Buruh Tani ; Gerbang Terakhir Kedaulatan Pangan

Selamat Hari Buruh Sedunia 1 Mei 2018

ilustrasi: buruh tani memanen padi
ilustrasi: buruh tani memanen padi. [Gambar: fotokita.net]

Oleh: Masluki *

Modernisasi pertanian dibidang pertanian semakin masif seiring dengan suksesnya gerakan revolusi hijau melipatgandakan produktivitas lahan. Fenoma tersebut telah merubah paradigma petani tentang praktek bercocok tanam dan pengelolaan lahan. Modernisasi hadir dengan logika efesiensi dan efektivitas manargetkan produksi yang tinggi ditengah tingginya kebutuhan akan bahan pangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa tumbuh dan berkembangnya usaha pertanian sangat tergantung pada semakin besar adopsi teknologi usaha tani dalam mengelola sumber daya untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. Suksesnya revolusi hijau menjadikan Indonesia menjadi swasembada pangan pada tahun 1984 tidak lepas dari peran kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mencapai target produksi diperlukan optimalisasi sumberdaya lahan dalam meningkatkan produksi. Dampaknya mobilisasi alat dan mesin – mesin pertanian menggantikan tenaga manusia, hewan maupun alat – alat pertanian tradisional. Hal ini diperkuat oleh semakin seriusnya pemerintah dalam menangani persoalan rendahnya produksi pertanian memalui alokasi anggaran APBN sebesar Rp. 3,325 triliun diperuntukkan untuk menyediakan bantuan alat mesin pertanian sebanyak 100.000 unit pada tahun 2016.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk bekerja dan tergantung pada sektor pertanian, tentu tidak boleh apriori terhadap hadirnya teknologi. Disaat lahan pertanian semakin berkurang akibat alih fungsi lahan, satu – satunya cara untuk meningkatkan produksi adalah teknologi budidaya tepat guna, spesifik lokasi dan ramah lingkungan. Sejarah telah mencatat bahwa mekanisasi di sektor pertanian telah merubah wajah dunia pertanian menjadi sektor potensial dalam meningkatkan devisa negara.

Faktanya, penerapan mekanisasi pertanian di Pakistan mampu meningkatkan rata – rata 75% dari sektor pertanian. Kemudian di saat terjadi krisis tenaga kerja buruh tani di Korea Selatan sebagai dampak dari pergeseran dari negara agraris ke negara industri maju. Akibatnya, petani dituntut untuk meningkatkan produktivitas pangan melalui mekanisasi pertanian. Ethiopia yang terkenal dengan negara miskin dan gersang telah bermetmorfosis menjadi negara yang sukses membangun pertaniananya melalui teknologi irigasi dari Israel. Hasilnya menjadikan negara tersebut menjadi negara maju dibidang pertaniannya.

Mekanisasi disektor pertanian menjadi agenda strategis pemerintah melalui nawacita lumbung pangan dunia 2045, dengan prestasi menurangi impor beras, cabai, bawang merah dan gula pada tahun 2015. Namun belum mampu menyelesaikan permasalahan pada level masyarakat, khususnya buruh tani. Masuknya mesin – mesin pertanian menggantikan tenaga manusia, hewan dan alat – alat pertanian tradisional akan berdampak pada hilangnya pekerjaan buruh tani sehingga meningkatkan angka pengangguran di pedesaan. Pada sisi lain tingkat pendidikan buruh tani yang rata – rata hanya tamatan SD tidak memiliki kemampuan untuk menguatkan organisasi dalam menyuarakan aspirasinya diruang publik.

Berdasarkan data BPS tahun 2014, penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,73 juta jiwa atau sekitar 10,96% dari jumlah penduduk yang mayoritas tinggal didesa sebanyak 62,6 % dengan profesi sebagai petani dan buruh tani. Nasib buruh tani dengan buruh pabrik dan buruh bangunan sangat berbeda, buruh tani merupakan komunitas pekerja yang sangat lemah. Sebagai perkerja disektor informal, buruh tani memiliki nilai tawar yang rendah. Sistem kelembagaan yang belum terorganisir dalam memperjuangkan hak – haknya termasuk dalam sistem upah yang belum memenuhi standar Upah Minimum Regional (UMR). Hal tersebut disebabkan karena pekerjaan buruh tani masih sangat tergantung pada jenis pekerjaan dan musim tanam. Faktanya kebanyakan buruh tani masih mengandalkan upah harian ataupun sistem borongan. Kondisi tersebut menyebabkan buruh tani terjerembab dalam labirin kemiskinan berkepanjangan.

Data BPS tahun 2014 memperlihatkan rata – rata upah harian buruh tani hanya sebesar Rp.45 ribu/hari. Angka tersebut tentu jauh dari angka kecukupan dengan melemahnya daya beli buruh tani ditengah melambungnya harga barang sembako dan biaya publik lainnya. Angka kemiskinan buruh tani dipedesaan semakin diperparah oleh alih teknologi seperti mesin tanam, mesin panen dan serta jenis pekerjaan lainnya yang digantikan oleh tenaga mesin. Jenis pekerjaan misalnya menanam digantikan dengan mesin tanam, memanen padi digantikan dengan mesin panen dan mengolah tanah secara konvensional digantikan dengan hand traktor. Pada sisi lain, agroindustri belum terbangun secara merata disentra produksi khususnya pedesaan sebagai solusi atas penyerapan tenaga kerja di pedesaaan.

Berdasarkan hasil wawancara Tim Mediatani.co dengan petani di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada bulan Mei 2018, menunjukkan rata – rata umur buruh tani diatas 45 tahun dengan tingkat pendidikan SD, pemuda desa lebih memilih bekerja sebagai buruh di pabrik. Petani swah mengerjakan lahannya boleh dikatakan sebagai kegiatan kerja bakti. Untuk menghasilkan produksi 5 ton/ha membutuhkan biaya produksi 8.5 – 12 juta/ha. Dengan harga jual GKP Rp.3000/kg hanya menghasilkan Rp.15 jt/ha dengan durasi pengerjaan ± 4 bulan. Modal usaha tanipun terkadang harus menggadaikan, menujual sebagian lahan ataupun meminjam uang pada tengkulak atapun bank.

Petani yang telah berumur diatas 45 tahun seolah tidak punya pilihan pekerjaan karena secara turun – temurun hanya mewarisi budaya bercocok tanam. Sehingga problem kedepan akan dihadapkan pada susahnya mencari tenaga kerja dibidang pertanian, khususnya buruh tani. Pada sisi lain, khususnya di pulau jawa kepemilikan lahan semakin menurun dengan rata – rata 0.36 hektare, angka tersebut semakin menurun ditengah konversi lahan semakin tinggi menjadi kawasan pemukiman, industri dan lainnya.

Buruh tani merupakan gerbang terakhir kedaulatan pangan olehnya itu perlu mendapat perhatian dan perlindungan yang memadai. Merumuskan kebijakan dan agenda strategis program pertanian modern harus memasukkan buruh tani sebagai variable yang tidak bisa lepas dari kemajuan pertanian. Memberikan diversifikasi lapangan kerja bagi buruh tani melalui penyediaan lapangan kerja alternatif.

Masuknya modernisasi membutuhkan keterampilan, modal usaha dan penguatan kelembagaan petani. Hingga akhirnyanya, buruh tani menjadi pekerjaan mulia yang dapat memberikan sumbangsi bagi kesejahteraan keluarga, masyarakat dan bangsa.

—-
*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Agronomi dan Hortikultura IPB