Harga Telur di Berbagai Daerah Anjlok, Jawa Timur Terendah

  • Bagikan
Foto: Republika.co.id
Foto: Republika.co.id

Mediatani – Harga telur menjadi polemik di kalangan pengusaha peternak ayam petelur belakangan ini. Nasib mereka menjadi sorotan lantaran harga telur yang anjlok.

Rendahnya harga telur ini terjadi di beberapa daerah di Tanah Air yaitu Maluku Utara, Gorontalo, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Riau, Lapung, Sulawesi Barat dan Jawa Timur. Hal ini membuat para peternak tak punya pilihan.

Hasil penelusuran mediatani.co, Selasa, 14 September 2021, sentra produksi Jawa Timur tercatat dengan harga terendah yakni Rp 18.750 per kilogram.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis nasional menunjukkan, harga telur ayam ras di Jawa Timur tersebut merupakan yang terendah sejak awal tahun. Dimana harga telur ayam ras per 6 September 2021, Jawa timur masih menjadi yang paling terendah.

Adapun harga telur ayam ras di daerah Jawa Tengah sebesar Rp 18.900 per kg, DI Yogyakarta dengan harga Rp 19.250 per kilogram. Sedangkan di Banten Rp 19.350 per kilogram.

Menyusul harga telur di DKI Jakarta yakni Rp 20.000 per kilogram. Sedangkan harga telur ayam tertinggi di daerah Papua mencapai Rp 37.250 per kilogram.

Seperti yang dilansir pada laman katadata.co.id, Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang menjadi penyebab harga tersebut mengalami penurunan.

Baca Juga :   Menko Perekonomian Apresiasi Kinerja Mentan Terhadap Peningkatan Ekspor Nasional

Stok telur yang mengalami penambahan itu tidak sebanding dengan permintaan, sebab permintaan pasar sepi akibat PPKM yang diberlakukan untuk mencegah penularan Covid-19. Namun, faktor utamanya adalah naiknya harga pakan komersil.

Wakil Ketua Paguyuban Peternak Ayam Rakyat Nasional (PPRN) Suryono mengatakan, mahalnya harga pakan komersil mengharuskan peternak menjual telur dengan harga murah. Hal ini agar perputaran bisnis tetap berjalan dan bisa membeli pakan ayam lagi, meski akhirnya membuat peternak merugi.

Naiknya harga pakan dipengaruhi oleh kenaikan bungkil kedelai di pasar global. Meskipun peternak sudah mengakali dengan membuat pakan alternatif, namun diperlukan juga jagung sebagai pakan utama ayam ras petelur.

Harga jagung juga mengalami kenaikan dan pasokan menjadi sulit didapat oleh peternak. Hingga salah satu sosok peternak menjadi perbincangan publik yang melakukan aksi protes dengan membentangkan poster “Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar”. Ini dilakukan saat kunjungan Presiden Jokowi di Blitar pada Selasa, 7 September 2021.

“Bukan hanya itu, harga anakan ayam ras petelur juga mengalami kenaikan sejak beberapa tahun terakhir. Berangkat dari masalah-masalah ini,  banyak peternak yang memilih menjual asetnya demi menyambung hidup,” cerita suryono seperti yang dikutip pada halaman kompas.tv, Jumat, 17 September 2021.

Baca Juga :   Kunjungi BB-Vet, Kementan Pastikan Kualitas Produk Asal Hewan

Di beberapa daerah, pengusaha ayam petelur memilih tetap bertahan untuk memelihara ayam meski harga telur anjlok. Seperti yang dilakukan I Nyoman Rajendra peternak asal Bali.

Menurut I Nyoman, pada Agustus dan September memang telah mengalami penurunan harga yang berakibat minimnya kegiatan upacara keagamaan di Bali dan pariwisata belum buka. Namun, penurunan harga sudah terjadi sejak pandemic Covid-19.

“Jika harga telur dibawah Rp 35 ribu/rak, kita peternak sudah tidak dapat apa-apa. Sebab tidak menutupi biaya pakan yang terus mengalami kenaikan, sampai sekarang harganya Rp 355 ribu/sak atau per 50 kilogram.

Polemik anjloknya harga telur ayam akhirnya mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Pertanian dan Kementerian perdagangan tengah menyiapkan skema untuk membantu para peternak ayam petelur, yakni lewat cara menekan harga pakan ternak.

Dengan skema subsidi harga jagung, yang merupakan komponen penting pakan bisa ditekan menjadi Rp 4.500 per kilogram ditingkat peternak dengan pasokan 30.000 ton.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani