPS Riau Catat Produksi Padi Riau Naik 12.810 Ton
Foto bersama tim kampanye SPF dengan guru dan para siswa SD Aisau Kelas Jauh Sawendui

Nasional

SPF dan Bank Mayapada Ajak Siswa SD AISAU Kelas Jauh Sawendui Menjaga Penyu Sejak Dini

Berita

Antara Keberlanjutan dan Kemakmuran, Fokus Kebijakan Edhy Prabowo dan Susi Pudjiastuti yang Berbeda

Berita

Peternak di Pekanbaru Diajak Asuransikan Ternak, Kementan: Minimalkan Risiko Kerugian Peternak

Nasional

Fakta di Balik Mahalnya Tanaman Janda Bolong