Kaum Perempuan Bombana Dilatih Olah Limbah Rumah Tangga

  • Bagikan
Kerajinan hasil olahan limbah rumah tangga

Mediatani – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap pentingnya menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

Salah satu upaya yang dilakukan yaitu menyelenggarakan kegiatan Bina Manusia yang merupakan rangkaian Program Pengembangan Kawasan Pesisir Tangguh (PKPT) di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara pada awal bulan lalu (7/6/2021).

Dalam kegiatan tersebut, KKP melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) melatih para kaum perempuan di Kabupaten Bombana untuk mengolah dan memanfaatkan limbah rumah tangga sehingga dapat menjadi alternatif mata pencaharian mereka.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Tb. Haeru Rahayu menyampaikan kegiatan Bina Manusia yang menjadi rangkaian dari Program PKPT ini bukan hanya sekedar memberikan pemahaman terhadap bencana dan dampak yang ditimbulkan dari limbah rumah tangga, namun juga memberikan ide-ide inovasi yang dapat dilakukan masyarakat.

“Di Bombana, kami fokus pada kaum perempuan. Mereka diajak untuk mengolah limbah rumah tangga agar dapat dimanfaatkan sebagai mata pencaharian alternatif sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim di wilayahnya,” ungkap Tebe.

Tebe juga membahas tentang isu gender yang menjadi bagian penting dalam perubahan iklim. Menurutnya, masalah kesenjangan antar gender masih kerap dirasakan dalam pekerjaan, partisipasi kerja dan pendapatan atau upah di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Baca Juga :   Petani Semangka di Kabupaten Muba Panen 20 Ton Semangka

Sementara, saat laki-laki sebagai kepala keluarga tidak memperoleh penghasilan maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh keluarga. Untuk itu, Tebe mendorong perempuan atau kaum emak-emak untuk berperan lebih sigap dalam menyikapi perubahan iklim sekaligus sebagai aktivis penggerak dalam rumah tangga.

Program PKPT sendiri baru kembali dilakukan pada tahun 2020 hingga saat ini dengan kurun waktu intervensi selama 3 (tiga) tahun setelah sebelumnya pernah dilaksanakan mulai tahun 2012 hingga 2016.

Lokasi yang ditetapkan untuk menjalankan program ini, diantaranya adalah wilayah yang rawan bencana dan rentan terhadap perubahan iklim, memiliki potensi ekonomi lokal unggulan, serta adanya degradasi lingkungan pesisir.

Pada kesempatan ini, pelaksanaan kegiatan Bina Manusia yang diberikan terdiri dari pelatihan keterampilan pengelolaan dan pemanfatan limbah rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan dan estetika lingkungan dengan target para kaum perempuan.

Hal ini juga sesuai dengan salah satu tujuan Program PKPT, yakni mendorong masyarakat dan seluruh pihak untuk aktif berpartisipasi dalam melaksanakan aksi secara lokal untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana dan dampak perubahan iklim.

Sementara itu, Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Muhammad Yusuf menyebutkan 3 (tiga) aspek yang menjadi fokus kegiatan PKPT yang dilaksanakan di Kabupaten Bombana yaitu aspek manusia, aspek siaga bencana dan perubahan iklim serta aspek kelembagaan.

Baca Juga :   Buru Teripang di Natuna, Dua Kapal Ikan Asal Vietnam Ini Dilumpuhkan KKP

“Saat ini, kegiatan Bina Manusia bagi para kaum perempuan di Bombana melingkupi pelatihan mengolah sampah plastik menjadi kerajinan tangan dan pembuatan kompos dari sampah basah,” terangnya.

Yusuf berharap dengan masuknya Program PKPT ke Kabupaten Bombana ini, masyarakat menjadi lebih memahami ancaman bencana, dampak perubahan iklim serta menentukan langkah mitigasi dan adaptasi di lokasi tersebut.

Saat ini perubahan iklim merupakan isu nasional yang mendapat perhatian yang sangat besar. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 telah menjadikan isu perubahan iklim sebagai salah satu dari 7 agenda pembangunan, yaitu membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim.

Di sektor kelautan, KKP telah mendapat tugas sebagai penanggung jawab nasional isu kelautan dalam perubahan iklim. Tantangan ini perlu dijawab dengan secara sungguh-sungguh melaksanakan pembangunan yang rendah karbon dan berketahanan iklim.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sendiri telah menginstruksikan jajarannya agar memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan, terutama di wilayah pesisir yang rentan berbagai ancaman baik yang berasal dari aktivitas domestik manusia, industri, perhubungan laut, dumping maupun aktivitas lainnya.

Banner Iklan @a2tani.id
  • Bagikan
Banner Iklan Mediatani
Banner Iklan Mediatani