Beda Jabodetabek & Jatim, Wagub Emil: Daging Sapi Surplus, Impor Tak Dibutuhkan

  • Bagikan
wakil gubenur jatim Emil dardak/ist

Mediatani – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan pasokan daging sapi di wilayah Jawa Timur mengalami surplus sehingga pihaknya tidak membutuhakn impor daging sapi.

Melihat bahwa fenomena kenaikan harga daging sapi yang diikuti dengan kelangkaan daging sapi di ibukota terjadi, justru hal sebaliknya tidak terjadi di Jawa Timur.

Dikutip Selasa (26/1/2021) dari situs berita surya.co.id, Emil bahkan menegaskan bahwa Jatim sedang mengalami surplus daging sapi dan stoknya juga dalam kondisi yang tidak perlu dikhawatirkan.

Maka dari itu kebijakan impor daging sapi dari luar negeri dianggapnya untuk sementara ini tidak dibutuhkan dan tidak berlaku di Provinsi Jawa Timur.

“Untuk Jawa Timur, kami tak ada keperluan untuk mengimpor daging sapi. Karena kita justru sedang surplus. Tetapi ada harga yang meningkat namun masih dalam batas normal,” kata Emil saat diwawancara pada Senin (25/1/2021) disadur dari situs yang sama.

Di Jatim sendiri, tambah dia, pemerintah memiliki sistem pemantau harga bahan pokok secara online melalui laman siskaperbapo.com, yang di antaranya menyajikan data harga realtime sembako di pasar-pasar di Jawa Timur.

Dan data per hari ini, terpantau harga daging sapi per kilogramnya rata-rata Rp 108.229.

Meski begitu pada tingkat pasar tradisional, memang terdapat harga bervariasi untuk daging sapi. Seperti di Surabaya, hari ini Pemprov Jatim melakukan survei dan mendata harga terbaru untuk daging sapi.

Baca Juga :   Hewan Ternak Warga di Tulungagung Terjangkit Antraks, Peternak Diminta Aktif Melapor

Juga seperti di Pasar Soponyono, dan sejumlah pasar lokal lainnya di Surabaya masih dalam rentang Rp 107.000 per kilogramnya.

Sedangkan, pemotongan sapi di rumah potong hewan (RPH) di Surabaya, Malang dan sekitarnya dikatakan Wagub Emil pula masih dalam keadaan normal dan tidak ada kenaikan ataupun penurunan yang signifikan. Dan mereka menyuplai daging untuk wilayah dalam kota.

“Pada bulan Desember 2020 lalu, kami punya stok daging sapi 10.679 ton, sedangkan kebutuhannya ialah 10.474 ton daging sapi. Maka dari itu, ada surplus sekitar 205 ton yang digunakan sebagai tambahan suplai untuk bulan ini dan bulan selanjutnya,” jelas Emil.

Dengan melihat kondisi itu, Emil melanjutkan bahwa Jawa Timur tak membutuhkan langkah-langkah seperti impor daging sapi ke daerah lain. Hal itu disebabkan banyak juga daerah di Jatim yang masih mampu memberikan suplai yang cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal.

Adapun sejumlah daerah penghasil sapi di Jatim seperti di Malang, Tulungagung, Kediri, Probolinggo, Tuban, Madura dan juga beberapa daerah lainnya sampai kini masih aktif melakukan pengembangbiakan hewan sapi. Dari situ, sehingga dagingnya bisa digunakan untuk sumber suplai bagi masyarakat Jawa Timur.

“Maka kami tidak melihat ada urgensi melakukan impor daging sapi untuk Jawa Timur, karena ada suplai yang cukup dan memadai,” pungkas Wagub Emil.

Baca Juga :   Unhas Siapkan Tenaga Ahli untuk Bantu Peternakan Sapi di Gowa

Sebelumnya, diberitakan mediatani.co, Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menuturkan bahwa pemerintah perlu membenahi tata niaga daging sapi nasional yang mana adanya tingginya harga daging sapi baru-baru ini menyebabkan pedagang daging sapi melakukan demonstrasi dan mogok berjualan.

“Fluktuasi harga pangan tentunya ialah hal yang biasa dikarenakan perdagangan pangan itu tidak lepas dari dinamika pasar berdasarkan produksi, distribusi, dan permintaan. Konsumsi daging pun sapi secara umum rendah sekali, hanya sekitar 2 kilogram per kapita per tahun di Indonesia,” kata Felippa lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat (22/1/2021) dilansir dari situs berita Antaranews.com, Minggu (24/1/2021).

Menurutnya, mahalnya harga itu disebabkan oleh harga daging sapi yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni sebesar Rp 120.000 per kilogram.

Tingginya harga daging sapi itu kata dia, perlu diatasi dengan melihat ke persoalan di hulu, satu di antaranya ialah karena rantai distribusi yang panjang.

Panjangnya rantai distribusi tersebut menimbulkan biaya tambahan yang tak sedikit. Dan akhirnya berimbas lalu berpengaruh pada harga jual. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani