Dispangtan Cimahi Sediakan Layanan Pengobatan Ternak, Gratis!

  • Bagikan

Mediatani – Jika kamu warga Kota Cimahi, maka kini tak perlu lagi pusing saat mendapati hewan ternakmu sakit.

Yup! Sebab, petugas Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi siap datang untuk mengobati hewan ternak yang sakit.

Layanan ini diberikan tanpa dipungut biaya lho alias gratis. Dispangtan Cimahi sendiri telah menyiagakan tim yang siap diterjunkan untuk mengobati hewan sakit milik peternak.

Sebagaimana yang dilakukan petugas Dispangtan Kota Cimahi di RW 07 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Para petugas memeriksa domba milik peternak yang ada diwilayah tersebut secara detail.

Setelah itu diketahui penyakitnya lalu kemudian diberi obat agar domba-domba tersebut pulih kembali tanpa dipungut biaya.

“Kami memang punya program pengobatan ternak, pendampingan, penyuluhan, dan pemeliharaan. Kegiatan itu dilaksanakan terutama bila ada permintaan dari masyarakat,” kata Kabid Peternakan Dispangtan Kota Cimahi Mita Mustikasari, Senin (7/6/2021), dikutip, Selasa (8/6/2021) dari laman Jabar.inews.id.

Menurut Mita, lokasi pelayanan itu tersebar di 15 kelurahan di Kota Cimahi. Hal itu pula tergantung permintaan dari pemilik yang hewannya sedang sakit.

Biasanya ada dua petugas, terdiri dari dokter hewan dan paramedis yang siap turun langsung ke lapangan untuk memberikan pengobatan.  Beragam jenis hewan yang di pelihara peternak di Kota Cimahi umumnya seperti sapi, domba, dan ayam.

Baca Juga :   Peternakan Babi di Dusun Kauman Karanganyar Resahkan Warga, Peternak Diminta Lakukan Sterilisasi

Penyakit yang diketahui biasanya menyerang hewan ternak jenis domba ialah di antaranya, orf (gatal di mulut), pink eye (belek), coccidiosis (berak darah), gastroenteritis (infeksi usus), infestasi kutu (sheep ked), dan helminthiasis (gangguan saluran cerna).

Sedangkan penyakit yang sering menyerang ternak di Kota Cimahi adalah pink eye. Penyakit tersebut kerap muncul saat musim kemarau.

Penyakit ini tak berbahaya dan tergolong penyakit ringan. Sedangkan untuk pengobatan cukup diberi salep mata. Penyakit lain yang sering menyerang hewan ternak adalah orf yang virusnya menular ke hewan lain dan manusia.

“Biasanya penyakit pink eye ini sering dialami kambing dan domba. Hewan yang sakit harus dipisahkan supaya virusnya tidak menularkan ke hewan yang lain,” ujar Mita.

Program SMS Pisan Banyuwangi Maksimalkan Indukan Sapi Beranak Setahun Sekali

Selain Dispangtan Cimahi, sebelumnya Pemkab Banyuwangi juga meluncurkan program SMS Pisan yang merupakan akronim dari Sapi Manak Setahun Pisan (sapi beranak setahun sekali).

Program ini pun memberikan treatment kepada indukan sapi yang mengalami gangguan reproduksi sehingga mereka dapat bereproduksi secara maksimal, yakni satu tahun sekali.

Baca Juga :   UPT Peternakan NTT Libatkan 5 Desa Kawasan Besipae Kembangkan Pakan Hijauan

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani merilis langsung program tersebut di sela-sela kegiatan bupati ngantor di desa (Bunga Desa) di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo.

“Semoga dengan program SMS Pisan ini, populasi sapi di Banyuwangi bisa semakin meningkat yang ujungnya tentu meningkatkan kesejahteraan kawan-kawan peternak,” kata Ipuk, Jumat (30/4/2021), melansir dari situs Beritajatim.com.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Arief Setyawan menjelaskan bahwa program SMS Pisan ini diadakan untuk mendorong agar sapi-sapi di Banyuwangi dapat bereproduksi dan berproduksi secara maksimal.

“Target kami, setiap induk sapi bisa beranak setahun sekali. Dalam program ini, kami siapkan tim yang bertugas mendampingi sapi-sapi yang bermasalah agar bisa produktif kembali. Sehingga usai melahirkan, saat anaknya usia tiga bulan, si induk sudah bisa bunting lagi,” jelas Arief.

Dalam pelaksanaannya nanti, Arief melanjutkan, tim akan melakukan pendampingan kepada sapi-sapi yang mengalami gangguan reproduksi. Sapi yang tidak birahi pun akan dibuat birahi…baca selengkapnya dengan klik di sini. (*)

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani