Hendak Menanam di Lahan Miring? Ini yang Harus Kamu Perhatikan

  • Bagikan
Sumber foto: merdeka.com

Mediatani – Kebutuhan pangan yang semakin meningkat, mengharuskan para petani untuk memproduksi hasil pertanian yang lebih banyak. Tetapi kendala yang dihadapi oleh petani saat ini adalah minimnya lahan, sehingga terkadang memaksa mereka untuk menanam di lahan yang miring.

Para petani yang menanam di lahan miring pun seringkali menemui kendala. Pasalnya, risiko terjadinya erosi dan longsor sangat tinggi di lahan seperti ini. Sehingga, kebanyakan petani lebih memilih untuk menanam tanaman keras dibanding tanaman pangan.

Tahun 1971, di Filipina telah diperkenalkan sebuah metode dalam menata lahan miring oleh Mindanao Baptist Rural Life Center (MBRLC). Teknik ini disebut dengan teknik SALT (Sloping Agriculture Land Technology) yang telah diakui sebagai salah satu metode terbaik dalam menata lahan miring.

Teknik SALT ini diyakini berguna untuk meminimalkan risiko erosi, meningkatkan produksi tanaman, membantu mengembalikan struktur dan kesuburan tanah.

Selain itu teknik ini pun cukup mudah dipraktekkan karena menggunakan alat sederhana dan tidak terlalu banyak tenaga sehingga cocok untuk dikembangkan di lahan sempit dengan modal yang tidak begitu besar.

Lantas apa saja yang harus dipersiapkan saat hendak menanam di lahan miring? Dilansir dari laman pertanianku.com berikut langkah-langkahnya.

Baca Juga :   Gelar Giling Perdana Tebu, PG Bone Target 23 Ribu Ton Gula

1. Tahap persiapan

Langkah pertama adalah menyiapkan frame A yang terbuat dari bambu. Frame ini berfungsi sebagai pengukur dan menentukan titik lintasan. Untuk menentukan titik lintasan, akan lebih cepat bila dikerjakan oleh dua orang. Ada yang bertugas untuk memegang alat dan ada yang bertugas untuk menancap patok.

Banyaknya patok yang dibutuhkan disesuaikan dengan luas lahan. Pilih letak garis lintas yang akan dibentuk, namun akan lebih baik jika memulainya di lintasan yang paling tinggi. Setelah garis lintasan sudah dibuat, lakukan pembajakan di antara garis tersebut.

2. Mulai menanam

Di setiap garis lintasan, buatlah dua buah alur yang jaraknya ½ meter. Hal ini dilakukan agar terbentuk sebuah lintasan gang. Di setiap alur gang, sebaiknya ditanam tumbuhan/pohon yang bisa dijadikan sebagai sumber nitrogen.

Salah satu tanaman yang direkomendasikan adalah leguminosa. Tanaman ini mampu tumbuh di areal yang kering sekalipun. Setelah itu, kamu bisa memulai membudidayakan tanaman pangan.

Dalam memilih tanaman pangan, sebaiknya kamu memilih tanaman yang tidak tinggi untuk lereng yang paling atas. Namun, lebih bagus lagi jika memilih tanaman yang umurnya relatif pendek.

Baca Juga :   Rektor IPB: Tidak Ada Alasan untuk Impor Beras

3. Merapikan tanaman

Setelah menanam tanaman pokok, jangan lupa untuk selalu memantau tanaman nitrogenmu. Lakukan pemangkasan pada tanaman nitrogen milikmu sebulan sekali, tanpa membuang potongan daun atau tangkainya.

Hal ini dimaksudkan agar potongan daun dan tangkai yang dibiarkan di atas permukaan itu dapat berfungsi baik untuk mencegahan air hujan yang jatuh. Selain itu, potongan tersebut juga bisa menjadi pupuk organik. Lakukan rotasi tanaman setelah masa tanam dan panen selesai.

Sebaiknya, tanaman pangan seperti kacang, buncis, wortel, kentang, ubi, melon semangka dengan rotasi tanaman kacang terlebih dulu sebelum tanaman buah. Dengan cara ini, kesuburan tanah diyakini bisa tetap terjaga.

4. Membangun teras hijauan

Untuk menghindari erosi, kamu dapat menggunakan tanaman sebagai pagar agar tumbuh dengan sehat. Jika ada ranting yang berguguran, abaikan saja. Semakin lama kamu merawat pelengkap ini, maka akan semakin bagus pula untuk tanaman.

Areal lahan akan selalu kelihatan hijau. Jika tanaman tersebut dapat tumbuh dengan subur, kamu akan melihat perpaduan dari keindahan, seni, serta alam yang terlihat sangat hijau.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani