Belum Selesai Harga Pakan, Peternak Risau Rencana Importasi Ayam Brasil

  • Bagikan
Ilustrasi. Peternakan ayam/via Kementan/IST

Mediatani – Sejumlah pelaku usaha di sektor perunggasan dalam negeri mulai merisaukan rencana importasi daging ayam asal Brasil. Kedatangan ayam impor ini pun dimungkinkan bakal membuat peternak lokal semakin babak belur.

Salah satu peternak asal Kabupaten Bogor, Febroni Purba, mengatakan kondisi peternakan ayam kini dalam kondisi serba sulit. Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Selain harga daging yang seringkali anjlok, peternak juga tertekan karena mahalnya harga pakan dan anak ayam atau DOC.

“Kondisi peternak saat ini benar-benar di ujung tanduk. Ada sejumlah faktor yang membuat peternak mengalami kesulitan. Pertama, harga pakan mengalami kenaikan,” ungkap Febroni kepada Kompas.com, Sabtu (22/5/2021), melansir Kompas.com.

Dia mengungkapkan, sejak akhir tahun lalu atau puncak meluasnya pandemi Covid-19, bahan baku ternak rata-rata naik lebih dari 30 persen.

Kondisi serupa pun sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga secara global.

Ditambah lagi, peternak Indonesia sebagian besar masih berbudidaya secara tradisional, baik peternak mandiri maupun peternak kemitraan.

“Kedua, sebagian besar peternak kita melakukan pemeliharaan masih dengan cara tradisional. Sementara perusahaan-perusahaan besar memelihara dengan teknologi mutakhir, penggunaan kandang tertutup lengkap dengan sistem otomatis seperti pemberian minum dan pakan, pengaturan suhu, pendeteksi penyakit dan sebagainya,” ungkap Febroni.

“Saya memprediksikan peternak-peternak mandiri akan hilang jika tidak melakukan terobosan baru,” katanya lagi.

Dengan kondisi serba sulit seperti sekarang, masuknya daging ayam beku asal Negeri Samba, Brasil semakin dikhawatirkan membuat harga karkas semakin tak menentu.

Tak hanya peternak ayam ras, impor daging ayam Brasil juga akan berdampak pada peternak ayam layer atau petelur, mengingat bertambahnya suplai daging ayam bakal memicu anjloknya harga ayam afkir.

“Adanya rencana Brasil impor ayam ras ke Indonesia perlu kita tanggapi secara bijak. Perlu diketahui bahwa pemerintah sudah melakukan berbagai upaya pencegahan impor ayam Brasil sejak tiga tahun tahun yang lalu,” kata Febroni.

Menurutnya, Brasil selama ini dikenal sebagai salah satu negara produsen daging ayam terbesar di dunia. Lantaran suplai terlalu banyak, negara itu kini tengah mencari pasar ekspor dan Indonesia jadi negara yang dibidik.

Harga daging produksi Brasil jauh lebih murah dibandingkan Indonesia, lantaran negara itu juga menjadi produsen jagung terbesar secara global. Jagung sendiri merupakan bahan utama dalam pembuatan pakan ternak.

Dia bilang, jangankan peternak kecil, perusahaan-perusahaan integrator perunggasan besar di Indonesia seperti Japfa Comfeed dan Charoen Pokphand saja bakal dirugikan.

“Jika perusahaan mapan saja ketar-ketir menghadapi ayam Brasil, apalagi peternak kecil. Cepat atau lambat peternak kecil semakin sedikit dan habis,” kata Febroni.

“Harga pokok produksi ayam dari Brasil bisa jauh lebih murah yaitu Rp 12.000 – Rp 14.000/kg sedangkan HPP ayam di peternak Rp 18.000/kg. Peternak bisa gulung tikar secara masal,” tambahnya.

Meski dibukanya impor daging ayam Brasil tak lepas dari kekalahan di WTO, tak seharusnya pemerintah lepas tangan.

“Regulasi yang ada saat ini sifatnya seperti pemadam kebakaran saja. Kebijakan yang dibuat belum menyentuh akar persoalan sehingga terus berulang bertahun-tahun. Ketika harga ayam anjlok pemerintah hanya menghimbau pelaku usaha untuk menaikkan harga agar peternak-peternak kecil bisa mempertahankan usahanya,” ungkapnya.

Kandang masih tradisional

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi, biaya pakan yang dibutuhkan dalam pengelolaan produksi peternakan saat ini masih terbilang tinggi.

Tingginya biaya pakan membuat HPP dalam pengelola produksi peternakan juga menjadi tinggi.

Hal ini dikhawatirkan akan membuat ayam yang diproduksi oleh peternak mandiri memiliki harga yang tidak kompetitif apabila dibandingkan dengan harga ayam impor yang masuk dari Brasil nantiya.

Kedua, pihaknya berharap agar pemerintah menyediakan skema pembiayaan dengan bunga yang murah bagi peternak-peternak ayam yang mau meng-upgrade kualitas dan kapasitas kandangnya.

Menurut Sugeng, prasarana berupa kandang memiliki peran yang penting dalam menentukan efisiensi biaya pengelolaan produksi peternakan ayam.

“Kandang-kandang ini harus di-upgrade agar produktivitas meningkat. Kalau produktivitas meningkat, biaya-biaya produksinya juga bisa turun,“ terang Sugeng dikutip dari Kontan.co.id, yang dilansir dari situs yang sama.

Sugeng juga menilai bahwa kondisi kandang yang dimiliki oleh peternak umumnya kurang memenuhi syarat karena belum menggunakan sistem closed house.

Padahal, pembiayaan yang diperlukan untuk meng-upgrade kandang ke dalam bentuk kandang dengan sistem closed-house membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, campur tangan pemerintah dalam menyediakan skema pembiayaan dengan bunga yang murah dinilai menjadi penting.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan bahwa sampai saat ini Indonesia masih melakukan konsultasi dengan Brasil mengenai kebijakan impor ayam.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo mengatakan, Brasil tetap melihat Indonesia belum mematuhi beberapa isu meski menurutnya Indonesia sudah mematuhi aturan WTO.

Meski begitu, Iman pun mengatakan adanya impor ayam dari Brasil ke Indonesia akan tergantung permintaan dari masyarakat Indonesia. Menurutnya, impor akan terjadi bila ada pihak yang membeli.

“Tapi kalau suplai itu ada di Indonesia dengan harga yang memadai, waktu pengiriman yang baik, kualitas yang baik saya kira saya kok tidak rasa khawatir (banjir impor ayam Brasil),” kata Iman.

Melihat ini, Iman mengatakan Indonesia harus meningkatkan daya saing produk ayamnya, sehingga bisa bersaing di pasar sendiri.

Salurkan Donasi

  • Bagikan
Exit mobile version