Bulan Purnama, Petani dan Nelayan Harus Waspada

  • Bagikan
Sumber foto: kompas.com

Mediatani РSains telah membuktikan bahwa ketika bulan benar-benar bundar atau bulan purnama, di setiap tanggal 15 bulan Kamariah, terjadi perubahan yang dialami oleh beberapa makhluk hidup di Bumi, mulai dari manusia, hewan, tumbuhan dan juga kondisi alam.

Diprediksi, puncak dari gerhana bulan total terjadi pada hari ini yaitu tanggal 16 Mei 2022. Gerhana bulan total ini terjadi saat Bumi bergerak ke tempatnya di antara bulan purnama dan matahari.

Akibatnya, Bumi akan membentuk bayangan raksasa pada permukaan bulan dan memberikan warna bulan menjadi kemerahan yang mencolok. Perubahan ini juga akan mempengaruhi aktivitas para nelayan dan petani.

Dilansir dari laman kumparan.com, berikut ini hal-hal yang perlu dihindari oleh para nelayan dan petani saat sedang bulan purnama.

Panduan bagi petani

Memperhatikan siklus bulan merupakan langkah yang tepat agar menghindari hasil yang mengecewakan ketika memanen sayuran. Prinsip ini dikenal dengan prinsip dasar moon gardening. 

Munculnya bulan purnama akan menyebabkan naik turunnya kelembaban tanah. Level air di tanah akan mencapai titik maksimal. Karena itu, sebaiknya tanam tumbuhan tertentu sebelum bulan purnama untuk mendapatkan efek positif dari puncak kelembaban. 

Baca Juga :   Impian Sejak Dulu, Pedangdut Jenita Janet Sukses Jadi Peternak

Pada seperempat siklus bulan terakhir, saat permukaan air turun ke titik terendah adalah waktu terbaik bagi petani untuk melakukan penggalian, pemupukan, dan pemangkasan.

Tidak Memanen Anggur

Bulan purnama untuk petani anggur mungkin sesuatu hal yang tidak bersahabat. Sejak ribuan tahun yang lalu, proses penanaman dan pemangkasan tanaman anggur ini berdasar pada penanggalan bulan dan berlaku juga hingga proses pemanenan.

Jika anggur dipanen saat bulan purnama, kelembapan tanah akan menghasilkan anggur yang lebih berair dan lebih berisi. Air yang berlebih ini dinilai bisa mengencerkan rasa buah, sehingga hasil panennya kurang bagus.

Mengikuti siklus bulan adalah hal yang penting bagi produsen anggur, karena beberapa varian minumannya mungkin akan terasa lebih pahit dan tidak laku di pasaran.

Beberapa toko grosir terkemuka bahkan benar-benar menggunakan kalender berbasis bulan untuk menentukan hari mana yang paling bagus untuk mengetes rasa minuman anggur.

Baca Juga :   Anggrek Biru, Flora Cantik dari Pulau Waigeo Indonesia

Purnama dan jeda kehidupan laut

Pasang surut air laut sangat mempengaruhi tarikan gravitasi bulan. Air di bumi akan senantiasa menggembung di sisi yang terdekat dengan bulan, begitu pula di sisi yang terjauh, ketika ia bergerak mengelilingi bumi.

Bulan membutuhkan waktu lebih dari 24 jam untuk menyelesaikan satu orbit terhadap Bumi, sehingga pasang surut akan berubah setiap 12 jam dan 25 menit.

Selama bulan purnama, matahari dan bulan sejajar dengan Bumi, dan gaya gravitasinya bergabung. Ini menghasilkan perbedaan terbesar antara air pasang dan surut, sehingga gelombang di lautan menjadi lebih tinggi. Sehingga para nelayan dihimbau untuk tidak melaut dulu ketika purnama.

Selain alasan keselamatan, para nelayan juga enggan untuk melaut ketika bulan purnama karena beberapa jenis ikan menjadi lebih sulit ditangkap saat waktu ini.

Hal ini karena beberapa jenis ikan cenderung menghindari cahaya bulan yang berlebihan saat purnama. Beberapa jenis ikan ini lebih memilih untuk mencari makan di perairan lebih dalam, agar terhindari dari predator.

  • Bagikan